Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘parenting’ Category

Anak-anak jaman sekarang, sepertinya sudah menganggap orang tua seperti layaknya seorang teman, tanpa malu dan ragu, anak-anak bisa leluasa berbicara, berdebat bahkan mengomel kepada orang tuanya, ataupun gurunya.

Beberapa kali saya mengalaminya, dan pernah juga saya menjadi saksi di saat ada kegiatan sekolah, anak-anak akan berangkat camping, lalu ada salah satu guru yang ingin bergabung di mobil truk, tapi oleh anak-anak ditolak, ” Bapak jangan di sini dong, pindah aja, di sini udah penuh nih, sempit, bla bla bla” si pak guru hanya senyum dan tetap ikut di truk tersebut. Saat itu saya yang menyaksikan langsung bagaimana anak-anak bisa sangat cueknya mengusir gurunya, dan saat itu juga saya langsung tegur anak saya, bahwa tindakan tersebut tidak sopan dan menyakiti perasaan guru tersebut. Walaupun yang berteriak ke guru tersebut bukan hanya anak saya, tetapi sebagai orang tua, ya saya harus menegur anak saya terlebih dahulu. Anak saya langsung pasang muka cemberut, ngga suka ditegur oleh saya.

Memang sih anak-anak sekarang lebih kritis, cerdas dan mampu mengungkapkan ide-ide mereka secara langsung tanpa malu-malu, yang kadang cenderung tidak sopan kalau menurut saya. Apabila hal ini terjadi dengan saya, di saat saya menyuruh anak saya melakukan sesuatu dan dia protes, bicara yang tidak sopan, tentunya saya langsung protes,” yang sopan ya bicara sama orang tua” , dan seketika, anak saya akan langsung sadar kalau itu tidak baik.

Mendidik anak-anak agar bisa mempunyai budi pekerti yang baik, sopan, suka menolong tentunya tidak mudah, harus diulang berkali-kali, jangan merasa bosan dan patah semangat.Kita juga harus berdoa kepada yang maha pencipta,agar bisa mempunyai ilmu, kekuatan dan kesabaran juga kelembutan hati untuk bisa menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak kita.

Minggu lalu, kami pergi menginap ke puncak, di hotel Seruni,Cisarua, dan sekarang setelah sekian tahun tidak menginap di sana, ternyata sudah bertambah fasilitas untuk bermain anak-anak.Ada kolam renang baru dengan perosotan, dan flying fox di atas pasir, lebih seru dan menyenangkan.Ada satu kejadian yang membuat saya bangga terhadap anak saya yang bontot, di saat ayah saya yang sekarang usianya tentu sudah tidak muda lagi, sudah hampir 73 tahun, ayah saya berjalan menuruni tangga untuk menuju kolam renang di seruni 1, sedangkan kami menginap di seruni 3, lokasinya lumayan jauh bila berjalan kaki. Ketika ayah saya berjalan di belakang saya, tiba-tiba Dammar yang berjalan di depan, menghampiri ayah saya, dan langsung mengambil bawaan plastik yang berisi baju ganti ayah saya dan menggandeng tangan ayah saya.

Tanpa bicara sepatahpun, dengan tindak tanduk yang sangat membanggakan saya sebagai orang tua tentunya dengan perhatian anak saya kepada datuknya. Saya langsung memberikan pujian kepada anak saya, ” waah adek pintar ya, baik banget sama datuknya”.

Alhamdulilah semoga anak-anak saya mempunyai perhatian dan concern terhadap orang yang lebih tua, orang yang membutuhkan bantuan dan juga terhadap lingkungan sekitarnya.

 

 

 

Read Full Post »

Artikel ini udah pernah saya baca, dan artikel seperti ini adalah artikel yang harus saya baca berulang-ulang, agar bisa sering menjadi reminder buat diri sendiri selaku orang tua yang harus banyak menahan sabar dan banyak belajar.

Saya share di sini ya, penulisnya entah siapa, tapi cukup bagus buat menjadi bahan pembelajaran kita sebagai orang tua.

Berbicara Kepada Anak-anak*

Anda mungkin tahu rasanya, bagaimana berkomunikasi dengan anak-anak. Terlebih lagi, anak-anak sendiri. Berbicara kepada anak-anak, sebetulnya menyenangkan walau kadang-kadang mengesalkan. Untuk itu, diperlukan kehati-hatian, mengingat pekanya perasaan mereka, mengingat masih sedikit dan sempitnya wawasan mereka, dan masih polosnya cara berpikir mereka.

Di sela semua “kelemahan” itu, ada satu kekuatan terbesar yang dimiliki hanya di saat tertentu dalam hidup setiap manusia. Kekuatan yang dimiliki hanya di saat manusia masih menjadi anak-anak, yaitu daya ingat dan daya cerna yang luar biasa pesat dan hebatnya. Berhati-hatilah. Berhati-hatilah jika Anda bermasalah di kantor. Jangan sampai kekesalan Anda tertumpah pada diri dan perasaan mereka. Apapun yang buruk dari mereka, akan berasal dari perkataan Anda sebagai orang tua. Berhati-hatilah jika Anda bermasalah dengan pasangan atau keluarga Anda. Jangan sampai kemarahan Anda terlampiaskan pada perasaan dan jiwa yang masih benar-benar apa adanya. Apapun yang buruk dari mereka, akan berasal dari perkataan Anda sebagai orang tua.

Berhati-hatilah jika jalan hidup Anda tidak sesempurna yang Anda minta. Jangan sampai kekecewaan Anda menerpa pada hati dan pikiran suci mereka. Sebab Anda akan menciptakan anak-anak yang penuh cacat dan cela di dalam jiwanya. Apapun yang buruk dari mereka, akan berasal dari perkataan Anda sebagai orang tua. Berikut ini adalah tips dari seorang konsultan komunikasi yang mendalami persoalan komunikasi antar pribadi, termasuk berkomunikasi dengan anak-anak.

*TERSENYUMLAH DENGAN TULUS PADA MEREKA*

Smile! And mean it! Lebih dari 50% komunikasi Anda, dilakukan dengan bahasa tubuh termasuk ekspresi wajah. Saat berbicara kepada anak-anak, persentase itu akan bertambah. Sebab bahasa tubuhlah yang lebih mereka pahami, ketimbang bahasa intelektual Anda sebagai orang dewasa.

*JANGANLAH MERENDAHKAN MEREKA* Janganlah berbicara dengan merendahkan mereka. Adalah baik untuk mengetahui terlebih dahulu, seberapa jauh pemahaman mereka tentang suatu topik. Snorklinglah sebelum diving.

*GUNAKANLAH ALAT PERAGA* Gunakan sesuatu yang anak-anak dapat melihat, mendengar dan menyentuhnya. Gunakanlah alat peraga secukupnya. Tidak perlu kebanyakan dan bertaburan. Anda tahu bagaimana anak-anak. Dengan alat peraga, mereka akan lebih mudah mengingat berbagai hal.

*SEDERHANAKANLAH BICARA ANDA* Anak-anak akan cepat lelah dengan deskripsi yang terlalu detil, dan dengan teori serta konsep. Gunakanlah cerita, untuk mendemostrasikan informasi yang akan Anda sampaikan. Buatlah proses itu menjadi fun.

*BERTANYALAH PADA MEREKA* Pertanyaan akan membuat anak-anak berpikir dan terlibat. Menjawab pertanyaan, bertanya, mengutarakan pendapat, dan melakukan evaluasi, adalah lebih menyenangkan bagi mereka dalam memahami berbagai fakta.

*ANTUSIASLAH DI HADAPAN MEREKA* Jadilah antusias dan enerjik. Ini akan membuat Anda dan mereka tetap terjaga dan tertarik pada topik.

*PAKAILAH KACAMATA MEREKA* Anak-anak melihat berbagai hal dengan cara pandang yang berbeda. Mereka melihatnya dengan kacamata mereka, bukan kacamata Anda. Concern, prioritas dan sistem nilai mereka, juga berbeda. Temukanlah apa yang penting bagi mereka, sebelum berbicara. Doronglah mereka untuk meminta penjelasan, jika mereka tidak memahami apa yang Anda katakan.

*MEREKA TIDAK PEDULI ANDA SEBAGAI PEMBICARA* Mereka, tidak peduli apakah Anda seorang pembicara yang hebat atau tidak. Apa yang mereka inginkan, hanyalah kejujuran, antusiasme, dan respek. Jika Anda melakukan kesalahan berbicara atau lupa akan sesuatu, tak perlu khawatir. Anak-anak itu menyenangkan, sebab mereka tak akan menghakimi Anda. Teruskan saja bicara Anda.

*JUJURLAH PADA MEREKA* Jika Anda tidak tahu jawaban dari pertanyaan mereka, jujur saja. Tak usah Anda karang-karang jawabannya. Anak-anak, biasanya mengetahui jika Anda ngibul. Bilang saja nanti akan Anda cari jawabannya. Dan ingatlah, mereka akan menagihnya.

*LIBATKANLAH MEREKA* Libatkanlah mereka. Jika ada bagian dari bicara Anda di mana mereka bisa tampil ke depan, melakukan penghitungan, atau membicarakan sesuatu, berikan kesempatan itu pada mereka.

*JIKA MEREKA HARUS DUDUK DAN DIAM:

TEKNIK ABC*

Ada saat atau sesi tertentu di mana anak-anak memang diharapkan hanya duduk dan mendengarkan. Untuk sesi seperti ini, Anda hanya perlu melakukan beberapa penyesuaian.

*A: Attention Span* Attention span atau rentang perhatian, adalah faktor yang membedakan kemampuan mendengar, antara anak-anak dan orang dewasa. Setelah dewasa, Anda telah bisa mengembangkan kemampuan untuk lebih fokus dan lebih lama bertahan mendengarkan sesuatu. Anak-anak belum bisa sejauh itu. Perhatikanlah acara bagus untuk anak-anak di televisi. Semuanya dipecah-pecah ke dalam berbagai segmen yang pendek-pendek. Dibuat seperti itu, agar anak-anak tetap duduk dan mendengarkan. Jika anak-anak terlibat dalam suatu aktivitas yang tidak dipilihnya sendiri, mereka akan lebih enggan mendengarkan. Prediksilah secara realistis, berapa lama mereka akan tetap fokus.

*B: Break it Up* Jika Anda berbicara pada sekelompok anak-anak, pecahlah mereka menjadi kelompok-kelompok kecil. Jika bicara Anda akan panjang atau menyangkut beberapa isu sekaligus, pecahlah bahan bicara Anda menjadi potongan-potongan yang sederhana dan mudah dicerna.

*C: Children are Still Children* Seberapa pun besarnya energi dan antusiasme Anda, mereka tak akan pernah melihatnya dari perspektif Anda. Selogis apapun pernyataan Anda, mereka tak akan pernah melihatnya seperti Anda melihatnya. Cobalah untuk memasuki sudut pandang mereka, kemudian bertanyalan WIIFM (What’s In It For Me?). Sebab, mereka juga punya yang namanya minat dan ketertarikan pada sesuatu.

*KESIMPULAN*

Sebagian besar dari kita, adalah orang-orang dewasa yang tak sempurna, manusia-manusia yang penuh dengan cacat dan cela. Sebagian besarnya, disebabkan oleh kata dan bicara para orang tua kita. Kita masih bisa merasakan bekas dan carut-marutnya. Itulah luka lama kita, yang kecil kemungkinan bisa hilang selamanya. Kita tidak akan menyalahkan para orang tua. Sebab mereka hanya berjalan sesuai dengan perkembangan ilmu dan pengetahuan, sejalan dengan impian dan harapan, seiring dengan wawasan dan kemampuan.

Begitulah yang telah terjadi, dan kita sudah tidak bisa apa-apa lagi, kecuali membangun masa depan. Apa yang terpenting, adalah menciptakan masa depan yang lebih baik dan makin baik. Masa depan dari anak-anak kita. Kita tak ingin mereka sama tak sempurnanya dengan kita. Kita ingin mereka lebih baik dari kita. Kita tak ingin semua cacat dan cela menggores lagi, seperti yang terjadi pada diri kita sendiri. Kita tak ingin semua itu datang dan datang lagi. Oleh sebab itu, janganlah kita ulangi kembali.

Read Full Post »

Anak saya sudah masuk usia pubertas, walaupun dia baru saja berulang tahun 10 tahun, yang menurut kami orang tuanya, masih anak-anak.Sempat kaget juga, kok ternyata dapat haidnya lumayan cepat dibanding teman-teman lain seusianya.Kalau menurut pengalaman saya sebagai ibunya, saya mendapatkan haid pertama kali pada usia 13 tahun, kelas 2 SMP, jadi saya pikir, anak perempuan saya juga akan mengalami hal yang sama, tapi ternyata beda, dia lebih duluan dari pada saya.

Edukasi tentang haid untuk anak, ternyata perlu sekali, bahkan sebelum anak mendapatkan haid.Anak saya sudah tahu kalau dapat haid itu berarti akan keluar darah dari vagina, karena dia sering mandi bareng sama saya, dan juga sering melihat saya membeli pembalut apabila saya mendapatkan haid.Selain ilmu reproduksi wanita, ternyata mental juga harus disiapkan lho, pengalaman saya, ternyata anak saya sempat shock, sedih dan ngga terima kalau dia harus dapat haid di usia 10 tahun, sedangkan kakak kelasnya juga masih banyak yang belum dapat mens.

Kemarin, saya putuskan, saya ambil cuti dadakan,  saya harus mendampingi dia, di saat dia mendapatkan haid pertama kali, dia nangis waktu saya tawarkan untuk pergi ke sekolah.

Saya: Kamu, besok mau berangkat ke sekolah ngga?

Anak: Ngga mau ah, besok itu ada pelajaran Olah raga, dan aku takut kalau darah aku keluarnya banyak, aku malu kalau ada yang tau, dan juga kalau pas waktunya sholat bersama, terus kan katanya kalau pas dapat haid, aku ngga boleh sholat, kalau aku ngga sholat, dan ada yang tau, ntar aku diledekin, ntar ada kakak kelas yang bilang,”kok udah dapat mens sih, aku aja belom yang kelas 5″

Itu sedikit obrolan saya dan anak saya, dia memang anaknya sensitif dan agak peka juga pemalu, dia sudah membayangkan akan dibully/diejek teman-temannya apabila teman-temannya tahu kalau dia sudah dapat haid.

Nah, disinilah tugas  saya sebagai ibu, saya ingin menjadi orang pertama yang dia curhatin, apalagi soal sesuatu yang berhubungan dengan kewanitaan, walaupun bapaknya juga sudah menawarkan, kalau ada apa-apa, jangan malu-malu, tapi kan ya.. tetap aja namanya perempuan dan sudah beranjak pubertas, ada rasa sungkan terhadap bapaknya.

Jadi, waktu dia cerita soal kekhawatirannya, saya beri tahu, kalau soal dapat haid itu, ngga bisa kita yang atur, itu sudah tergantung dari tubuh kita sendiri, banyak faktornya, bisa dari makanan, hormon, dan lain-lain.Saya juga tambahkan soal keinginan saya punya anak lagi, apa iya, mamah bisa maksa untuk hamil, kalau memang tubuh mama belum bisa mendapatkan bayi lagi, itu semua tergantung dari kehendak Allah juga, dan setiap anak bisa berbeda-beda, kamu  normal kok, usia mendapatkan haid pertama di usia 10 tahun,  malah ada yang dari usia 8 tahun, tetapi memang jarang, tapi ada.

11 Mei, ultah ke 10 tahun

11 Mei, ultah ke 10 tahun

Saya juga sedang berusaha memberikan pengertian terhadap adiknya, karena adiknya akan mengejek dan bilang ke orang-orang kalau kakaknya dapat haid, dan malah jadi bikin kakaknya tambah malu.Anak laki-laki saya juga harus mengerti kalau perempuan itu memang kodratnya dapat haid, dan juga pada saat haid diperbolehkan tidak melakukan sholat, jadi wajar kalau kakaknya ngga sholat wajib, sedangkan adiknya harus.

Saya mencoba memberikan pengertian terhadap anak perempuan saya, dan memberikan dukungan, juga pemahaman akan kebersihan, harus sering mengganti pembalut, dan bagaimana cara memakai pembalut yang benar.Ketika saya beri tahu bahwa biasanya haid itu terjadi dalam waktu 7 hari, dia bilang, “Mamah janji ya, 7 hari udah selesai, awas lho, kalau mamah bohong!”…. tuh kan komennya masih anak-anak banget…hehehehe. Dan ketika saya bilang,” waaah anak mamah udah gede ya, udah gadis, udah dapat mens”, eeeeh dia nangis lagi, sambil memeluk saya, katanya aku ngga mau gede, aku masih kecil…..oohhh my little baby….you are always be my baby, you know…..

I wish I can always be your best friend

I wish I can always be your best friend

Sepertinya memang dia belum siap mental, kecepetan buat dia, di usia 10 tahun, untuk mendapatkan haid yang pertama, tetapi semoga seiiring berjalannya waktu, dia sudah bisa menerimanya dan bisa menghadapi kondisi yang kurang nyaman.

Apabila semuanya normal, dan berjalan lancar, sepertinya belum perlu untuk konsultasi ke dokter anak ya, kecuali mungkin apabila haidnya lebih dari 7 hari, atau lebih dari 3 bulan tidak dapat haid lagi setelah mendapatkan haid yang pertama.

There is always be the first time…..I love you baby….

wefie bareng

wefie bareng

 

 

Read Full Post »

Bila Anak Susah Diatur

Posted by Farid Ma’ruf pada 4 Agustus 2009

Assalaamualaikum Wr.Wb.

Saya seorang ibu yang memiliki anak laki-laki berusia 8 tahun. Akhir-akhir ini anak saya susah diatur. Selalu saja sulit kalau disuruh mandi sore, bandel bila disuruh membereskan buku-bukunya yang berserakan, tidak mau disuruh gosok gigi sebelum tidur, dan sebagainya. Kalau pas jam sekolah saya agak merasa lega dan terbantu, tetapi begitu pulang suasana rumah jadi kacau. Rumah jadi berantakan, rasanya tidak selesai-selesai saya merapikan rumah. Kalau sudah begini saya menjadi sering marah-marah dan stres. Bagaimana mengendalikan emosi saya ya bu. Apakah saya biarkan saja apa maunya anak, atau perlu sedikit keras agar dia mau menuruti perintah saya. Apa sebetulnya langkah terbaik yang bisa saya lakukan. Mohon bantuannya.

Wassalaamu’alaikum Wr.Wb.

Nanda
Yogyakarta

Wa’alaikumsalam Wr.Wb.

Ibu Nanda yang baik,

Saya bisa memahami kesulitan dan kegelisahan Anda. Mendidik anak memang bukan pekerjaan mudah, butuh ilmu dan kesabaran. Saya yakin Anda sudah memahami ini, tapi dalam prakteknya kadang-kadang memang suka terlupakan. Anak yang susah diatur, biasanya berawal dari lemahnya aturan yang dibuat orang tua,  ketidakmampuan orang tua untuk berkata tidak pada anak, dan disiplin yang tidak konsisten. Ada beberapa ekspresi anak saat melakukan pembangkangan terhadap aturan. Anak bisa melakukan perlawanan pasif, misalnya dengan menunda untuk menurut, mencibir, cemberut (diam dan menghindar) dan merengek. Ada juga anak yang membangkang  dengan melakukan tindak agresif secara verbal atau melontarkan makian.

Ibu Nanda yang baik,

Mempunyai anak yang patuh tentunya sangat menyenangkan. Keadaan ini bisa diwujudkan jika anak dan orang tua dapat melakukan kerja sama dengan baik.  Jangan lupa sertakan setiap alasan untuk setiap perlakuan, dan lakukan dengan  cinta kasih. Tuntutan yang ditujukan pada anak harus diseimbangkan dengan kehangatan, alasan, penghargaan dan kepekaan terhadap kebutuhan anak. Ini berarti orangtua harus dapat bertindak tegas, tapi bukan mendominasi. Hal-hal yang bisa Anda lakukan agar anak tidak membangkang antara lain, pererat hubungan dengan anak, dan bersikaplah peka terhadapnya. Semakin tanggap terhadap kebutuhan anak, Anda akan semakin dapat berharap, anak akan patuh terhadap harapan dan perintah Anda. Sikap penurut akan muncul, pada anak yang memiliki orang tua yang mau mendengarkan sinyal-sinyal yang diberikannya. Misalnya segera menanggapi tangisannya. Orang tua yang tidak peka, akan membentuk anak menjadi seorang yang sulit tanggap terhadap perintah orang tuanya..

Ibu Nanda yang baik,

Anak adalah amanah yang diberikan Allah kepada para orangtua. Sebagaimana layaknya sebuah titipan, maka Anda harus menjaganya dengan baik. Apalagi tugas utama seorang ibu memang mendidik anak. Didiklah dia dengan kasih sayang, karena mendidik dengan kasih sayang jauh akan lebih baik dari pada dengan marah-marah. Apa yang akan Anda dapatkan dengan cara seperti itu? Ternyata bukan sebuah kebaikan tapi  malah akan membuat Anda semakin stres, dan satu hal yang kadang tidak kita sadari bahwa anak adalah peniru yang ulung. Anak-anak akan banyak belajar dari apa yang mereka lihat dan dengar. Jadi jangan salahkan dia kalau suatu ketika Anda melihat si kecil, ketika menyelesaikan persoalan dengan marah-marah juga. Belajarlah mengelola emosi dengan baik, karena Anda adalah model terdekat buat anak-anak. Sadarilah bahwa mendidik dengan emosi tidak akan menyelesaikan masalah. Cobalah Anda pahami dengan cermat karakter dan perkembangannya. Belajarlah berpikir positif terhadap perilakunya. Bukankah anak-anak seusianya masih terus  dalam proses belajar. Jika Anda terpaksa harus memberikan hukuman gunakan hukuman yang masuk akal dan sesuai dengan kesalahan. Yang juga tidak kalah penting adalah selalu mendoakannya. Semoga Allah SWT  memberikan kemudahan dan kesabaran. []

Sumber : Tabloid Media Umat

Read Full Post »

Agar Anak Tidak Keras Kepala

Posted by Farid Ma’ruf pada 1 Maret 2011

Pertanyaan :

Assalamu’alaikum Wr.Wb
Ibu Pengasuh Rubrik Konsultasi, saya memiliki anak perempuan yang sekarang sudah kelas 5 SD. Sifatnya keras sekali, kalau dinasihati tidak mau mendengarkan. Bagaimana menghadapi anak yang keras dan maunya sendiri seperti ini? Terus terang saya memang juga keras. Saya suka ngeyel dan susah dinasihati suami. Saya juga tidak sabaran. Tapi kenapa bisa sama ya dengan anak saya. Apakah sifat ini diturunkan? Terima kasih penjelasannya.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb
Hamba Allah
Jawaban :

Wa’alaikumsalam Wr.Wb.

Ibunda yang baik,
Insya Allah saya bisa memahami kegelisahan Anda. Banyak orang tua mengeluhkan hal yang sama, merasa khawatir bahkan terkadang kesal ketika menghadapi anak yang suka melawan, memberontak dan berkemauan keras. Anak seperti ini biasanya terlihat sangat keras kepala, susah diatur, kukuh pada kemauannya, selalu merasa benar dan cenderung mengabaikan perkataan orang lain. Sebelum Anda mencoba mengatasi atau menghilangkan sikap keras anak, cobalah cari tahu dulu sebabnya. Yang pasti bukan karena keturunan.
Ada sejumlah faktor yang dapat memengaruhi timbulnya kebiasaan buruk tersebut, antara lain adalah pola asuh orang tua, perilaku orang tua dan ketidakkompakan antara ayah dan ibu. Orang tua yang terlalu membebaskan anak tanpa kontrol membuat anak merasa benar sendiri dan tidak mau mendengarkan orang tuanya. Selama masa perkembangan, sosok yang dekat dengan anak adalah orang tuanya, terutama ibu. Ketika orang tua (ibu) berperilaku demikian (berkemauan keras, suka membantah), maka anak akan dengan cepat mengimitasi perilaku tersebut. Dan salah satu hal yang juga penting dalam pendidikan anak adalah kekompakan dalam menerapkan pola asuh. Ketika ada penerapan aturan yang berbeda antara ayah dan ibu misalnya, maka anak akan mengalami kebingungan. Dan biasanya anak akan cenderung memilih aturan-aturan yang lebih menyenangkan untuknya.

Ibunda yang baik,
Menjalin kedekatan dengan anak adalah cara terbaik menangani anak yang keras kepala. Komunikasi dua arah antara orang tua harus terjalin dengan baik. Misalnya, ketika Anda memerintahkan sesuatu, jangan hanya sekadar memerintah, yakinkan bahwa anak paham maksud dari perintah tersebut. Sebaliknya, ajak anak berbicara dan tanyakan alasannya, mengapa dia membantah atau bersikeras dengan pendapatnya. Bila alasannya tidak tepat, beri larangan tegas namun tetap disertai kesabaran. Cara ini akan memberikan pemahaman tentang batasan pada anak, tanpa membuatnya merasa ditolak atau tidak dicintai.
Sebagai orang tua, Anda harus pandai meredam emosi. Bila tidak, Anda sendirilah yang nantinya kewalahan. Berbicaralah dari hati ke hati. Tanyakan apa yang menjadi keinginannya. Misal, ketika anak Anda menginginkan pergi ke suatu tempat dan Anda melarangnya. Kemukakan dengan bijak alasan Anda melarangnya. Jelaskan pada anak dengan bahasa yang ia mengerti, mengapa suatu hal diperintahkan dan hal lain dilarang. Yang harus diingat, jangan bersikap kasar atau terlampau keras pada anak. Bersikap lembut dan penuh kasih sayang akan sangat membantu. Karena dengan begitu, anak akan merasa bahwa teguran atau larangan yang Anda sampaikan, bukan karena benci, melainkan karena rasa sayang Anda padanya. Jangan lupa berikan pujian ketika anak berperilaku baik, walau hanya dengan pelukan atau belaian. Anak yang “keras” bisa jadi karena kurang mendapatkan/mera-sakan penghargaan dari orang tuanya.

Ibunda yang baik,
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa posisi tubuh bisa mempengaruhi proses berpikir seseorang. Orang yang berdiri kaku, atau duduk dalam posisi yang menyesakkan, akan membuat otaknya tidak bisa bekerja optimal dan kondisi emosional menjadi tidak stabil. Ketika menghadapi anak yang sedang emosional dan ngotot mempertahankan pendapatnya, cobalah meredakannya dengan mengganti posisi tubuhnya. Jika sedang duduk, ajaklah ia bergerak ke ruangan yang lain. Bukankah Islam juga telah mengajarkan tentang hal ini? Sikap keras, biasanya dibarengi dengan emosi yang meletup, dan tidak jarang kemudian menimbulkan ketegangan dan kemarahan.
“Jika salah seorang di antara kalian marah sementara dia berdiri, maka hendaklah ia duduk sehingga kemarahannya hilang. Jika belum juga hilang maka hendaklah ia berbaring.” (HR Ahmad dan Abu Dawud)
Ajaklah anak duduk jika ia berdiri dengan tegang, sentuh pundaknya, dan katakan dengan lembut, ”Ayo duduk dulu, umi mau mendengar pendapatmu lebih jelas lagi.” Demikian ibunda, Mudah-mudahan ananda kelak akan menjadi anak yang membanggakan orang tuanya.[www.konsultasi.wordpress.com]

Sumber : Tabloid Media Umat edisi 48

Read Full Post »

Semakin anak-anak bertambah usia, makin bawel dan makin rajin protes.Rasa-rasanya saya selalu merasa menyesal apabila setelah marah terhadap anak.Karena kalau saya sudah marah, saya udah kayak singa lapar, mengaum sampai-sampai tetangga sekitar sepertinya bertanya-tanya, “emang ada singa, siapa yang pelihara ya?”

Berhubung menjadi orang tua dan menjadi tua itu beda jauh, dan jaman sekarang, ngga sama dengan jaman saya masih kecil, pola asuh juga harus menyesuaikan.

Syukurnya sekarang banyak tersedia buku-buku tentang parenting, juga seminar-seminar.Kita sebagai orang tua, jangan pelit untuk investasi ilmu, apalagi buat anak-anak.

Salah satu buku yang sedang saya baca, yaitu buku seri @anak juga manusia, oleh Angga Setyawan sebagai praktisi parenting.

Banyak lho ilmu-ilmu yang bisa diterapkan dalam mendidik anak sehari-hari.Banyak contoh kasus yang biasa kita hadapi.Anak saya ada dua, dan dalam buku tersebut, sebaiknya kita tidak membanding-bandingkan anak.Jadi, tidak boleh nih membanding-bandingkan anak? jawabnya boleh, asal membandingkan anak dengan dirinya sendiri ketika dia melakukan sesuatu yang baik.Misalnya, “adik ingat enggak waktu adik pulang bermain dan langsung cuci tangan-kaki, juga membereskan kamar sendiri’, .Bila itu yang kita lakukan, yang akan tumbuh dalam diri anak adalah kesanggupan untuk lebih baik dari hari kemarin, bukan untuk bersaing dengan orang lain.

Anak-anak belajar tentang kehidupan dari apa yang mereka lihat, jadi kita sebagai orang tua adalah guru pertama mereka, mereka akan meniru apa yang kita lakukan.

Jadi, jangan berharap anak sopan santun, kalau yang dia lihat orang tuanya sering masuk kamar anak tanpa permisi, atau buka-buka tas anak tanpa permisi juga.Anak akan selalu memberi apa yang dia terima.

Tidak ada manusia yang sempurna, sebagai orang tua,kalau sempurna itu diartikan dengan tanpa pernah melakukan kesalahan maka bergaul saja dengan malaikat.Orang tua juga manusia.

Justru dengan adanya kesalahan, kita bisa belajar agar tidak mengulangi lagi kesalahan yang sudah pernah kita lakukan.Lebih baik salah dari pada tidak pernah belajar sama sekali.

Menyadari kesalahan itu baik.Namun, hati-hati jangan sampai terjebak pada situasi menyalahkan diri sendiri berlarut-larut.Anak kita membutuhkan kita dalam emosi yang sehat, bukan dalam emosi seperti orang yang sedang berduka.

Sebagai orang tua, jangan hanya memarahi kalau anak salah, tetapi juga beri pujian apabila mereka melakukan hal baik, dan kia harus yakinkan anak kita , bahwa kita bangga menjadi orang tua mereka, walau bagaimanpun kondisi anak-anak kita.Cinta tanpa syarat dan tulus, menerima anak apa adanya, bukan meminta menjadi seperti yang kita inginkan.

Anak-anak sering kali tidak peduli pada isi pesan yang kita sampaikan.Mereka lebih peduli pada cara kita menyampaikan pesan tersebut.

Naaah.. ini nih yang sering saya lakukan, saya sering nyuruh-nyuruh belajar dengan paksaan, nyuruh mandi, sikat gigi juga dengan marah-marah.Maksudnya baik toh? tapi pesan yang diterima anak, kalau belajar, mandi, sikat gigi itu menyebalkan, ngga enak, karena dipaksa-paksa oleh orang tua.Pesan yang ditangkap bahwa belajar itu ngga enak, maka ketika mendengar kata “Belajar” maka yang diterima pesan oleh anak , anak menjadi siaga satu, melawan atau lari dari situasi tersebut.

Ada dua pilihan, buatlah anak terpikat dan kedua, buatlah mereka merasa butuh.
Sama halnya dengan kejujuran, Dari mana anak belajar berbohong? Memang tidak semua mutlak kesalahan orang tua, namun kondisi diperparah karena kedua orang tua tidak tahu bagaimana merespons sehingga kejadian berbohong akan selalu berulang.

Informasi dalam buku ini amat bermanfaat buat saya dan sepertinya harus sering-sering baca buku tentang parenting, karena berdasarkan pengalaman, setelah baca buku, saya bersemangat untuk berubah dan mengaplikasikan apa yang ada di buku.
Alhamdulilah biasanya berjalan dengan lancar, dan emosi saya berkurang, karena motivasi dan ilmu yang masih nempel.

Read Full Post »

Kemarin, saya dapat kabar dari bapaknya anak-anak, katanya dia dipanggil oleh gurunya Dammar.Kata gurunya, ada orang tua salah seorang temannya Dammar, yang ngadu, katanya Dammar minta maksa barang milik temannya tersebut.
Dan suami saya merasa malu, apalagi karena dia yang menjemput anak-anak sekolah setiap harinya, dan dia membayangkan ibu/bapak lain bergosip, ” ini nih orang tuanya Dammar yang ngga bisa mendidik anaknya, kecil-kecil udah jadi preman, malak-malakin temannya”.Tapi emang suami saya aja yang sensitif banget, kayaknya ngga gitu amat juga kali tuh ibu/bapak, seandainya iyapun, ya cuekin aja omongan orang lain, kayak mereka bisa mendidik anak-anak lebih hebat dari yang lain?

Semalam, setelah saya pulang kerja, saya tanya ke anaknya langsung, dan saya minta dia bicara jujur, lalu sambil menangis, dia bercerita, ” aku kan nanya ke teman aku, beli pensil mekanik punya kamu itu di mana, harganya berapa, dan kata teman aku, dia ngga tau, karena mamanya yang belikan, trus, aku bilang, nanti tanya ke mama kamu ya,tapi setiap hari, teman aku lupa terus nanya ke mamanya, ya udah.. aku kesel.. aku minta aja deh pensilnya.”

OOh jadi begitu ceritanya, saya percaya,sayapun memakluminya dan saya beri nasihat, kalau meminta-minta itu tidak baik, apalagi memaksa.. dan saya minta untuk tidak diulangi lagi.

Komik ini jangan dicontoh ya, giliran anaknya yang minta perhatian, tapi si emak malah cuek…hehehe

komik amazing parenting

Saya amat menghargai perhatian dari wali kelas Dammar yaitu bu Ratih dan bu Rani, mereka berdua belum punya anak,(Semoga cepat dapat jodoh yang terbaik, ya Bu..) tapi tingkat kesabaran dan perhatiannya melebihi kami yang sudah menjadi orang tua.Semoga bu Ratih dan Bu Rani diberikan kesehatan selalu dan ilmu untuk bisa terus mendampingi putra-putri kami dalam proses belajarnya, aaamiin.

Sekali lagi, ngga ada yang namanya sekolah jadi orang tua, ketika kita jadi orang tua, ya berjalan dengan sendirinya, disaat kita punya anak, yang memang keinginan kita bisa mendapatkan keturunan, tetapi persiapan untuk bisa menjadi orang tua yang baik, biasanya belum kita siapkan.Persiapan biasanya lebih ke materi, bukan ke mental.Persiapan sebelum melahirkan dan sesudah melahirkan, biasanya tidak jauh dari urusan popok, susu, box bayi, baju bayi, dan lain-lain yang sifatnya materi.Untuk orang tua baru sepertinya masih jauh dari persiapan, khususnya persiapan mental, maka ada istilah baby blues.

baby-blues

Dulu, waktu awal-awal punya bayi, saya juga pernah mengalami kebingungan dan kepanikan.Jahitan di perut masih sakit, puting payudara berdarah karena lidah anak yang tajam saat menghisap asi, belum lagi kalau anak nangis, bagaimana persiapan emosi dan mental sebagai orang tua, terus terang, saya dan suami tidak punya persiapan yang cukup.

Kaget??? pastilah,…. nanya sana sini, ke ortu, ke adik-adik ipar, ke mertua, ke teman-teman, dan ke buku-buku.Gaya mendidikpun lambat laun tanpa disadari mencontoh orang tua kita pada saat pengalaman kita sebagai anak.Banyak hal-hal yang kita tidak sukai pada saat kita masih tinggal dengan orang tua, membuat kita tidak akan mengulangi hal yang sama terhadap anak-anak kita.Istilahnya ambil baiknya, buang yang buruknya.Sekarang kita memaklumi, tidak ada orang tua yang sempurna, karena manusia akan selalu harus belajar berapapun usia mereka.Ilmu dan perkembangan manusia selalu berkembang, mengikuti zaman,didiklah anakmu sesuai zamannya.

Dulu waktu saya kecil, tontonan televisi hanya TVRI, acaranya banyak yang mendidik, film-film anak-anak, sandiwara keluarga amat kita tunggu-tunggu sebagai hiburan yang mendidik.Sedangkan sekarang, stasiun tv jumlahnya puluhan, apalagi video bajakan juga beredar luas dan mudah didapat.
Sebagai orang tua zaman sekarang, pastinya tantangan makin berat, maka sebagai orang tua, kita harus lebih pintar dan lebih bisa mengerti perkembangan zamannya anak-anak kita.

Jangan ditanya soal internet/gadget, seolah-olah sudah menjadi santapan harian, kalau tidak lihat internet atau main HP, serasa mati gaya.

Tahapan mendidik anak sesuai umur

Tahapan mendidik anak sesuai umur


gambar diambil dari http://www.excelqhalif.com

Kutipan dibawah ini, saya ambil dari berbagai sumber dan saya coba rangkum, 4 tahap bagaimana mendidik anak mengikuti sunnah Rasullulah SAW adalah:

1. Umur anak-anak 0-6 tahun. Pada masa ini, Rasullulah SAW menyuruh kita untuk memanjakan, mengasihi dan menyayangi anak dengan kasih sayang yang tidak berbatas.Berikan mereka kasih sayang yang adil, antara anak satu dan lainnya.Tidak boleh dipukul apabila mereka melakukan kesalahan walaupun atas dasar untuk mendidik.Anak-anak akan merasa aman dalam menjalani usia kecil mereka karena mereka tahu kita selalu ada di sisi mereka setiap saat.Usia ini jadikan dia RAJA.

2.Umur anak-anak 7-14 tahun.Pada masa ini kita mulai menanamkan DISIPLIN dan TANGGUNG JAWAB kepada anak-anak.Menurut hadits, “Perintahkanlah anak-anak kamu mendirikan sholat ketika berusia tujuh tahun dan pukullah mereka karena meninggalkan sholat, ketika berumur 10 tahun, pisahkanlah tempat tidur mereka ( lelaki dan perempuan).Pukul itu pula bukanlah untuk menyiksa, cuma sekedar menegur, janganlah memukul di bagian muka, karena muka, adalah tempat penghormatan seseorang.jadikan dia TAWANAN.
Diharapkan anak-anak akan lebih bertanggung jawab pada setiap suruhan terutama dalam mendirikan sholat.Inilah masa terbaik bagi kita dalam memprogram akhlak anak-anak secara islami.

3.Umur anak-anak 15-21 tahun.Pada fase remaja yang penuh sikap memberontak, pada tahap ini orang tua sebaiknya mendekati anak-anak dengan menjadi teman.Banyaklah berbincang-bincang dengan mereka mengenai segala hal yang mereka hadapi.Bagi anak perempuan, bicara mengenai masalah kedatangan “haid” mereka dan perasaan mereka ketika itu.Jadilah pendengar yang baik, hindari memarahi atau menghardik terutama di hadapan adik-adiknya yang lain, bicara secara diplomasi.Diharapkan tidak ada orang asing lain yang hadir dalam hidup mereka sebagai tempat curhat dan pendengar masalah mereka.Mereka tidak akan terpengaruh untuk keluar rumah untuk mencari kesenangan dan kebahagiaan, karena sudah mereka dapatkan di rumah bersama keluarga.Jadikan dia KAWAN

4.Umur anak 21 tahun ke atas. Fase ini adalah masa ayah dan ibu memberikan KEPERCAYAAN penuh kepada anak-anak dengan memberi KEBEBASAN dalam membuat keputusan mereka sendiri.Orang tua hanya perlu memantau, memberi nasihat dan diiringi doa agar setiap halangan dan keputusan yang diambil mereka adalah keputusan yang benar.
Sebagai orang tua, jangan bosan menasihati mereka, karena berdasarkan kajian nasihat yang diucap sebanyak 200 kali terhadap anak-anak mampu membentuk tingkah laku yang baik seperti yang kita inginkan.Mungkin intinya beri nasihat sebanyak-banyaknya ya, tidak harus dihitung 200 kali, tapi setiap saat kita masukan nilai-nilai budi pekerti dan nasihat di setiap langkah mereka.

Anak-anak yang diberi perhatian dan kasih sayang yang cukup akan menjadi anak yang penuh keyakinan dan lebih mudah mendengar kata-kata.Sebaliknya bagi anak-anak yang kurang diberi perhatian, mereka mudah memberontak, walaupun berulang kali ditegur.

Mari tingkatkan ilmu selagi masih ada waktu….

Read Full Post »

Older Posts »

Vanya2V

Mom of Rhapsody

cerita si nina

here and now, i only have words to tell you!

backpackology.me

An Indonesian travelling family, been to 25+ countries as a family. Author of several travel guide books and travelogue. Write travel articles for media. Strongly support family travelling | travelling with baby/kids. .

phdmamaindonesia

stories of womanhood and ideas for Indonesia

pacarkecilku

"Jika kau punya cerita, bagilah dengan kata-kata. Jika kau punya kerinduan, kenanglah dengan pertemuan"

Macangadungan

Sketchbook , Dreams, Beer, and all other stuffs.

BBC | Blog Belalang Cerewet

semua dicatat agar awet

falafu.wordpress.com/

Tuhan tidak pernah bimbang, selalu seimbang..

Wiwin Hendriani

Berbagi Karya, Berbagi Cerita

YSalma

Jejak Mata dan Pikiran

Fitri Ariyanti's Blog

Mengolah Rasa, Menebar Makna

Oerleebook's Situs

Kumpulan data-data artikel menarik, inovatip, mendidik. dari berbagai sumber

Nata Riawan | Bali Animator Illustrator Graphic Designer

Desain Grafis bukan sekedar Print Art Paper

tarjiem

Jasa Penerjemah Inggris Indonesia

My Idea My Imagination

About me, about my inspiration, about my imagination