Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Februari, 2014

anak-anak serius mendengarkan

anak-anak serius mendengarkan

Kebiasaan kita sebagai orang tua, memang tak luput akan menjadi panutan buat anak-anak.Makanya saya sering-sering harus mengingatkan diri sendiri, apabila sedang kumat marah-marahnya, saya harus meredam emosi saya.Karena akhir-akhir ini, saya melihat Alifa kalau marah, mirip banget sama saya, dari suaranya yang melengking dan ngga sabaran.Awalnya saya sempat kaget, ketika Alifa marah-marah dengan adiknya yang ingin mengambil ikan di Lembang, dan Alifa teriak seperti orang tidak sabaran, dan saya kagetnya, itu mirip gue bangetttt….ya ampun, saya langsung bilang ke Alifa, kalau itu ngga enak dilihat orang lain.Mulai dari situ, saya harus sering meredam emosi saya apabila mulai kesal, karena tindakan saya tersebut, betul-betul dicontoh anak saya.

Terus terang, saya memang tidak suka dengan gaya/cara mendidik ibu saya, karena mudah emosian, dan sering keluar kata-kata yang agak kurang enak didengar, khususnya anak-anak.Sekarang ini, saya mulai berpikir, kenapa kok saya tidak suka dengan gaya ibu saya apabila saya marah, tetapi hal itu malah saya terapkan ke anak-anak saya.Toh, saya aja ngga suka, kenapa malah saya praktekan ke anak-anak saya? seharusnya saya bisa memilih dan mengkoreksi pola asuh orang tua kita.Orang tua kita jaman dulu pun tidak ada sekolahnya untuk menjadi orang tua, mereka hanya menjalankan secara alamiah, begitu menikah, punya anak, dan mengurus anak, membesarkan anak, menyiapkan/mengatur biaya pendidikan, biaya kesehatan, biaya sandang pangan dan lain-lain.

Bagusnya di jaman sekarang ini, semakin banyak informasi yang bisa kita ambil dan terapkan sebagai contoh yang bisa kita aplikasikan langsung.Memang sih, tidak semua teori itu cocok buat anak-anak kita ataupun buat kita sebagai orang tua.Saya yakin, semua orang tua pasti berkeinginan agar anak-anaknya menjadi anak-anak yang berguna, tetapi pada masa-masa yang dilalui banyak sekali faktor yang mempengaruhi pola asuh tersebut.Biasanya pola asuh akan dicontoh dari pola asuh orang tua kita, dan kita, orang tua kita melakukannya secara turun temurun.Kita sebagai generasi modern di era digital,seharusnya bisa lebih memilah, pola asuh mana yang baik buat perkembangan anak, mana yang kurang baik.

Sebagai anak, tentunya kita tetap harus berterima kasih dan berbakti kepada orang tua kita, tanpa mereka, kita tidak mungkin ada di dunia ini.Nah observasi anak itu amat mudah ditiru dari orang terdekatnya.Contohnya yang saya alami, yaitu, anak saya yang kecil, Dammar, selain meniru, dia juga pandai melihat/merasakan perubahan raut muka/perasaan orang tuanya.Mereka adalah pembelajar sejati, dengan polosnya bicara tanpa harus merasa salah ataupun malu.

Ceritanya, pada saat saya ke toko buku, niatnya hanya mencari buku obral murah, tetapi ujung-ujungnya malah anak-anak saya minta macam-macam, minta beli stiker, minta beli kanvas plus spidolnya selain buku bacaan yang sebelumnya sudah mereka pilih.Di depan kasir, saya membatin,” duuh, ini berapa nih totalnya, pasti mahal deh, padahal kan cuma mau lihat-lihat kalau ada buku murah,” sambil bergumam dalam hati.Tiba-tiba saja Dammar berdiri di depan saya dan bertanya,” mama, kenapa mama kok mukanya cemberut kayak gitu, ( sambil meniru muka manyun), ya ampun, ternyata, saya yang hanya mengucap dalam hati, langsung terbaca di raut muka saya, dan malunya itu lho, takut kedengeran sama pengunjung yang juga sedang antri.
Tuh kan? anak-anak itu jangan dikira mereka tidak mengerti,justru mereka sangat peka dan mudah merasakan perubahan pikiran/hati orang tuanya.Kita yang sebagai orang dewasa yang harus banyak belajar dari anak-anak.

Jadilah, introspeksi lagi buat saya, apa yang keluar dari dalam hati, akan terpancar di muka kita,dan anak-anak akan ikutan galau kalau ibunya juga galau.

Iklan

Read Full Post »

Beruntung

Feel Lucky?
Perasaan beruntung itu harus sering-sering kita rasakan.Hidup itu memang bermacam-macam berbagai peristiwa, entah senang atau sulit.

Kemarin, saya ikutan menginterview calon pengganti salah satu teman di satu divisi yang akan cuti melahirkan.
Atasan saya tanya ke saya, kira-kira ada teman atau tidak untuk mengisi posisi salah satu teman saya yang akan melahirkan.Diperkirakan pertengahan Maret bulan depan.
Memang sih masih lama, sebulan lagi, tetapi namanya perkiraan, siapa yang tahu tiba-tiba saja teman saya itu bisa melahirkan lebih awal dari pada jadwal yang diperkirakan.

Saya sudah tawarkan ke teman yang kebetulan tidak bekerja, tetapi saya sudah tahu jawabannya, hehehe.Jadi,karena ngga ada ide, mau menawarkan siapa lagi ke teman saya,yang mau kerja selama empat bulan, saya pikir,coba ah kirim email ke milis sekretaris yang saya ikuti, trafficnya cukup ramai, saya posting dengan judul lowongan untuk sekretaris temporer, periode kerja selama empat bulan saja.
Awalnya saya pikir, jarang yang mau ikutan melamar, tetapi ternyata, sehari saja saya terima kiriman cv lebih dari sepuluh pelamar.

Lalu, setelah dihubungi oleh bagian HRD,ada 7 candidat yang datang.Masing-masing kami mengiterview selama lebih kurang lima belas menit saja.Yang utama sebenarnya kami hanya ingin tahu, kapan bisa mulai bekerja.

Dari beberapa candidat yang kami wawancara,dan dari latar belakang motivasi melamar yang berbeda-beda.Saya merenung dan mengambil kesimpulan, saya amat beruntung, saya punya suami, punya anak,tetapi masih bisa bekerja, mempunyai penghasilan untuk membantu keluarga.(jujur sih, galau untuk bisa tinggal di rumah, menemani anak masih menghantui, hehe).Tetapi saya Insya Allah berjanji, kapanpun anak saya membutuhkan saya, saya akan coba selalu ada buat mereka.

Ada dua orang candidat yang sudah berusia lebih dari 40 tahun, mereka masih belum menikah, dan sedang tidak bekerja sekarang ini.Ketika kami tanya, mengapa ikutan melamar untuk posisi yang hanya empat bulan saja? mengapa tidak mencoba melamar yang posisi permanen? jawaban mereka, hampir sama, ” Mengapa harus menolak kesempatan, dari pada tidak bekerja sama sekali, sedangkan saya harus menghidupi diri sendiri dan keluarga saya”. Mereka sudah tidak punya orang tua lagi, hidup untuk mereka sendiri dan adik-adiknya.

Hanya satu yang ada di benak saya,” ternyata masih banyak orang lain yang tidak seberuntung saya”.

Kalau pertimbangan pemilihan karyawan dari rasa kasihan, pasti saya sudah pilih diantara kedua candidat tadi, tetapi keputusan harus dirundingkan dahulu.
Dan sayangnya keputusannya, kita tidak bisa memilih salah satu dari antara dua orang candidat tersebut.Kami memilih candidat yang memang sebelumnya pernah bekerja di project tenaga ahli kantor kami.
Semoga saja pelamar yang sudah ikutan interview, bisa mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik dari pada bekerja di perusahaan saya.

Apapun kondisi saat ini yang kita keluhkan, ternyata masih jauh lebih baik dari orang lain, bersyukur dengan apapun yang sudah Allah berikan, agar nikmat kita juga ditambah.

Read Full Post »

Vanya2V

Mom of Rhapsody

cerita si nina

here and now, i only have words to tell you!

backpackology.me

An Indonesian travelling family, been to 25+ countries as a family. Author of several travel guide books and travelogue. Write travel articles for media. Strongly support family travelling | travelling with baby/kids. .

phdmamaindonesia

stories of womanhood and ideas for Indonesia

pacarkecilku

"Jika kau punya cerita, bagilah dengan kata-kata. Jika kau punya kerinduan, kenanglah dengan pertemuan"

Macangadungan

Sketchbook , Dreams, Beer, and all other stuffs.

BLOG BELALANG CEREWET

dicatat biar awet

falafu.wordpress.com/

Tuhan tidak pernah bimbang, selalu seimbang..

Wiwin Hendriani

Berbagi Karya, Berbagi Cerita

YSalma

Jejak Mata dan Pikiran

Fitri Ariyanti's Blog

Mengolah Rasa, Menebar Makna

Oerleebook's Situs

Kumpulan data-data artikel menarik, inovatip, mendidik. dari berbagai sumber

Nata Riawan | Bali Animator Illustrator Graphic Designer

Desain Grafis bukan sekedar Print Art Paper

tarjiem

Jasa Penerjemah Inggris Indonesia

My Idea My Imagination

About me, about my inspiration, about my imagination