Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Desember, 2018

Memasuki usia di atas 40 tahun, mulai banyak ada perubahan yang dialami oleh tubuh kita, salah satunya adalah rambut yang mulai memutih, alias uban. Orang tua saya mulai beruban sepertinya sekitar usia 50 tahunan, dan katanya sih kapan numbuh ubannya juga itu ada factor gen juga.

Maksudnya gen disini, kalau uban orang tua kita numbuhnya pas di usia muda, biasanya anaknyapun sama, rambut ubannya akan mulai ada di usia muda, misalnya di usia 20-30 tahunan.

Ada temen kantor juga gitu, padahal usianya masih dibawah 30 tahun, tapi rambutnya sudah penuh dengan uban, jadi dia sering agak iri dengan saya yang usianya lebih tua tapi rambut saya belum ada uban waktu itu.

Saat ini memasuki usia menjelang 46 tahun, rambut saya sudah mulai ada tuh satu satu yang berwarna putih, dan teman saya senangnya bukan main, hahaha, kata dia, ” akhirnya numbuh juga uban di rambutnya mbak Anita”, dan dia happy banget, karena akhirnya ada temennya, hehe.

Sampai saat ini sih saya belum kepikiran untuk mencat rambut saya, ngga tau ya kalau nanti-nanti, karena seumur-umur saya belum pernah ngecat rambut. Teman-teman lain kan ada yang dicat warna burgundy, warna ungu,hitam atau coklat tua, tapi dasarnya saya itu orangnya ngga gitu suka dandan yang aneh-aneh, jadi ya ngga pernah berkeinginan untuk ngecat rambut.

Jaman waktu SMP, ibu saya kan ikutan kursus salon, jadilah saya itu sebagai kelinci percobaan. Untuk naik tingkat, ibu saya harus ikut ujian, seperti potong rambut, keriting rambut, mencat rambut dll. Nah, untuk ikut ujian, harus ada orang yang dibawa untuk jadi modelnya selama test berlangsung.

Rambut saya dikeriting, tapi poni nya ngga, jadi lucu deh,. poni lurus dan rambut keriting, hehehe. Ada fotonya waktu pas di ijazah smp, rambut saya agak ikal gitu, padahal aslinya lurus banget, dan itu hanya sekali dikeriting, sudah itu ngga mau lagi.

Lagi mikir, gimana caranya buat nutupin uban tanpa harus dicat? pake kerudung…hahaha

 

 

Read Full Post »

Kalau kita baca artikel soal persiapan masa tua, pasti ngga jauh-jauh dari tabungan atau asuransi kesehatan. Karena pada umumnya masa tua akan sering mengalami sakit dan perlu pengobatan yang tidak murah, makanya diperlukan asuransi kesehatan.Untungnya sekarang sudah ada program pemerintah yaitu BPJS Kesehatan, dan menurut saya program itu amat membantu masyarakat khususnya masyarakat yang tidak punya asuransi kesehatan swasta yang iurannya lumayan mahal.

Contohnya orang tua saya, karena punya penyakit Diabetes Melitus sudah menahun, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan juga jantung jadi setiap bulan, mereka harus control ke dokter spesialis penyakit dalam dan juga spesialis jantung.Setiap bulan diberikan obat seperti insulin, obat darah tinggi, obat kolesterol, obat vertigo, dll, juga sebelum konsul ke dokter, harus dilakukan cek lab yaitu gula darah puasa dan tidak puasa. Kebayang kan kalau semua biaya dari cek lab, konsul ke  dokter spesialis, obat-obatan itu harus dibayar sendiri sebagai pasien umum, bukan sebagai peserta BPJS? setiap bulan saya rasa bisa lebih dari satu juta rupiah yang harus dikeluarkan. Iuran BPJS itu per orang sebagai berikut:

1. Iuran BPJS Kelas 1 adalah Rp. 80.000
Bagi Anda yang memilih keanggotaan BPJS Kesehatan kelas 1, maka fasilitas yang bisa didapatkan adalah kamar rawat inap setara dengan kelas 1 yang jumlah pasien per kamarnya maksimal adalah 2-4 orang.
2. Iuran BPJS Kelas 2 adalah Rp. 51.000
Biaya iuran BPJS Kesehatan mandiri ini naik sebanyak Rp. 8.000 dari penetapan sebelumnya, di mana peserta di kelas ini akan mendapatkan fasilitas kamar rawat inap setara dengan kelas  2 yang jumlah pasien maksimal dalam satu kamar adalah 3-5 orang.
3. Iuran BPJS Kelas 3 adalah  Rp. 25.500
Untuk peserta kelas 3 tidak mengalami perubahan biaya iuran dari sebelumnya, dan akan mendapatkan fasilitas kamar inap yang maksimal dalam satu kamar ada 2-6 pasien.
Untuk kedua orang tua saya, pilih yang kelas 2 jadi setiap bulan saya bayarkan hanya 102 ribu rupiah untuk berdua, cukup terjangkau kan?

Alhamdulilah selama masih jadi karyawan sih memang saya dicover asuransi kesehatan swasta dan juga BPJS Kesehatan, dan sampai saat ini belum pernah dipake BPJS Kesehatannya karena selalu pakai yang asuransi swastanya.

Untuk iuran BPJS karyawan, dipotong setiap bulan dari gaji sebesar Rp. 80,000,- dan disubsidi dari kantor sebesar Rp.320 ribu rupiah yang harus disetor ke kantor BPJS Kesehatan.

Jadi menurut saya, walaupun asuransi BPJS saya tidak dipakai dan diwajibkan, uang setoran tersebut bisa menjadi subsidi pemerintah untuk peserta mandiri seperti contohnya orang tua saya.Saya yakin banyak juga perusahaan lain melakukan hal yang sama.

Selain asuransi kesehatan, tentu saja dibutuhkan tabungan masa tua yang kita bisa gunakan untuk kebutuhan kita sehari-hari, ngga ada niatan saya untuk minta bantuan dari anak nantinya.Berdasarkan pengalaman saya dan juga pengalaman orang sekitar, banyak dari orang tua kita yang tidak mempunyai tabungan dan akhirnya jadi beban anak untuk memberikan jatah bulanan. Anak-anak kita tentunya juga akan berusaha membantu orang tua tetapi alangkah akan lebih baik apabila mereka bisa lebih focus mempersiapkan tabungan selama masa usia produkftif, misalnya tabungan untuk membeli rumah, biaya sekolah anak, kendaraan, dan kebutuhan lainnya.

Selain urusan materi yang harus dipersiapkan, kita juga sebaiknya menyiapkan mental, ini jauh lebih penting.Banyak orang yang sudah pensiun dan tidak ada kegiatan rutin dan juga tidak ada pemasukan, pasti akan sangat diperlukan adaptasi atas kondisi saat itu.Biasanya sih makin usia bertambah, makin sering melakukan kegiatan spiritual, karena udah mulai mikir, udah mau deket mati..hehehe…

Kegiatan seperti ikut majelis taklim, sholat sunah, puasa sunah, baca Al Quran, adalah diantaranya kegiatan spiritual yang bisa dilakukan selama usia pensiun. Ketika bekerja full time, sampai rumah sudah lelah karena macet di jalan, setelah itu urus rumah tangga, suami dan anak-anak, tentunya kegiatan spiritual tidak terlalu bisa dilakukan karena keterbatasan waktu.

Banyak contoh para pejabat yang setelah selesai menjabat, mereka mengalami post power syndrome, gejalanya biasanya jadi uring-uringan ngga jelas, masih pingin jadi orang yang dihormati dan susah diajak kompromi.

Jadi memang idealnya kita harus mempersiapkan usia pensiun ( semoga masih ada umur, Aamiin), agar di masa tua kita bisa menikmati dan menjalaninya dengan sebaik-baiknya.

 

 

 

Read Full Post »

I really love the movie with the Christmas theme, and usually it is in December, this month.

Why? because most of them always tell the story about love, care, and motivation among parents, spouse or children. The scenery on the movie is very beautiful. Snow everywhere, nice building, nice costumes, I really like it.

And the movie that I have watched more than three times is “The Holiday”. The Actress is Cameron Diaz and The Actor is Jude Law. On that movie, Jude Law is sooooooo charming and handsome with his British Accent , God,.. so damn sexy.

This film tells about two women who have broken hearts and want to take a vacation away from their daily routine.
They exchange houses, one in London, and one in New York.

Both of them get very interesting experiences and at the end of the story they both get their true love.

It is very entertaining and must watch for the ladies.

Read Full Post »

Tulisan ini disadur dari beberapa sumber seperti Kemendikbud, dan berbagai koran juga artikel.

“Tugas orang tua mempersiapkan anak menghadapi zamannya. Kita sebagai orang tua, apakah sudah mempersiapkan anak untuk menghadapi era digital saat ini? dan era kedepannya?”

Anak-anak era generasi milenial menjadi sangat cepat beradaptasi terhadap perkembangan teknologi informasi.

Karenanya orangtua menghadapi banyak tantangan dalam membesarkan dan mengasuh anak-anak di era seperti sekarang.

Mereka dituntut mempersiapkan anak-anaknya menjadi lebih tangguh menghadapi persaingan global.

Sebagai orang tua, kita harus bisa menjadi contoh yang baik dan beberapa cara agar orang tua bisa lebih dekat dengan anak diantaranya:

  1. Pujilah anak-anak apabila mereka sudah meyelesaikan tugasnya.
  2. Orang tua sebagi contoh/teladan yang positif.
  3. Tanamkan tentang pentingnya proses bukan hasil instan.
  4. Fokus pada pembentukan karakter, belajar dan kegiatan fisik seperti  pentingnya kegiatan olah raga.
  5. Utamakan kebersamaan dalam keluarga, komunikasi dan interaksi yang cukup intens dan anak-anak akan merasa diperhatikan.
  6. Mengajarkan Agama
    Menjadi kewajiban orangtua untuk mengajarkan anak-anaknya tentang agama. Pendidikan tentang agama perlu ditanam sejak sedini mungkin. Dalam hal ini, mengajarkan agama tak hanya terbatas ia bisa membaca Al-Qur’an misalnya, bisa berpuasa atau pergi ke gereja. Orangtua perlu menanamkan secara emosional agar anak menyukai aktivitas itu.
    “Jangan kosong dan lalu dimasukkan ke sekolah agama. Tidak ada dasarnya jika begitu. Bisa dan suka itu berbeda. Bisa hanya sekadar melakukan, tapi jika suka, ada atau tidak ada orangtua dia akan tetap baik,” tuturnya.
  7.  Persiapkan Anak Masuk Pubertas
    Kebanyakan orangtua malu membicarakan masalah seks dengan anak dan cenderung menghindarinya. Menurut Elly Risman, pembicaraan justru perlu dimulai sejak dini dengan bahasa yang mengikuti usianya.
    “Kalau sudah keluar air mani, sudah menstruasi, itu artinya mereka sudah aktif secara seksual dan sudah telat untuk menanamkan tentang pemahaman seks. Ya jadi suka-sukanya anak, dia bebas melakukan berbagai macam hal,” tambah Elly Risman.
  8. Persiapkan Anak Masuk Era Digital
    Bukan berarti Anda harus memberikannya gadget sejak bayi. Namun mengajarkan anak jika penggunaan gadget ada waktunya dan memiliki batasan untuk itu. Akses internet pun perlu dibatasi untuk mencegah anak melihat situs yang tidak diinginkan.
    “Ajarkan mereka untuk menahan pandangan, menjaga kemaluan. Karena jika otakmu rusak, kemaluanmu tidak bisa dikendalikan. Jika kita tidak membicarakan, anak tidak tahu bagaimana akan bersikap.” tuturnya.

    Kedepankan komunikasi sebagai pengganti gadget. Sebagai contoh, ajak anak bicara tiap kali pulang sekolah. Hal-hal di sekolah seperti tugas menumpuk, teman jahil atau guru menyebalkan sudah menjadi hal berat untuknya. Oleh karena itu, Elly menyarankan untuk berkomunikasi tentang perasaannya. Misalnya tanya perasaannya di hari itu, apa yang membuatnya bahagia dan apa yang membuatnya sedih. Dengan begitu, secara otomatis anak akan dengan mudah bercerita pada Anda tiap kali ia merasakan sesuatu.

    “Ketika anak dibatasi dia pegang gadget, orangtua perlu beri alternatif lain. Tidak bisa kalau ibu atau ayahnya tidak di rumah. Contohnya ikuti les berenang, main basket, futsal, gitar atau apa yang disukai anak,” pungkas Elly Risman.

 

 

 

 

Read Full Post »

Setelah jaman grup BBM berakhir, sekarang jamannya grup WA. Bisa lebih dari 20 grup biasanya dalam satu nomor HP.Ada grup temen SD, SMP, SMA,Kuliah, temen kantor lama, temen kantor yang saat ini, temen satu bagian, alumni pertukaran pelajar, grup Yoga, grup RT, grup sekolah anak, apalagi yang anaknya lebih dari satu.

Kadang tanpa ba bi bu, nomor kita udah disinvite untuk join grup WA, dan sementara biasanya melihat situasi dulu, ngga langsung leave group, kalau misalnya grupnya emang kita butuh atau emang kondusif ya lanjut aja ngga usah keluar.

Dalam satu grup WA tentunya banyak terdiri dari orang-orang yang berbeda agama, suku, latar belakang, dan keluarga, khususnya grup alumni sekolah lah entah SD, SMP atau SMA.Ada member grup yang diam aja, ngga pernah komen tentang apapun topic yang dibahas, ada juga yang emang rame banget, yang komen ya dia lagi dia lagi, pokoknya paling berisik deh.Sebenernya ya sama aja sih kayak di dunia nyata, ketika kita punya teman main, pasti ada yg bawel dan ada yang pendiam, tetapi yang perlu ditekankan disini adalah etika dalam berinteraksi mau itu di dunia nyata ataupun di media social.

Banyak saya menemukan di grup-grup WA yang saya ikuti, padahal sudah diwanti-wanti no sara ya, grup ini hanya untuk silaturahmi bukan buat kampanye politik atau agama.

Tapi tetap saja, ada yang kirim ceramah harian, kalau yang isinya adem tanpa menyinggung agama lain ya masih ok lah, buat bacaan yang bermanfaat.Kalau sudah menyinggung agama lain, agama lain itu kafir, ngga baik, dan lain-lain yang menyakitkan, ini beneran ngga bisa ditolerir, admin grup harus segera diingatkan untuk stop diskusi semacam itu.

Apabila admin grupnya yang justru kirim yang berbau SARA, gimana? naaah ini yang repot, siapa yang mau negur dia? hahaha.. jadinya member hanya nerima aja dan yang ngga suka ya ujung-ujungnya leave group.

Ada beberapa group WA yang sudah saya tinggalkan karena memang menurut saya ngga guna, malah nambahin kerjaan saya buat menghapus obrolan.

Beberapa etika dalam berkomunikasi di grup WA diantaranya yang menurut saya memang perlu diikuti berdasarkan pengalaman pribadi diantaranya:

  1. Sharing yang memang berhubungan dengan anggota grup.
  2. Batasi jumlah posting, jangan keseringan.
  3. Kirim dalam waktu yang wajar, bukan di tengah malam atau pagi buta.
  4. Hubungi langsung saja apabila sifatnya pribadi.
  5. Pamit saat meninggalkan grup
  6. Tidak usah mempertanyakan yang leave grup.
  7. Tidak asal menscreen shot percakapan anggota grup lalu dishare ke orang lain walaupun hanya untuk lucu-lucuan, tapi siapa tau orangnya keberatan.

Sarana komunikasi semakin hari semakin berkembang, sms sudah jarang sekali dipakai, justru WA di Indonesia yang lebih sering digunakan untuk komunikasi baik ke keluarga, teman, dan juga urusan pekerjaan dengan orang kantor ataupun di luar kantor.

Dan setiap orang itu tipenya berbeda-beda, ada yang memang dengan berbagai alasan pribadi, tanda conteng biru tidak disetting jadi orang lain tidak tahu, apakah pesannya sudah dibaca atau belum.

Kalau saya pribadi, saya tetap senang dan nyaman komunikasi dengan orang yang pakai tanda conteng biru, walaupun dia ngga langsung jawab juga ngga papa, saya ngerti kok, pasti dia lagi sibuk, lagi ada yang dikerjakan dan akan dibalas nanti.

Seandainya memang penting banget tentunya saya akan telpon langsung apalagi kalau urusan kerjaan, agar bisa selesai dan tidak ada salah persepsi.

Karena komunikasi itu penting dan etika juga penting dalam berkomunikasi.

 

Read Full Post »

Vanya2V

Mom of Rhapsody

cerita si nina

here and now, i only have words to tell you!

backpackology.me

An Indonesian family backpacker, been to 25+ countries as a family. Yogyakarta native, now living in Crawley, UK. Author of several traveling books and travelogue. Owner of OmahSelo Family Guest House Jogja. Strongly support family traveling with kids.

phdmamaindonesia

stories of womanhood and ideas for Indonesia

pacarkecilku

"Jika kau punya cerita, bagilah dengan kata-kata. Jika kau punya kerinduan, kenanglah dengan pertemuan"

Macangadungan

Sketchbook , Dreams, Beer, and all other stuffs.

blog belalang cerewet

berbagi inspirasi, menguatkan harapan

liandamarta.com

A Personal Blog of Lianda Marta

RedDoorz Blog

Blog Traveling dan Tips

falafu.wordpress.com/

Tuhan tidak pernah bimbang, selalu seimbang..

Wiwin Hendriani

Berbagi Karya, Berbagi Cerita

YSalma

Personal Blog - Jejak Mata, Rasa dan Pikiran

Fitri Ariyanti's Blog

Mengolah Rasa, Menebar Makna

Oerleebook's Situs

Kumpulan data-data artikel menarik, inovatip, mendidik. dari berbagai sumber

Nata Riawan | Bali Animator Illustrator Graphic Designer

Desain Grafis bukan sekedar Print Art Paper

My Idea My Imagination

About me, about my inspiration, about my imagination