Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘ngarang’ Category

Kokohku sayang

Hari ini teramat-amat cerah, matahari sudah bersinar lebih terang dari kemarin, tetapi Dea masih saja merenung di atas tempat tidurnya yang nyaman.Bingung mau mengerjakan apa, mandi dulu, sarapan dulu atau malah tidur lagi.Hari Minggu memang biasanya dilakukan Dea dengan bermalas-malasan, bangun siang karena semalamnya dia begadang.Besoknya tidak harus ke kantor, jadi dia mau santai sambil stalking instagramnya kokoh Afung.

Malam itu, sebetulnya malam yang bersejarah bagi Dea dan Koh Afung, itu adalah kencan pertama mereka setelah mereka resmi berpacaran.Koh Afung adalah teman dari kakak sepupu Dea yang tinggal di Aussy.Koh Afung berencana ingin membuka bisnis di Jakarta, dan selama berada di Jakarta, Koh Afung sering ditemani Dea.

Malam- malam sebelumnya, “Kamu terakhir pacaran kapan?”, tanya Dea ke Koh Afung.”Aku sudah lama ngga punya hubungan serius sih, sibuk bantuin bisnis papa di Australi dan sekarang rencana mau ngembangin bisnis restoran papa di Jakarta kan, jadi,,,, aduuuh,,, mana ada cewek yang mau dicuekin atau diduain sama kesibukan aku?”balas Koh Afung.”Coba bayangin aja deh, dari pagi aku meeting,belum lagi ketemu calon klien, cari lokasi buat restoran, konsultasi tentang keuangan sama financial planner aku, lama-lama aku bisa tua sebelum waktunya nih,” keluh Koh Afung. Dalam hati Dea berkecamuk, ” yaaailaah koh.. ama aku aja deh… aku bisa ngertiin kamu kok, sayang banget, laki-laki ganteng, punya usaha, baik dan ngga pelit kayak gini, masa’ iya mau dianggurin sih?” batin Dea.

Suatu hubungan itu dimulai dengan rasa nyaman dan juga saling percaya.Percaya kalau partner kita itu setia, sayang dan akan selalu mendukung kita.Itulah diantaranya yang dirasakan Dea selama dia jalan bareng dengan Koh Afung.

LANJUTAN KISAH DEA

Sampai suatu hari, rasa yang Dea miliki perlahan hilang. Koh Afung sangat sibuk dengan bisnisnya. Seringkali Koh Afung lupa janji makan malam sama Dea.

Jangankan makan malam, mengabari saja jarang. Dea yang awalnya merasa bisa ngertiin Koh Afung pun sudah tidak tahan lagi.

“koh, aku mau ngomong sama kamu”, ucap Dea melalui telepon yang kebetulan diangkat oleh Koh Afung.

“Hi sayang, mau ngomong apa?”, jawab si Kokoh.

“aku mau……”

“sorry yank, client aku udah dateng, aku meeting dulu ya. I’ll call you later”, dan klik. Telepon pun ditutup.

Sialan! Umpat Dea. Mau sampe kapan coba begini terus. Bisnis sih bisnis, tapi eike jangan sampe dianggurin gini juga keleus!

Ah udahlah, minta putus by SMS aja. Bete gue.

Handphone yang tadinya sudah sempat mau dibanting pun terselamatkan. Dea keluar dari kamar, menuju ruang makan dan membuka tudung saji.

Nggak ada apapun yang tersedia dibawah tutup tudung saji itu. Emosinya pun kembali memuncak. Dea berjalan menuju teras rumah. Memelototi ragam jajanan yang lewat.

Bubur ayam, mie ayam, bakpao ayam, ketoprak, siomay, cilok. Tidak ada satupun yang menggugah seleranya. Sebal rasanya, lagi kesal perut lapar.

Melihat beberapa anak kecil melintas, Dea pun teringat dekat rumah ada SD yang tukang jajanannya enak2. Tapi hari sudah siang. Mungkin tukang jajanan sudah pada pulang.

Ah tapi kucoba sajalah kesana, batin Dea. Kuncir rambut, pakai sandal jepit, Dea pun membulatkan tekad menerobos terik untuk membeli jajanan di SD.

To be continue…………..

Dengan dandanan ala rumahan, Dea berangkat ke tempat mangkal jajanan SD. Ada cilok kesukaannya, ada rujak mie yang pedas dan juga rambut nenek, iiih menggugah selera pokoknya, dari pada dia mikirin koh Afung terus, malah tambah bete.

Sambil memain-mainkah HP dan juga menikmati rambut nenek yang endang gulindang, tak sengaja Dea menginjak kotoran kucing.. iiieeewwwww….ini maksudnya apa sih? Udah kesel, lagi nikmati makanan, kok eek kucing malah nempel di sandal eike.. huuuhhh.

 Ini semua pasti gara-gara koh Afung nih, semua gara-gara dia deh hari-hari belakangan ini,  gue jadi kayak gini, bawaanya kayak orang PMS,maunya makan, dan marah-marah terus.

Putusin, ngga? Putusin ngga? Dea menghitung kancing bajunya buat memutuskan apakah dia mau memutuskan hubungannya dengan koh Afungnya itu.

Dea mampir ke toilet di SD untuk membersihkan sandalnya yang kena kotoran kucing. “ meoong meooong.. ngapain juga sih pup sembarangan, jadi keinjek deh ini, udah ngga napsu lagi makan ciloknya.

Segera setelah bersih, Dea kembali ke rumahnya dengan berjalan kaki, dengan bersenandung ringan lagu one direction kesukannya, tak terasa sudah mau dekat ke lokasi komplek perumahan Dea.

 “ GEDUBRAAKKKK”

Bunyi apaan tuh, reflek Dea menengok ke belakang arah suara tersebut. Ternyata ada mobil Dodge menabrak tempat sampah dekat gerbang rumahnya, dan tiba-tiba saja mobil tersebut berhenti dan bunyi klakson yang tak henti-henti.

Semua orang berkerumun dan mencoba cari tahu siapa supir yang menabrak, apakah dia mabuk atau sakit?

Karena kacanya yang cukup gelap, tidak begitu kelihatan dari luar, penasaran semua berusaha untuk mencoba membuka pintu mobil.Untungnya bisa terbuka dan di dalamnya sudah ada bapak tua yang tertelungkup di atas setir mobil, pingsan.

Dea dan beberapa orang ikut membantu memindahkan si bapak ke kursi tengah, dan Dea berinisiatip untuk mengantar ke Rumah Sakit terdekat.Sampai di RS, tentu saja Dea tidak tahu identitas bapak tersebut, Dea mencoba mencari dompet siapa tahu ada tanda pengenal, Dea menemukan KTP bernama: “Gulnadi Arta Wirya”.

 Setelah urusan administrasi beres, Dea masih ingin menemani karena dia merasa tidak enak apabila ditinggal sendirian dan saat si bapak siuman, tentunya akan banyak pertanyaan yang akan diajukan oleh Dea.

Dokter jaga memanggil ,” keluarga pak Gulnadi?” silahkan masuk.

Karena tidak ada keluarga, jadi Dea yang masuk ke ruangan dokter dan setelah mereka bertemu, dokter juga menyarankan untuk menunggu sampai siuman, jadi bisa langsung menghubungi keluarga pak Gulnadi.

 Tak berapa lama, suster memberitahukan kalau pak Gulnadi sudah siuman, dan Dea masuk ke ruangan perawatan tersebut. Dea melihat seorang bapak yang berusia lebih kurang 60 tahun, cukup ganteng di usianya, mirip-mirip bintang film Roy Marten gitu.

“ Maaf pak, saya Dea, dan bapak tadi pingsan di depan perumahan saya, jadi bapak saya bawa ke rumah sakit, apa ada keluarga yang bisa saya hubungi pak?” tanya Dea dengan lembut karena takut si bapak kembali shock.

“ hmmmm… terima kasih ya nak, sudah merepotkan, ini kartu nama anak saya, tolong hubungi dia ya” ujar pak Gulnadi.

“baik pak, akan saya telpon dulu ya anaknya”.

 “ Haloo, maaf ini dengan Enggar?” “ ya,. Ini siapa ya?’ balasnya.

“Saya Dea, saya mau kasih tau, kalau ayahnya sekarang di Rumah sakit karena pingsan di jalan”

“ haahhh???? “ ok mbak, rumah sakit mana? Saya segera kesana ya.

 Singkat cerita, si Enggar datang, dan eng ing eng.. dengan postur tinggi badan 180,tegap, kulit putih,celana panjang model skinny, kaos polo shirt, kaca mata , bibir merah.

 DEA;  PINGSAN

Lanjutannya… 

Setelah satu jam akhirnya Dea sadar, pelan-pelan mulai membuka matanya sambal berkedip mencoba untuk dapat memfokuskan penglihatannya.

Setelah Dea dapat melihat dengan jelas, dengan jantung yang berdegup kencang dia melihat sesosok yang gagah sedang berdiri dekat ujung tempat tidur dan tampak berbicara serius dengan Dokter.

“Oh ternyata itu dia Enggar,anak dari Bpk. Gulnadi Arta Wirya, pantas saja anaknya gagah dan tampan karena cetakannya udah bagus” ucap Dea dalam hati.

Kemudian Enggar mulai mendekati Dea,dan jantung Dea semakin berdegup kencang, Dea baru menyadari kalau bulu mata extensionnya sudah mulai rontok.

Dengan panik Dea mulai mengedip-ngedipkan matanya,berharap Enggar tidak menyadari bulumatanya yang tidak rata itu.

 Saat itu juga Dea langsung memantapkan hati ,setelah keluar dari Rumah sakit ini dia akan cuussss ke salon untuk memperbaiki bulu matanya.

Siapa tahu akan ada kelanjutan dengan Enggar (harap Dea dalam hati), babaayyy kokoh Afung, heelloooww Enggar…. #lopelopelopelope

 

Dimulailah pembicaraan yang manis antara Dea dan Enggar….

“kamu sudah sadar?” tanya enggar

“su..dah” jawab dea dengan suara lirih

“aku Enggar, kamu, Dea kan? Wajah mu pucat, istirahat dulu ya” ucap enggar kepada dea.

Pada saat itu juga dea berusaha bangun dari tempat tidur nya menuju ke toilet, dea teringat kalau dia harus touch up, setelah pingsan tadi pasti rambutnya kembali keriting tidak karuan.

Enggar kemudian berkata “kamu mau kemana? Sudah istirahat dulu ditempat tidur, aku temani kamu” daannn jreeng jreeng jreng tangannya memegang dea bak di FTV.

Selama sesaat eh beberapa saat deng hati dea bagaikan roller coster. Disaat itulah HP dea berbunyi, ketika dea check ternyata caller nya adalah ‘cinta mati ku’. (huuuuu)

Dea langsung BT sejadi-jadinya kemudian dia meng ignore telp tersebut. Karena penasaran enggar pun bertanya “kenapa tidak diangkat? Pacar atau suami mu?” dengan ketus dea menjawab “calon mantan”  

 

 

 

Iklan

Read Full Post »

KENALAN DONG?

Di halte bis depan Sarinah Thamrin, menjadi tempat awal kami bertemu.

“kamu mau pulang kemana?” tanya dia, aku yang masih tidak yakin, kalau dia bicara denganku, agak bingung, sambil nengok kanan kiri dan bertukar pandang dengan temanku.

“elo nanya gue?” tanyaku, dan dibalas dengan senyumnya yang manis, dia mengangguk, ” iya lah gue nanya ke elo, ke siapa lagi?”balas dia.

“Gue pulang ke Condet, tapi ini mau main dulu ke rumah temen di Pasar Minggu” jawabku dengan cuek, berusaha tidak terlihat memperhatikan penampilan cowok itu.

Dia memakai pakaian orang kantoran, kemeja dipadu dengan celana bahan berwarna hitam, tampak rapi dan wajahnya lumayan tampan.

Dia juga bersama dengan temannya, malah asik ngobrol dengan temanku, aku akhirnya juga jadi ikutan bergabung sampai akhirnya kami tertawa terbahak-bahak sambil bertukar cerita, lalu kami memutuskan untuk pindah tempat ke restoran terdekat.

Tak terasa, waktu sudah mulai malam, aku dan temanku memutuskan untuk pulang.Aku naik taksi dan si cowok tampan ini, oh iya namanya Fian.Dia menawarkan untuk ikut mengantar sampai ke rumah.

Di dalam taksi sepanjang jalan menuju pulang ke rumahku, kami terus mengobrol, dan tertawa, aku memutuskan, ternyata  orangnya asik juga ya buat seseruan.

Tak terasa perjalanan ke rumahku sudah hampir sampai, dan Fian tiba-tiba saja mencium pipiku, “Lani,sorry ya, abisnya, gue suka ama elo, ngga marah kan kalo gue ngesun pipi,  elo anaknya manis, dan gemesin”

Oh my God… ini cowok, kok ya bisa-bisanya ke pede-an sih, ngga takut digampar kali ya?

Deg-deg an…..

Esok harinya, aku bangun tidur terlambat, tidak sempat sholat subuh, karena sudah kesiangan, mandi buru-buru, dan hanya minum air putih, aku berangkat ke kantor.Untungnya  kantor dekat rumah, hanya perlu waktu 10 menit berjalan kaki.

Tiba di kantor, katanya sudah ada pesan telpon dari Fian, katanya minta ditelpon balik.Wahh ini apa-apaan nih, kok gencar banget pdkt nya, sebenarnya dan sejujurnya sih, ada perasaan senang, karena diperhatikan, tetapi juga ngeri, takutnya kalau terlalu cepat malah tidak bertahan lama.

Seharian, bertubi-tubi sms dan telpon dari Fian, dan ujung-ujungnya minta ketemuan malam ini, katanya udah rindu berat.Cieeeee….. dadaku berdegup dengan kencangnya, deg deg deg-an banget.Seperti putri yang lagi kasmaran, dikit-dikit ke toilet, ngaca dan senyum-senyum sendirian.

Malam harinya, Fian jemput aku di rumah, penampilan Fian yang sempurna, dengan kemeja biru garis-garis tipis warna putih, dipadu dengan celana denim hitam, tampak amat cocok di tubuhnya.Rambut ikal Fian terlihat masih agak basah, seperti baru selesai mandi.

Aku malam itu mengenakan pakaian terbaikku, atasan warna merah marun, dengan renda di tengah, dikombinasikan dengan rok panjang motif bunga warna putih gradasi dengan warna merah marun juga.Aku menyempatkan diri untuk pergi ke salon, hanya untuk memblow rambutku agar kelihatan lebih tertata rapi.

Pokoknya persiapan udah matang deh agar tampil menawan di mata si calon pacar.. eiiitsss.. Ge er banget ya gue? hihihi…ngga papa deh Ge er kan, dari pada minder.

Perjalanan menuju tempat makan malam, terasa amat cepat ( gitu ya, kalau lagi pdkt, perasaan waktu berlalu seperti disulap, tau-tau udah sampai aja), di mobil, ada saja yang kami ceritakan, sambil mendengarkan musik yang mengalun lembut dari CD.

Suasana romantis restoran Itali yang dipilih oleh Fian, membuat aku semakin bahagia, berbunga-bunga dan senyumpun tak pernah lepas dari bibirku.

Hari berganti hari, tepatnya 2 minggu setelah perkenalan kami, setiap hari kami selalu membagi cerita tentang kehidupan kami, tentang harapan kami, dan sepertinya aku jatuh cinta…. jatuh cinta berjuta rasanya.. siang malam ambooy indahnya ( ini lagu jadul jaman bapak ibu aku).

Sahabat aku, Wina, berkali-kali memperingatkan, jangan terlalu cepat terbuai dengan mulut cowok, apalagi Fian itu ganteng, kerja di Bank, masa’ iya sih dia ngga punya cewek,’ kata Wina kepadaku.”Win, yang ngerasain kan gue, yang ngejalanin juga gue, orang lain tuh ngga ngerasain apa yang gue rasain” balas aku saat kesekian kalinya Wina memperingatkan hal yang sama.

Aku merasa dia hanya iri saja, karena kan waktu itu kenalannya berdua, tetapi Fian malah memilih aku dari pada Wina, jelas aja dia jeaulous.

Pas sebulan kami jalan bareng, akhirnya Fian menyatakan ingin jadi pacarku, tepatnya di depan teras rumahku, saat itu aku hanya mengangguk, dan tersenyum.” Kamu mau kan jadi pacarku?” tanya Fian, dan terus sepanjang malam sebelum tidur, kata-kata itu menjadi kata-kata mantra yang membuat aku sulit memejamkan mata.

Tau-tau hari sudah pagi, buru-buru bangun untuk sholat subuh, dan buru-buru mandi buat berangkat kerja, it’s my day….. yeeaaayyyyy…..I have a boy friend now.. and I am so happy.. I am falling in love… yuhuuuuuu……

KENCAN PERTAMA SEBAGAI KEKASIH

Malam ini adalah malam minggu, dan ini malam minggu pertama aku dan Fian berkencan sebagai pasangan kekasih.Kami rencananya akan ke Bandung, karena Fian ada acara reunian teman kampusnya di Lembang.Aku sih ngga ikutan gabung, takutnya aku ngga  kenal teman-temannya, jadi aku hanya stay saja di hotel sambil menunggu Fian kembali dari acara reunian itu.

Kira-kira sebelum jam 12 malam, Fian kembali ke hotel, aku tentunya sudah molor, lalu Fian membangunkan aku, dan mulai menciumiku.Kami saling berciuman mesra, dan berpelukan.Bahagia rasanya bisa dekat dengan kekasih hati.Ketika kami berciuman, pelan-pelan dia mencoba membuka blouse aku, aku kaget, ngga menyangka dia akan senekat itu.Aku menolak ketika tangannya mulai meraba bagian yang tidak biasa, bagian yang tertutup di dadaku.

Aku menolak secara halus, aku tepis tangannya, ” sorry ya Fian, aku ngga biasa kalau berhubungan lebih jauh seperti hubungan intim, karena aku punya prinsip, aku ngga akan berikan keperawananku kepada yang lain kecuali suamiku, sedangkan kita kan belum resmi suami istri, kataku dengan pelan dan dengan wajah membujuk.

Dengan muka kecewa, Fian langsung bicara,” ok, ya sudah”. Dia memejamkan matanya tanpa bicara lagi.

Esok harinya kami pulang ke Jakarta, di dalam mobil, di perjalanan, sungguh suatu suasana yang kurang menyenangkan, Fian terkesan membatasi diri, biasanya dia memegang tanganku, dia sama sekali tidak berani menyentuhku.Aku sungguh sedih, kecewa dan gundah, apakah seperti ini rasanya kalau saya tidak bisa bersamanya lagi?, batin saya terluka.

“Lani, sepertinya hubungan kita ngga akan bisa berjalan dengan lancar,” Fian langsung to the point pada masalah yang dari kemarin kami rasakan.

” Aku ngga terbiasa pacaran gaya anak SMA gitu, aku dari dulu sudah terbiasa dengan gaya pacaran yang lebih, bukan hanya sekedar nonton film atau makan malam,” tambah Fian.

Aku hanya terdiam, bingung mau menjawab apa, sebenarnya aku amat sayang, dan suka dengan apa yang ada dalam dirinya, dia humoris, easy going, selain fisik yang tampan juga mapan.

Sempat terbersit dalam hatiku, setelah aku curhat dengan sahabat dan teman-temanku, aku sempat memutuskan untuk memberikan apa yang dia mau, toh aku kan memang sayang sama dia.

Setelah satu bulan, tanpa kabar berita, Fian sudah mulai susah diajak bertemu, tidak pernah lagi berkunjung ke rumah, telpon juga hanya sesekali, itupun katanya, dia lagi di luar kota.

Pernah suatu kali, aku menghubungi kantornya, dan salah seorang stafnya menyebut salah satu nama perempuan, ” ini mbak Dian ya?” tanya suara di seberang sana. Aku bingung, kok Dian? siapa Dian? hatiku rasanya remuk, secepat itu dia berpaling.

Beberapa waktu kemudian, aku dengar dari ayahnya, ketika aku menghubungi ke rumah Fian, Ayahnya bilang, ” Fian akan menikah besok”. Dunia rasanya berputar, gelap, kacau.Hatiku panas, kecewa yang amat dalam, begini ya rasanya ditinggal kawin oleh pacar kita.

Bermacam-macam skenario hadir di kepalaku, aku cerita kepada salah seorang sahabatku, dan dia mendukung apapun tindakan aku, “Gue pingin kacau-in nih acara nikahannya besok, nanti pas di pelaminan, si Fian gue ciumin abis, terus abis itu gue gampar, atau gue buang-buangin dan berantakin tuh makanan, gue lempar-lemparin “, ucap saya dengan emosi dan mata berkaca-kaca.

” Ya udah, kita keliling Jakarta dulu aja deh Lan, elo kalo mau nangis, nangis aja sepuasnya, jangan ditahan,biar elo lega” hibur sahabatku, Yola.

Pada saat itu, aku merasa menjadi wanita yang benar-benar tak diinginkan, merasa terabaikan, dan sangat sulit untuk mempunyai pikiran yang jernih.

Di masa-masa berkabung ditinggal kawin pacar,  masa-masa yang menurutku adalah masa-masa transisi, aku jadi senang dugem, senang pulang malam, pokoknya menghabiskan waktu bersama teman-teman  sampai larut malam.Tiba di rumah aku bisa langsung tertidur karena lelah.

Sampai pada saat ketika aku sholat tahajud, pikiranku terbuka, dan aku bisa mengambil hikmah dari semua kejadian, tiada suatu pertemuan dan perpisahan tanpa ijin dari NYA, jadi terima kasih kepada sang mantan, khususnya Fian dan mantan-mantan setelahnya yang telah membuka mataku.

Alhamdulilah, akhirnya aku bisa melewati hari-hari buruk yang aku alami, aku terus berdoa agar bisa selalu dapat perlindungan dari Tuhan, tanpa bantuan tanganNYA, tentunya aku akan gagal move on.

Sekarang aku bisa tersenyum lega, bersyukur ngga menikah dengan Fian, bersyukur akhirnya bisa menemukan seseorang yang pengertian dan sayang tanpa pamrih.

 

gambar diambil dari web internet ( picturedp.com)

gambar diambil dari web internet ( picturedp.com)

Move On, diambil dari kataucapan

Move On, diambil dari kataucapan

“Terima kasih kalian, barisan para mantan” song by ( siapa ya lupa)

 

Read Full Post »

Bos Pelit

Bekerja dengan atasan yang pelit, memang tidak menyenangkan. Semuanya diperhitungkan dengan masak-masak dan penuh perhitungan.Bos saya dulu, namanya pak Budi, terkenal tidak pernah memberikan tips apabila menyuruh bawahannya untuk melakukan sesuatu di luar job desknya.

 Walaupun supir yang tugasnya menyupir, masih disuruh-suruh untuk urusan rumah tangga juga.Kadang sih kalau tugasnya agak berat, seperti antri di kantor Imigrasi dari pagi sampai sore, suka dapat juga tuh tips lima ribu rupiah.

Apabila gaji karyawan sudah di atas rata-rata, mungkin sudah tidak berharap dari tips-tips lainnya. Tetapi gaji karyawan semua rata-rata UMR, dan jarang sekali ada kerja lembur.

 Pernah ada kejadian, karena karyawan sudah tahu kepelitan si Bos Budi ini, apabila disuruh selalu alasan sibuk, atau ada yang sampai parah, alasan buang-buang air, seolah olah bolak balik ke toilet.

 Karena tidak ada yang mau disuruh untuk pergi beli nasi padang kesukaannya, si Bos pergi sendiri ke warung dimana bawahannya sering beli.

” Kerja di mana mas,” tanya pelayan warung padang.” oh di PT.LAYAK JUAL, Jawab si Bos Budi. ” Oh di situ, karyawan baru ya, tanyanya lagi.” iya”, karena malu, si bos mengaku saja biar cepat.” biasanya karyawan lama, sudah malas kalau disuruh-suruh bosnya beli makanan, karena sudah kasih uangnya pas-pasan, nyuruhnya maunya buru-buru,jangan harap  dikasih uang tips, saya dengar sih banyak yang cerita kayak gitu mas,” lanjut si pelayan sambil melayani pesanan pengunjung.

Saking malunya, si bos cepat-cepat beranjak dari warung padang tersebut, dan berjanji tidak mau lagi belanja di situ.

 Suatu hari, si bos mau merokok, karena persediaan rokoknya habis, dan dia lihat ada supir yang lagi duduk-duduk di depan pos satpam. Dipanggilah supir tersebut, untuk meminta tolong beli rokok. Mau tidak mau, karena sudah tidak bisa kabur, dia terpaksa membelikan rokok di warung dekat kantornya. Saat supir mengambil uang dari bos Budi,ternyata pas dilihat, uangnya lebih dari harga rokok dengan merk Marlboro, si bos biasa menghisap rokok tersebut.

”Wah, tumben banget nih si bos, nyuruh beli rokok, ada kembaliannya” batin supir. Pulang dari beli rokok, muka supir agak bete begitu, padahal tadi sempat senyum sumringah.

” Kenapa pak Mul,kok komat-kamit gitu?” tanya saya. ” Iye tuh mbak, kirain si bos udah mulai insyaf berubah jadi royal, soalnya tadi kasih uang beli rokok, tumben dilebihin, eh ane salah, harga rokoknya memang udah naik, jadi ya ngga ada kembaliannya dah.”

Read Full Post »

Sebagian orang khususnya orang tua yang mempunyai anak, pasti sudah merancang tabungan untuk biaya pendidikan, apalagi biaya pendidikan di Indonesia ini sangat tinggi inflasinya, bisa lebih dari 10% pertahun.Daya saing anak-anak zaman sekarang amat berat, kalau anak-anak hanya mengikuti pendidikan di Sekolah, sepertinya kurang maksimal, sedangkan anak lainnya banyak yang ikut pelajaran tambahan di luar jam sekolah.Untuk biaya les bahasa Inggris, les mengaji, les matematika, les renang, les aikido, les melukis, les musik, dan berbagai macam les yang diikuti anak, pastinya juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Sebagai orang tua, pastinya kita ingin dan berusaha memberikan anak yang diamanahkan Allah kepada kita, bekal yang cukup untuk bisa menjadi generasi yang bisa berkompetisi secara sehat dan bermartabat dalam kehidupan mereka di masa yang akan datang.

Ibu saya selalu menekankan untuk rajin menabung, dan itu juga yang saya lakukan sampai saat ini, saya berusaha berhemat dan merelakan untuk tidak berfoya-foya demi bersabar untuk memetik buah yang didambakan.Dengan menabung di bank, apalagi bank Syariah membuat perasaan aman karena memenuhi syariat Islam, apalagi nama BNI yang cukup terpercaya sebagai bank pemerintah yang sudah pengalaman berpuluh-puluh tahun dalam mengelola keuangan masyarakat.

Semakin banyak produk yang bisa kita manfaatkan melalui BNI Syariah, tergantung kebutuhan kita. Ada produk untuk perorangan, dan ada produk untuk perusahaan juga ada produk untuk bisnis/ukm.Produk yang cocok buat saya adalah produk tabungan ib Tapenas Hasanah.Tabungan iB Tapenas Hasanah adalah tabungan perencanaan dalam mata uang Rupiah yang digunakan untuk mewujudkan rencana masa depan, misalnya untuk dana pendidikan, umroh, pernikahan, dan liburan.Dalam satu produk, kita bisa memanfaatkan untuk berbagai macam tujuan. Ingin liburan keliling daerah bersama keluarga, atau umroh bersama keluarga dan yang paling penting buat saya adalah biaya pendidikan, berhubung anak-anak saya masih berusia 6 tahun dan 4 tahun, pastinya perjalanan masih panjang dan perlu dana yang besar untuk sampai ke jenjang universitas.

Ada satu produk lagi yang menarik buat saya, yaitu produk Tabungan iB THI Hasanah,Tabungan iB Haji Hasanah didesain untuk membantu individu dalam merencanakan pemenuhan Biaya Penyelengaraan Ibadah Haji.Hampir semua orang muslim, berharap bisa pergi ke Mekkah dan menunaikan ibadah haji, kalau hanya berdoa tanpa berusaha menabung, kok ya sepertinya tidak ada usaha sama sekali, saya yakin, dengan menabung sedikit-sedikit, saya yakin Allah akan melunasinya dengan caranya sendiri, selama kita terus berusaha dan niat karena ingin beribadah karena Allah.

Memang sih, kalau mengharapkan bagi hasil yang besar dari tabungan, pastinya sangat jauh dari yang diharapkan, inflasi dan pendapatan bagi hasil dari tabungan tentunya tidak seimbang, tapi walaupun begitu, menabung itu tetap suatu keharusan buat saya. Sedangkan untuk investasi yang menghasilkan lebih besar, bisa dengan menabung emas/dinnar,  bisnis rumah kontrakan, reksadana saham dan lain-lain, tentunya banyak artikel dari para pakar pengelola keuangan yang bisa kita baca dan praktekkan.

Ayo, mulailah sedini mungkin, hubungi  atau datangi BNI Syariah terdekat dan dapatkan produk yang sesuai dengan kebutuhan kita, tentunya tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baik.

Read Full Post »

Kemarin pas buka FB, ada teman saya, Opi yang memang sangat rajin bikin tulisan, dia ngetag informasi adanya lomba menulis Femina dan Sariwangi, hadiahnya itu, 10 pasangan bisa menginap di Hotel di Bali, makan malam romantis, tiket untuk dua orang.. cihuuuy kan? kata suami, pingin bulan madu.. siapa tahu aja bisa dapat rejeki dan menang.

Setelah mencoba buat tulisannya sepanjang satu halaman, dengan tema “apabila gadget menggangu kebersamaan dengan pasangan, bagaimana kita mengatasinya”.Saya beri tahu suami,kalau saya ikutan lomba tersebut, dan minta doa, biar bisa menang…eh kata dia.. “anak-anak ikut ngga, kalau anak-anak ngga ikut, kayaknya ngga menang deh” .. iidiiih.. payah juga nih suami saya, dia yang pingin bulan madu, eh ada kesempatan gratisan bukannya mendukung malah dibilang ngga menang… hehehehe…

Tapi misalnya benar bisa menang, mana mungkin dia menolak, kan kalau mau bawa anak-anak, kita bisa beli tiket khusus buat anak-anak aja, ya kan? atau bisa titip ke orang tua saya, dan para keponakan diajak nginep di rumah saya, anak-anak pasti tidak merasa keberatan dan kehilangan, karena banyak saudara-saudara yang menemani.

Walaupun pernikahan sudah lebih dari lima tahun, bukan berarti tidak boleh berduaan lagi kan? biar lebih mesra dan makin sayang…karena selama ini, selama 7 tahun pernikahan, semenjak lahir anak-anak, kita itu tidak pernah benar-benar berduaan lho, kalau cuma pergi ada urusan sebentar sih sering, tapi kalau pergi khusus bulan madu, naik pesawat, makan malam di hotel, nginep di hotel berdua.. hikss hiksss.. belum pernah nih.. semoga saja bisa kesampaian.. aamiin.. ya Allah, semoga dikabulkan dan bisa menang dalam lomba sayembara menulis ini, due datenya besok lho,31 Agt 2012,  cukup satu hari saja, yang ada di kepala saya tuangkan dalam tulisan lalu beli teh SariWangi di Hero, langsung deh kirim by email ke Femina. Selesai dalam satu hari, siippp lah…

Read Full Post »

IBUKU YANG “SEMPURNA”

 ”Seperti udara, kasih yang engkau berikan, tak mampu ku membalas,…… IBU… Ingin ku dekap dan menangis di pangkuanmu, sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu, lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku, dengan apa membalas,…. IBU”

itu adalah sepenggal lagu berjudul Ibu dari Iwan Fals yang saya sangat suka liriknya. Seperti ”udara”, siapapun bebas menghirupnya, kapan saja, di mana saja, tanpa harus membayar, dan udara tidak pernah pamrih sedikitpun,tidak pernah berfikir tentang balasan, tentang bayaran, begitu juga dengan Ibu kita semua termasuk Ibuku.

Pengalaman adalah guru yang terbaik, dan sepertinya belum ada sekolah untuk menjadi orang tua, walaupun sekarang ini kita bisa belajar banyak dari buku, atau kisah orang tua lain, dan yang lebih sering terjadi adalah kita belajar dari pengalaman kita dan orang tua kita dalam membesarkan anak-anaknya.

Pada setiap keluarga, Ibu adalah seorang ”Ratu” yang harus pintar dalam segala hal, dari seorang manager keuangan, seorang pendongeng, seorang koki hebat atau seorang pencari nafkah.

Ibuku, kesan yang pernah ada dalam benakku waktu kecil, adalah sebagai seorang diktator, orang paling galak juga paling bawel sedunia, itu kesan yang pernah ada dalam pikiranku, terutama apabila aku ingin sesuatu tetapi tidak diijinkan oleh beliau. Aku pernah menyangka kalau aku itu adalah anak pungut atau anak asuh, dan aku ingin sekali rasanya kabur dari rumah, pernah suatu waktu, ibuku marah tak terhingga sampai hampir menangis, menahan marah karena kesal terhadapku.

Ceritanya, waktu awal aku dan keluargaku pindah rumah ke Pondok Bambu, aku tidak punya teman bergaul di lingkungan rumah baruku , karena temanku hampir semua ada di daerah Kemang, tempat aku tinggal sebelumnya dari aku lahir sampai SMA. Waktu aku pulang dari tempat les, aku bertemu dengan seorang laki-laki pas di depan lampu merah dekat Pondok Bambu, pada saat aku ingin menyeberang, lalu dia menyapa dari dalam mobilnya, aku yang tidak punya pikiran apa-apa, membalas sapaan laki-laki itu, sampai akhirnya laki-laki tersebut ikut mampir ke rumahku.

Beberapa kali, laki-laki tersebut mampir ke rumah, dan suatu hari, dia datang bersama teman-temannya laki-laki berempat orang, dan bermaksud ingin mengajak aku jalan-jalan di sekitar Pondok Bambu, alasannya untuk lebih tahu daerah itu, dan tanpa pikir panjang, aku langsung meng-iyakan ajakan mereka, pada saat itu, tidak ada satu pikiran jahat yang mampir dipikiranku, tujuan aku hanya satu, ingin punya teman dan lebih tahu daerah rumah baruku itu.

Begitu aku minta ijin untuk keluar dengan teman baru tersebut, ibuku tidak membolehkan, dan dengan agak memaksa, aku awalnya marah dan kesal, kok ibuku tidak pernah mau mengerti diriku, anak muda yang ingin lebih bergaul dan punya banyak teman. Aku hampir tetap ikut pergi ke mobil temanku itu, tetapi tak disangka ibuku langsung menarik tanganku, hampir menyeret, masuk kembali ke dalam rumah, dan dengan hampir menangis menahan kesal, ibuku berkata” Ya Allah.. Nak.. kamu itu anak perempuan, kamu harus jaga diri kamu baik-baik, tidak semua orang itu seperti yang kamu sangka, apalagi mereka berempat, dan kamu sendirian, nak”… sambil sesunggukan, ibuku menahanku, untuk pergi.

Karena malas ribut-ribut dan tidak tega juga membuat ibuku sampai menangis, maka aku bicara ke teman baruku itu, kalau aku tidak jadi ikutan, lalu mereka pergi. Setelah kejadian tersebut, aku sempat hampir memusuhi ibuku, kesal dengan tindakannya, kesal dengan kediktatoranya, kebawelannya dan segalanya tentang beliau.Waktu berlalu, banyak kejadian yang kami lalui, dan ibu tetaplah ibu  yang lebih  sering mengambil keputusan –keputusan penting dibanding Ayahku yang menyangkut urusan anak-anaknya.

Setelah menjadi ibu dari dua anak balita , semakin timbul rasa sayang  terhadap ibu. Sesuatu yang dulunya membuat aku kesal, sekarang aku berterima kasih yang tak terhingga, coba saja kalau dulu ibu membolehkan aku ikut pergi dengan teman laki-lakiku yang baru itu, entah aku masih selamat atau tidak,mungkin aku tidak bisa menikah dan punya anak seperti sekarang, banyak kejadian buruk yang terjadi di sekitar kita karena kurang waspada dan terlalu menganggap sepele keadaan.

Aku anak tertua dari empat bersaudara, tiga perempuan dan satu laki-laki yang paling bontot, tapi untuk urusan jodoh, adikku yang nomor 3 yang  duluan menikah, lalu naik tangga, menyusul adikku yang nomor 2, dan naik tangga lagi, menyusul, aku menikah tahun 2005, aku sempat berpikir, kalau saja si adik bontot  menikah duluan juga…kelewatan deh,.. masa’sih aku harus dilangkahi terus?hehe.. tapi Alhamdulilah, semuanya terjadi atas kehendakNYA, dan Insya Allah semuanya yang terbaik buat aku.

Masih terngiang dalam ingatanku, bagaimana Ibuku paling sensitif kalau ditanya oleh tetangga, kerabat dan handai tolan tentang anak-anaknya yang belum menikah, ibuku sempat mencurahkan kegundahan hatinya, “Padahal anak-anak saya ga jelek-jelek amat, dan ga bodoh-bodoh amat, tapi kenapa ya kok anak-anak saya sampai sekarang belum juga ada yang ketemu jodohnya,”sambil menahan tetes air mata yang ingin segera tumpah, dan beliau juga pernah berpikir, jangan-jangan ada yang ga suka atau ada yang mengguna-gunai keluarga kami karena aku pernah menolak cinta seseorang, hmm.. ada-ada aja.

Aku semakin sadar, setelah berumah tangga lalu punya anak, bagaimana ibu merawat kita, menyusui anak-anaknya selama dua tahun, malahan untuk adikku yang bontot, hampir 4 tahun baru bisa benar-benar disapih, dan waktu kita masih balita, yang pasti sering bolak balik pilek, demam, apalagi dengan empat orang anak yang butuh perhatian, ibuku masih sempat berdagang di pinggir jalan, berjualan rokok, minuman,kue-kue dan lain-lain demi membantu Ayah yang gajinya sangat pas-pasan untuk membiayai keempat anak-anaknya bersekolah, tetapi kita masih suka tidak berterima kasih dan kadang suka menyakiti beliau, dengan tidak menjawab panggilannya, menolak perintahnya atau menunda-nunda pekerjaan rumah, main ke rumah teman tidak bilang-bilang, bagaimana khawatirnya seorang ibu, aku baru merasakannya sekarang ini.

Akupun yakin, aku bisa seperti ini karena doa ibu, dalam setiap hembusan nafas dan sujud beliau tanpa sepengetahuan kami anak-anaknya. Sebagai perantau yang jauh-jauh datang dari Bengkulu, ke kota Jakarta untuk mengubah nasib, apapun yang dirasakan dan dialami  ibu, akan selalu dijalani tanpa mengeluh, hanya satu tujuan, ”Perubahan” dengan kesabaran dan doa dalam menjalani hidup di negeri rantau, jauh dari orang tua dan keluarga dekat.

Seorang sahabat Rasul bertanya, “Ya Rasulullah, siapa yang paling berhak memperoleh pelayanan dan persahabatanku?” Nabi Saw menjawab, “ibumu…ibumu…ibumu, kemudian ayahmu dan kemudian yang lebih dekat kepadamu dan yang lebih dekat kepadamu.” (Mutafaq’alaih).

Mumpung masih diberikan kesempatan untuk berbakti kepada orang tua, aku berharap sekali apabila punya rejeki bisa menghajikan orang tuaku, cukup sekali saja dalam hidup mereka, semoga saja, Amiin..

Sepenggal doa untuk ibuku, Suaiyati….yang terkasih…

“Ibu, doakan anakmu ini, selalu dalam denyut nadimu, ridhoilah jalan ku, ……..Ya Allah , ampunilah dosa-dosa ibuku, yang telah melahirkanku, aku berjanji aku akan membahagiakannya , ya Allah….. berilah kesempatanku untuk membalas kebaikan-kebaikan ibuku, semoga beliau selalu diberikan kesehatan,kesabaran, ketakwaan dan tawakal, bahagia selalu dunia akherat, dan rukun selalu dengan Ayahku, Amin ya Rabal Alamiin”

Dengan segala kekurangan beliau sebagai manusia, aku akan selalu mengingat kebaikan dan kelebihan beliau, sampai kapanpun kita sebagai anak tidak akan bisa benar-benar membalas kebaikan dan jasa ibu kita selama ini.

Begitulah sedikit cerita tentang Ibuku dimataku, Ibu Tercinta.. Ibuku adalah bukan ibu yang sempurna, tetapi dengan ketidak sempurnaannya tersebut justru menjadi Ibu yang ”Sempurna” dimata kami, anak-anaknya.

Read Full Post »

New Things

Pertama kali bekerja dan bergaul dengan orang Jepang, saya tidak begitu paham tentang budaya, bahasa, kebiasaan dan lain-lain, saya akui memang saya agak kurang suka dengan pelajaran sejarah ataupun yang berbau budaya, jadi pengetahuan saya tentang bahasa asing selain Bahasa Inggris, sangat-sangat minim sekali. Pertama kali saya mengenal orang Jepang secara langsung adalah waktu saya bekerja di perusahaan yang sekarang, sebelumnya saya bekerja di perusahaan lokal, jadi tidak pernah bergaul secara langsung dengan orang asing selain orang Amerika atau Australia ( itupun karena saya les bahasa Inggris yang pengajarnya adalah Native speaker). Kesan pertama adalah mereka selalu bekerja secara cepat, terburu-buru dan juga berbicara secara cepat, jadi waktu hari pertama saya bekerja, dimana saya harus beradaptasi dengan pekerjaan baru dan orang baru yang kebetulan satu bagian saya, ketiga-tiganya juga adalah orang Jepang, mereka bicara dan bekerja cepat sekali seperti dikejar-kejar , atau seperti akan ketinggalan kereta.

Jadi, hari pertama, saya banyak berbengong ria, berusaha mengikuti ritme atasan dan berusaha mengerti apa yang harus saya kerjakan ( fyi: komputer saya dalam bahasa Jepang, sedangkan saya buta sama sekali dengan huruf Kanji), saya berusaha keras untuk mengerti dan mengingat menu-menu di komputer tersebut agar pekerjaan yang saya lakukan bisa berjalan lancar tanpa kesalahan fatal.Panggilan “San” yang dibaca “Sang” juga merupakan suatu hal yang baru, dan saya sering menyebutkan dengan Mr/Ms. Sakamoto san, sebetulnya Mr/Ms sudah tidak harus disebutkan lagi.

Esok harinya, saya datang dengan penuh kegalauan, bimbang, apakah saya lanjutkan pekerjaan ini, atau saya berhenti sekarang, mumpung belum terlalu lama, tetapi untung saja, sisi positif saya yang menang, pada waktu itu saya merasa tertantang, saya berusaha mengerti dan mempelajari bahasa Jepang, dari nol, dari hanya A,I,U,E dan O, dan Ka, Sa, Ta, Na,……Wa dan lain-lain. Saya juga baru tau kalau orang Jepang itu agak susah mengucapkan huruf ” R” dan “Ng”, Ucapan R menjadi L dan Ng, ditulisnya “N”, saya ingat sekali dan berkesan sampai sekarang adalah, beberapa waktu yang lalu, masih diawal-awal saya bekerja, saya menemukan secarik kertas post-it diatas meja saya, tulisannya begini: ” Anita san, saya ada di atas, di bera-kan”, satu pikiran yang terbersit pada waktu itu adalah.. oh.. dia lagi di toilet sedang ( maaf) pup, jadi saya tunggu saja sampai dia selesai dari toilet, setelah menunggu beberapa lama, kok, dia tidak datang-datang, dan ternyata saya baru tahu, kalau toilet itu cuma ada di lantai bawah, bukan diatas, dan yang dimaksud ” dibera-kan” adalah “DI BELAKANG” , saya cuma bisa tertawa dalam hati, menertawakan ketidak tahuan saya,.. haha, ternyata orang ini menulis ” L” menjadi “R” sedangkan “NG” menjadi “N” saja, jadilah “Dibera-kan” yang dibaca “Dibelakang” maksudnya.

Ternyata menarik juga ya mengetahui budaya asing yang kita sama sekali belum mengenalnya, jadi menambah wawasan dan pengetahuan yang bisa kita ambil manfaatnya atas kedisiplinan dan kejujuran orang Jepang, juga tak lupa gerak cepat dari mereka. Bos saya beberapa tahun lalu, kalau berjalan kaki, saya mengimbanginya dengan berlari-lari kecil, kalau tidak, saya bisa ketinggalan jauh, dan ini kebiasaan dari mereka yang katanya mereka biasa pergi naik kereta dan harus berjalan kaki menuju stasiun, juga jadwal kereta yang tidak pernah terlambat,membuat mereka juga harus siap berlari-lari/berjalan cepat agar tidak ketinggalan.

 

 

Read Full Post »

Older Posts »

Vanya2V

Mom of Rhapsody

cerita si nina

here and now, i only have words to tell you!

backpackology.me

An Indonesian travelling family, been to 25+ countries as a family. Author of several travel guide books and travelogue. Write travel articles for media. Strongly support family travelling | travelling with baby/kids. .

phdmamaindonesia

stories of womanhood and ideas for Indonesia

pacarkecilku

"Jika kau punya cerita, bagilah dengan kata-kata. Jika kau punya kerinduan, kenanglah dengan pertemuan"

Macangadungan

Sketchbook , Dreams, Beer, and all other stuffs.

falafu.wordpress.com/

Tuhan tidak pernah bimbang, selalu seimbang..

Wiwin Hendriani

Berbagi Karya, Berbagi Cerita

YSalma

Jejak Mata dan Pikiran

Fitri Ariyanti's Blog

Mengolah Rasa, Menebar Makna

Oerleebook's Situs

Kumpulan data-data artikel menarik, inovatip, mendidik. dari berbagai sumber

Nata Riawan | Bali Animator Illustrator Graphic Designer

Desain Grafis bukan sekedar Print Art Paper

tarjiem

Jasa Penerjemah Inggris Indonesia

My Idea My Imagination

About me, about my inspiration, about my imagination