Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Januari, 2018

Ketika mendapat instruksi untuk ikut jaga booth JICA di acara Opening Ceremony tanggal 20 January 2018 di Hotel Indonesia Kempinski, langsung saya jawab..” Yes, I am available”.

Untuk membantu persiapan booth, maka saya datang dari siang, karena saya dengar dari panitia bahwa pada jam 2 siang, ruangan akan ditutup untuk security checking oleh Paspampres, rencananya karena ada RI 2, pak Jusuf Kalla yang akan hadir.

Acara resmi dimulai pada pukul 5 sore, menampilkan tarian dari Jawa barat dan Taiko dari Jepang lalu sambutan dari kedua Negara, diwakili oleh Bapak Jusuf Kalla dan dari Negara Jepang diwakili oleh Mr.Nikkai sebagai utusan PM Jepang.

Banyak sekali hadir para tamu undangan dari kedua negara, dari Kementerian Indonesia, dari para Alumni yang pernah sekolah di Jepang, Perusahaan Jepang dan juga para artis Indonesia dan Jepang.

Artis Indonesia yang saya kenal, diantaranya ada mbak Christine Hakim, Jajang C.Noor sedangkan dari Kementerian, ada ibu Menteri KKP yang sangat populer di kalangan wartawan yaitu bu Susi Pujiastuti.

ibu Susi, mbak CH dan Jajang C Noor

Beruntung bisa foto bareng, resiko jadi public figure ya gitu, sedang makan aja keganggu, banyak tamu yang minta berfoto bersama dengan bu Menteri termasuk saya.. hehehe.

Awalnya saya bilang ke Senior representative saya, ” There is Ms.Susi”, and he replied,” iya, ada sushi di sana” tapi kok nunjuknya ke arah yang berbeda ya… ternyata yang dia maksud sushi makanan Jepang..hahaha.Ketahuan dia udah lapar karena baru pulang dari Bandung sore tadi dan pastinya belum makan malam.

Ternyata salah satu Staf Jepang kantor saya ada yang kenal dengan bu Susi, kata beliau, sudah tiga kali ke rumahnya untuk meeting, dan dia menawarkan, kalau mau foto bareng, nanti saya info ke pak Dirjennya…waaaaah.. senang banget dong yaa saya ada yang bantuin dan pak Dirjennya yang motoin pakai HP saya, makasih banyak lho pak.


JICA Booth dan Mr.Nikkai ( utusan PM Jepang)

Pak Jusuf Kalla yang mampir ke booth JICA

 

 

Iklan

Read Full Post »

MRT di Jakarta

Proyek MRT yang dapat dana pinjaman lunak dari pemerintah Jepang melalui kantor saya, JICA, rencananya akan bisa beroperasi di tahun depan.

Dipicu kebutuhan masyarakat atas pilihan jasa transportasi yang nyaman, aman dan dapat diandalkan, pemerintah provinsi DKI, ketika jaman pak Jokowi menjabat gubernur, penandatanganan untuk pekerjaan ini dilakukan.

Survey yang dilakukan sudah sejak kurang lebih 20 tahun lalu, tetapi dari dulu pemerintah DKI belum mau memulai proyek pembangunan MRT ini.

Alhamdulilah akhirnya Indonesia bisa juga punya MRT seperti di Jepang, Hongkong, Singapura, Malaysia dll.

MRT Jakarta dipersiapkan menjadi sebuah alat transportasi publik berkelas dunia.

Transportasi yang nyaman, diantaranya fasilitas stasiun, seperti AC, eskalator, elevator, ada area komersial, fasilitas umum seperti WIFI, fasilitas khusus penyandang disabilitas, ibu hamil dan menyusui, anak-anak dan lansia.

Transportasi yang aman, MRT didesign tahan gempa sesuai standar konstruksi SNI 2012, tahan banjir, pintu masuk ditinggikan hingga 1,5 meter, menggunakan anti-flood barrier system, sump-pit dengan sistem pompa dan sensor ketinggian air.Selain itu ada sistem kedaruratan dan keamanan terpadu, didukung penuh oleh kepolisian dan pemadam kebakaran, CCTV dan sistem alarm.

Transportasi yang bisa diandalkan, MRT dikendalikan dengan sistem semi otomatis level 2 (automatic train protection dan operation dengan masinis, kereta bergerak dan berhenti secara otomatis, menutup intu oleh masinis dan pengoperasion kereta dalam keadaan darurat oleh masinis), Listrik mega daya, menggunakan teknologi perkeretaapian yang terdepan.

Awal mula peletakan batu pertama proyek fase 1 dilakukan pada tanggal 10 Oktober 2013 oleh pak Jokowi, lalu  penyelesaian pekerjaan penggalian terowongan pada tanggal 23 Februari 2017.

Berharap sekali bisa mengurangi tingkat kepadatan mobil di Jakarta yang otomatis bisa mengurangi kemacetan.

Masa iya sih, negara yang cukup besar dan ibukota Jakarta yang ramai, tapi tidak ada transportasi seperti MRT ini? sedangkan di negara lain seperti Thailand, Hongkong, Singapura saja sudah punya.

Project feature of MRT Phase II

sumber: Kompas

 

 

Read Full Post »

 

Selama liburan akhir tahun, kami sekeluarga tidak ada rencana untuk pergi kemana-mana kecuali hanya kumpul keluarga di rumah.Seharusnya anak-anak sudah mulai sekolah lagi sejak tanggal 2 Januari 2018 untuk semester keduanya.Karena kantor saya masih libur dan baru masuk tanggal 4 Januari, jadilah dadakan saya tanya ke suami,”pak, liburan nginep aja di hotel yuk, ngga usah jauh-jauh, ke Sentul aja atau Bogor kotanya gitu, kata saya.Suami mengiyakan, dan seperti kebiasaan yang sudah-sudah, bagian travel coordinator ya saya.

PILIH-PILIH HOTEL

Mulailah saya browsing untuk lihat-lihat hotel di Sentul, dari dulu pingin staycation di Aston Sentul, tapi kok pas browsing untuk stay di tanggal 2 Jan, harganya masih di atas 1,4 juta, kemahalan buat saya.Lanjut lagi cari ke hotel lain, dan pas lihat di booking.com ada Desa Gumati Resort, saya ingat dulu kira-kira 9 tahun lalu, kantor saya pernah ada acara outbound (saya ngga ikutan saat itu) sepertinya tempatnya luas, seru dan ada banyak permainan yang bisa dimainkan oleh anak-anak saya.Ada water park dekat situ juga, jadi saya ngga pakai baca-baca lagi review orang-orang terhadap Desa Gumati resort ini, dan tambahan lagi, kamar yang mau saya pesan dengan tipe Grand Deluxe hanya bersisa satu kamar saja, seharga Rp.650 ribu include Breakfast untuk dua orang.Tanpa pikir-pikir panjang, apalagi pesan kamar untuk menginap besoknya, saya takutnya kehabisan kamar,  langsung booking di booking.com dengan garansi pakai kartu kredit saya.

CURUG BIDADARI

Rencana ke curug Bidadari di Sentul akhirnya  kesampaian juga, karena penasaran apalagi lokasinya memang ngga jauh-jauh banget dari Sentul City, dan lihat foto teman SMA yang diposting di FB pas dia ke sana, kelihatannya tempatnya asik, jadi layaklah dikunjungi sambil niatnya mandi di sana.

Setelah ke Curug Bidadari, yang menurut saya, cukup lah satu kali saja saya kesana, yang penting udah pernah..hehehe,

perjalanan lanjut menuju Hotel yang sudah dipesan melalui booking.com  yaitu Desa Gumati Resort.

Menuju Desa Gumati Resort ini, kami melewati beberapa hotel dalam satu area, dan Desa Gumati letaknya agak di belakang.Suasananya sepi, mau nanya orang tapi tidak ada yang terlihat mondar-mandir.Setelah salah arah karena kami menuju ke restoran, ada karyawannya yang memberitahukan letak kantornya untuk check in.Ketika kami datang, dan memberitahukan kalau kami akan check in, ternyata kamarnya belum siap, katanya karena baru banyak yang check out hari ini jadi sepi, ini salah satu jawaban waktu saya tanya, “mbak, kok sepi banget ya.. agak serem ngga sih kalau malam?” lalu suami saya juga nanya, ” kalau malam, gelap banget ngga mbak, lampunya nyala kan?’, dalam hati kami membatin, ” kok ini tempatnya creepy gini ya”. Sambil menunggu, kami juga bertanya tentang restaurant yang ada di situ, dan katanya restauran buka sampai jam 7 malam ( lho kok ngga 24 jam ya, seperti di hotel lain).Masih sambil nunggu, ada satu keluarga datang, dan katanya, dia booking di hotel Bumi Gumati lewat Traveloka tetapi kok malah diarahkan ke Desa Gumati, dan memang ketika dicek oleh si mbaknya,  nama tamunya terdaftar di Desa Gumati.

Mereka minta check dulu kamarnya, dan diantar oleh salah seorang staf untuk melihat kamar hotelnya, tetapi setelah melihat kamar, mereka pergi dan batal menginap di sana.

Hampir satu jam kami menunggu registrasi, dan ” bu.. sudah siap registrasinya, kamar sudah siap” kata si karyawati. ” Ok mbak.. ini kartu kredit saya ya” dan dijawab sama si mbaknya, “maaf bu, kami hanya terima pembayaran dengan cash atau transfer”, ” Lhooo, ngga ada buat gesek kartu kredit?” tanya saya lagi, ” maaf, ngga ada bu, kami hanya terima cash” tambahnya lagi. ” Mesin edc ngga ada sama sekali, untuk debit juga ngga ada?” tanya saya dengan agak emosi. Masa’ iya hotel yang kerja sama dengan booking.com atau traveloka yang meminta garansi kartu kredit, tetapi tidak punya mesin edc, lalu ngapain saya bayar cash, wong niat saya memang mau bayar pakai kartu kredit, biar ditagihnya bulan depannya gitu.Tapi ya sudahlah, saya bayar cash, saya tanya ada atm di mana dan ternyata harus keluar dulu ke Sentul City untuk ATM Mandiri.. alaaamaaak.. rempong banget sih, masa iya kalah sama pedagang kelontong, mereka aja bisa nerima pembayaran pakai kartu kredit atau gesek pakai debit card.

“mbak, kok ribet banget ya mau bayarnya, saya cancel aja kalau gitu deh”, saya putuskan untuk membatalkan menginap di Desa Gumati Resort ini.Dan si mbak bilang,” silahkan bu, dari ibu yang cancelnya ke booking.comnya”.

Sambil jalan keluar dari hotel tersebut, saya cari lagi hotel di Sentul, dan ada Hotel Harris, saya baca reviewnya lumayan bagus, dan yang terpenting kata suami saya “ini beneran hotel, ada satpamnya, ada receptionist yang ramah, dan ngga kalah pentingnya, lokasinya gampang kalau mau cari makan keluar.

Jadi sodara-sodara, si Desa Gumati Resort ini mungkin kalau untuk acara gathering kantor atau outbound yang pesertanya ratusan orang, mungkin lho ya cocok tapi kalau untuk keluarga seperti kami yang cuma berempat, ini lokasi kurang cocok, terlalu sepi dan bangunan juga sudah agak lama.

Baca-baca review dari tripadvisor, banyak yang complain ternyata, dari yang AC di kamar bocor, pemanas teko tidak berfungsi,pipa westafel bocor,bangunan terlihat tua, tidak terawat,kolam renang kecil untuk ukuran resort,kamar sangat tidak redomended, staf kurang sigap, demikan beberapa komen negatif di halaman booking.com.

Berhubung udah kesel, jadi ngga kepikiran mau motret-motret, jadi maaf ya, ngga ada foto-foto untuk Desa Gumati Resortnya, tapi kalau dilihat dari websitenya bagus banget lah ( http://www.desagumati.co.id)

Sekian sharing pengalaman pribadi di awal tahun 2018.

Semoga tahun 2018, bisa menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bijaksana, lebih sabar, lebih giat belajar ilmu agama (umur 40 tahun lebih book), belajar ilmu parenting, ilmu menjadi istri dan ibu yang baik, dan banyak lagi ilmu2 yang bisa dipelajari.

 

 

Read Full Post »

Going to Bogor by Train (Commuter Line)

Bogor city has to be friendlier for tourist.

Why did I say that?

It is an experience from my colleague.

He went to Bogor by train with his family, total 5 persons include baby.

When he arrived at Bogor Station, it was so crowded; oh I forgot to mention that he went to Bogor on 25 December, which is national holiday for us.

He said to me that he will try use train instead of car, and I said, yes, it must be fun and a bit adventure for you and your family.

About 12 o clock at noon, he arrived at Bogor station, and he was confused to go out and difficult to walk because of so many people there.

waiting at pasar minggu station and inside of the train

He found a tourist office nearby station, but it took almost one hour to get there.

He asked one of staff of the tourist office, how to get taxi to hotel Aston, and the staff explained, difficult to find taxi, so he suggested rent a car and he has to pay 250 thousand rupiah (it is very expensive).

After waited about 45 minutes, car didn’t come (still on the way), but of course, his children felt hungry and tired.

He decided to use online transportation, Go Car and it was only five minutes and fare only less than 100 thousand rupiah to Aston Hotel, yeeees.. it just more than half price of rental car.

So, he cancelled the rental car and change to use online.

On the way to hotel, (he didn’t know exactly which street), there was an fire accident and one way was closed, traffic jam, plus a lot of green bus (angkot)every where.

He saw the lamp sign of the gasoline was red, and he felt it was really a worst day for the adventure, if car stop and he has to push until gas station… oh gosh….but car still continue going to hotel without stop.

Need 4 hours from Bogor station to Aston Hotel in Bogor City, what a day…hahaha.

 

Read Full Post »

Vanya2V

Mom of Rhapsody

cerita si nina

here and now, i only have words to tell you!

backpackology.me

An Indonesian travelling family, been to 25+ countries as a family. Author of several travelling books and travelogue. Write travel articles for media. Owner of OmahSelo Family Guest House Jogja. Strongly support family travelling with kids/babies.

phdmamaindonesia

stories of womanhood and ideas for Indonesia

pacarkecilku

"Jika kau punya cerita, bagilah dengan kata-kata. Jika kau punya kerinduan, kenanglah dengan pertemuan"

Macangadungan

Sketchbook , Dreams, Beer, and all other stuffs.

RedDoorz

Your Traveling Buddy

falafu.wordpress.com/

Tuhan tidak pernah bimbang, selalu seimbang..

Wiwin Hendriani

Berbagi Karya, Berbagi Cerita

YSalma

Jejak Mata dan Pikiran

Fitri Ariyanti's Blog

Mengolah Rasa, Menebar Makna

Oerleebook's Situs

Kumpulan data-data artikel menarik, inovatip, mendidik. dari berbagai sumber

Nata Riawan | Bali Animator Illustrator Graphic Designer

Desain Grafis bukan sekedar Print Art Paper

tarjiem

Jasa Penerjemah Inggris Indonesia

My Idea My Imagination

About me, about my inspiration, about my imagination