Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Oktober, 2012

Ungkapan seperti, “Mana ada sih yang enak, tinggal sama orang lain?”, kata-kata itu amat sering saya dengar dari ibu saya.Ibu saya selalu berdoa semoga anak-anaknya tidak ada yang sampai terpaksa ikut dengan saudara atau kerabat. Pengalaman beliau yang agak kurang menyenangkan apabila ikut keluarga sendiri.Dengan bujukan kakek saya, ibu saya tinggal bersama tantenya ( adik kakek saya), untuk bisa disekolahkan di Jakarta. Berharap bisa hidup lebih senang, bisa mendapatkan pendidikan lebih tinggi dari orang tuanya, itu harapan kakek saya. Konsekwensinya, ibu saya harus membantu ekerjaan sehari-hari , dari bangun pagi untuk membersihkan rumah, dan cepat-cepat harus berangkat ke pasar membeli sayuran. Pulang dari pasar, ibu saya terburu-buru untuk segera berangkat ke sekolah.Tepat waktu sampai di sekolah amat jarang bisa dilakukan ibu saya.Semua guru sudah memaklumi kondisi ibu saya saat itu.

Nilai sekolah tidak bisa cemerlang, lulus saja sudah bagus, karena boro-boro bisa belajar giat, sedangkan pekerjaan rumah menumpuk. ” Suaaii… sedang apa? ini tolong setrika baju saya!” ujar sepupunya. Anak tante ibu saya ada 6 orang, Tante Ami alm, tante Timah, Tante Memeh, Tante Mala, Om Didin dan Om Naser. Ke enam sepupu ibu saya itu, berbagai macam sifatnya. Ada yang sopan, pemalas, jahil, dan kurang sopan.Tetapi seiring berjalannya waktu, mereka tumbuh dewasa, dan masing-masing punya kehidupan sendiri.

Adik kakek saya itu, bernama Nurtaibah, dan kami biasa memanggilnya dengan sebutan nenek gendut, karena memang beratnya yang lebih dari 100 kg, apabila naik becak, ya satu becak itu sendirian, begitu juga dengan naik bajaj. Nenek Taibah orang yang sangat cerewet, tetapi baik sekali hatinya.Senang mengunjungi para kerabat dan handai taulan, walaupun lokasi yang jauh, rumah yang sempit, jalanan masuk gang, tetap saja, beliau rajin untuk bersilaturahmi.Selalu memberikan nasehat kepada kami, cucu-cucunya untuk jangan tinggal kan sholat, “kita tidak tahu kapan kita dipanggil Allah, maka jangan tinggalkan sholat”, kalimat itu yang tidak pernah terlupa dari mulutnya apabila bertemu kami.

Beliau tidak pernah mengalami sakit yang parah, sampai minggu lalu, ada kabar, beliau masuk ICU di RS. Cinere. Karena kebetulan letak RS yang jauh dari rumah ibu saya, maka saya ambil cuti untuk mengantar ibu dan ayah saya menjenguknya.Alhamdulilah, saya dengar, beliau sudah lebih baik keadaannya, dan akan dipindahkan ke ruang rawat biasa.Semua kerabat ditanya oleh beliau, dan anak-anaknya menghubungi para kerabat untuk memberikan kabar tentang keadaan nenek Taibah di RS.Banyak sekali penjenguk, sampai akhirnya karena nenek tidak bisa istirahat, dikarenakn beliau tidak lepas dari bicara, dan akhirnya sempat drop kondisinya.

Sudah cukup lama,ibu saya tidak bertemu dengan para sepupu-sepupunya, dan itu membuat perasaan ibu saya terharu, mengenang bagaimana beliau tinggal bersama zaman dahulu, masih remaja, dan sekarang, sudah punya cucu, dan sudah ompong giginya.Alhamdulilah kondisi ibu saya terbilang cukup, walaupun hidup sederhana, dengan empat orang anak,  dengan gaji pas-pas an dari suami, tetapi anak-anaknya semua bisa hidup cukup, dan itu semua berkat doa ibu dan kerja ayah saya, serta doa seluruh kakek, nenek, tante, om, etek, cik dan seluruh keluarga.

Tentunya, ibu saya tidak akan pernah lupa jasa-jasa dari nenek Taibah, walaupun sering marah/cerewet, tetapi selalu ada kebaikan di balik kemarahan beliau. Hal itu bisa diambil hikmahnya setelah sudah dewasa, pada jaman masih tinggal sama-sama dulu, yang terpikir hanya,” tante jahat, tante bawel dan tante cerewet”.

Di keluarga kami, kami juga mengasuh seorang anak dari anak paman aku, paman aku, Etek Izhar, sudah meninggal, dan meninggalkan 4 orang anak yang  masih kecil-kecil. Nenek kandung saya di kampung, berinisiatif membawa Pompie untuk diasuh oleh ibu saya.Tanpa minta ijin dan pemberitahuan, tiba-tiba saja, nenek dan Ipong (nama panggilan), datang naik bis dari kampung.Masih teringat di benak saya, nenek membawa seorang anak yang masih ingusan, baju kotor karena terkena muntahan di perjalanan, wajah agak gelap, karena lokasi rumah di kampung yang dekat dengan pantai.

Ipong belum terbiasa dengan bahasa Indonesia, dia bicara dalam bahasa Rejang, dengan ibu, ayah dan nenek saya. Kami anak-anaknya sih mengerti juga bahasa Rejang, tetapi untuk pengucapan, masih sulit, karena tidak terbiasa. ” Pong, main sana sama teman-temannya” ujar kami. Berharap dia bisa bergaul dan punya teman di lingkungan barunya.Pendiam dan agak kikuk, itu kesan pertama kami terhadap Ipong.

Orang tua saya mendaftarkan Ipong di sekolah SD Negeri 02, Pondok Bambu, awalnya dari yang tidak mengerti bahasa Indonesia, dan kami sempat khawatir, apakah dia bisa mengikuti pelajaran dengan baik atau tidak, tetapi ternyata, dia bisa cepat menyesuaikan, alhamdulilah juga bisa lulus dan masuk ke SMP Negeri juga.Sayangnya Ipong tidak bisa tembus ke SMA Negeri, dan mendaftar di SMK Swasta di kali malang.Pada saat Ipong kelas 2 SMA, di pertengahan tahun, ayah saya sudah tidak bekerja lagi, sudah pensiun. Kami anak-anaknya merasa harus melanjutkan tanggung jawab orang tua saya untuk menyelesaikan pendidikan Ipong sampai tamat SMK.Sedikit-sedikit kami patungan untuk membiayai sekolahnya dan biaya ujian, target kami, yang penting lulus SMK dulu deh, baru setelah itu, apabila dia ingin melanjutkan kuliah, bisa nanti setelah dia bekerja, lalu punya uang sendiri dan bisa melanjutkan sekolah lagi.

Kami sangat paham, seenak-enaknya tinggal di rumah orang, masih lebih enak tinggal di rumah sendiri, apapun kondisinya. Saya tahu perasaan Ipong yang merasa seperti selalu jadi orang yang disuruh-suruh, selalu dimarahi, atau dicereweti oleh ibu dan kami, para sepupunya.

Berbekal pengalaman ibu saya, ada perasaan terkucilkan selama beliau tinggal dengan tantenya, Nenek Taibah, maka kami berusaha menganggap Ipong adalah bagian dari hidup kami, bagian dari keluarga kami. Apa yang kami makan, Ipong pun makan, tinggal di rumah yang sama, dulu malah, saya sempat berbagi kamar dengan Ipong.

Semua kejadian itu adalah sudah takdir, atas ijin Allah, daun yang berguguranpun sudah menjadi takdirnya. Maka, Ipong menjadi bagian dari keluarga kami, adik kami, adalah takdir dari Allah.Pasti sudah ada rencana Allah yang sangat indah untuk kami sekeluarga dengan hadirnya Ipong di tengah-tengah keluarga kami.

Kami sadar, banyak sekali kekurangan kami sebagai tempat untuk berbagi kasih sayang selayaknya orang tua/saudara kandung. Kami sadar, kami adalah keluarga pas-pas an yang masih berusaha berjuang untuk memenuhi kebutuhan kami sendiri. Kami sadar, walaupun kami marah, kami kesal dan emosi, tetapi tidak ada sebersitpun di benak kami untuk tidak perduli terhadap saudara kami.

Tidak ada orang tua yang berharap jelek terhadap anak-anaknya, dan saya yakin 100%, ibu dan ayah saya juga berharap yang terbaik buat Ipong sama seperti anak kandungnya sendiri. Kami adalah keluarga satu-satunya di Jakarta yang akan selalu menjadi tempat untuknya bertumbuh dan berkembang menjadi orang yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan juga bagi orang lain.

Perhatian yang tidak pernah lengah terhadap kegiatan Ipong, janganlah dianggap sebagai suatu bentuk kebencian. Pertanyaan seperti, ” dari mana saja?”, “Kok pulang pagi?”, dan berbagai pertanyaan yang dilontarkan ibu saya adalah sebagai bentuk perhatian terhadap anak asuhnya.Karena kita sudah terlanjur mendidik Ipong dari kecil, sudah menganggap bagian dari keluarga kami, maka kami akan selalu merasa mempunyai beban moral apabila ternyata Ipong tumbuh menjadi anak yang kurang terdidik, dari segi sopan santun, segi keagamaan, kerajinan, dan lain-lain. Kami akan sangat merasa bersalah dan gagal, dan ini akan membuat orang tua kami akan sedikit merasa tidak berhasil menjadi orang tua asuh yang baik bagi Ipong.

Tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baik, apapun itu, dengan segala kondisi yang ada sekarang ini. Janganlah selalu melihat ke atas, lihatlah sekeliling, dan kondisi orang lain yang lebih sulit dari kita.Man Jadda Wa Jadda, hanya yang bersungguh-sungguh akan berhasil.

Read Full Post »

Sebagian orang khususnya orang tua yang mempunyai anak, pasti sudah merancang tabungan untuk biaya pendidikan, apalagi biaya pendidikan di Indonesia ini sangat tinggi inflasinya, bisa lebih dari 10% pertahun.Daya saing anak-anak zaman sekarang amat berat, kalau anak-anak hanya mengikuti pendidikan di Sekolah, sepertinya kurang maksimal, sedangkan anak lainnya banyak yang ikut pelajaran tambahan di luar jam sekolah.Untuk biaya les bahasa Inggris, les mengaji, les matematika, les renang, les aikido, les melukis, les musik, dan berbagai macam les yang diikuti anak, pastinya juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Sebagai orang tua, pastinya kita ingin dan berusaha memberikan anak yang diamanahkan Allah kepada kita, bekal yang cukup untuk bisa menjadi generasi yang bisa berkompetisi secara sehat dan bermartabat dalam kehidupan mereka di masa yang akan datang.

Ibu saya selalu menekankan untuk rajin menabung, dan itu juga yang saya lakukan sampai saat ini, saya berusaha berhemat dan merelakan untuk tidak berfoya-foya demi bersabar untuk memetik buah yang didambakan.Dengan menabung di bank, apalagi bank Syariah membuat perasaan aman karena memenuhi syariat Islam, apalagi nama BNI yang cukup terpercaya sebagai bank pemerintah yang sudah pengalaman berpuluh-puluh tahun dalam mengelola keuangan masyarakat.

Semakin banyak produk yang bisa kita manfaatkan melalui BNI Syariah, tergantung kebutuhan kita. Ada produk untuk perorangan, dan ada produk untuk perusahaan juga ada produk untuk bisnis/ukm.Produk yang cocok buat saya adalah produk tabungan ib Tapenas Hasanah.Tabungan iB Tapenas Hasanah adalah tabungan perencanaan dalam mata uang Rupiah yang digunakan untuk mewujudkan rencana masa depan, misalnya untuk dana pendidikan, umroh, pernikahan, dan liburan.Dalam satu produk, kita bisa memanfaatkan untuk berbagai macam tujuan. Ingin liburan keliling daerah bersama keluarga, atau umroh bersama keluarga dan yang paling penting buat saya adalah biaya pendidikan, berhubung anak-anak saya masih berusia 6 tahun dan 4 tahun, pastinya perjalanan masih panjang dan perlu dana yang besar untuk sampai ke jenjang universitas.

Ada satu produk lagi yang menarik buat saya, yaitu produk Tabungan iB THI Hasanah,Tabungan iB Haji Hasanah didesain untuk membantu individu dalam merencanakan pemenuhan Biaya Penyelengaraan Ibadah Haji.Hampir semua orang muslim, berharap bisa pergi ke Mekkah dan menunaikan ibadah haji, kalau hanya berdoa tanpa berusaha menabung, kok ya sepertinya tidak ada usaha sama sekali, saya yakin, dengan menabung sedikit-sedikit, saya yakin Allah akan melunasinya dengan caranya sendiri, selama kita terus berusaha dan niat karena ingin beribadah karena Allah.

Memang sih, kalau mengharapkan bagi hasil yang besar dari tabungan, pastinya sangat jauh dari yang diharapkan, inflasi dan pendapatan bagi hasil dari tabungan tentunya tidak seimbang, tapi walaupun begitu, menabung itu tetap suatu keharusan buat saya. Sedangkan untuk investasi yang menghasilkan lebih besar, bisa dengan menabung emas/dinnar,  bisnis rumah kontrakan, reksadana saham dan lain-lain, tentunya banyak artikel dari para pakar pengelola keuangan yang bisa kita baca dan praktekkan.

Ayo, mulailah sedini mungkin, hubungi  atau datangi BNI Syariah terdekat dan dapatkan produk yang sesuai dengan kebutuhan kita, tentunya tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baik.

Read Full Post »

Kebahagiaan dalam bekerja

Setelah selesai weekend, pasti ada rasa malas untuk kembali datang ke kantor, hari Senin yang identik dengan kemacetan, harus bangun pagi-pagi sekali, harus mikir bekal anak-anak, dan biasanya kondisi tubuh yang letih setelah pergi jalan-jalan bersama keluarga. Apalagi kalau anak kita yang merengek minta ibunya ngga usah ke kantor.. ” mama di rumah aja, temenin aku… aku kan kangeeeen” , atau ” Maaamaaa.. nanti pulang siang ya.. jangan malam-malam”… hikss.. dilema deh mau berangkat.. tapi ya mau gimana, tetap aja harus berangkat ke kantor. Mama minta maaf ya Nak, belum bisa sepenuhnya menemani kamu di saat kamu membutuhkan mama, tapi mama janji setelah mama pulang kantor, pasti waktu mama seluruhnya hanya untuk anak-anak dan bapak kalian.

Namun, perasaan malas yang menggoda kita untuk kembali bekerja, harus kita perangi dengan mengingat hadits Rasullulah agar kita selalu giat dalam mencari rezeki, diantaranya:

1.Mencari rezeki yang halal itu wajib sesudah menunaikan yang fardhu ( seperti shalat, puasa, dll). ( HR.Ath Thabrani dan Al-Baihaqi).

2.Sesungguhnya Allah suka kebersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah ( HR.Ahmad).

3.Seorang yang membawa tambang lalu pergi  mencari dan mengumpulkan kayu bakar lantas dibawanya ke pasar untuk dijual dan uangnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan nafkah dirinya maka it lebih baik dari seorang yang meminta-minta kepada orang-orang yang terkadang diberik dan kadang ditolak ( Mutafaq’alaih).

4.Tiada makanan yang lebih baik dari pada hasil usaha tangan sendiri. ( HR.Bukhari).

Seperti apakah niat yang spesifik?

Dikisahkan dalam Keberkahan Finansial, ada seorang janda yang awalnya miskin namun akhirnya bisa mengubah kehidupannya setelah mendirikan warung makan.

Ternyata, warung makan tersebut berdiri karena sang janda berniat untuk membantu para tukang becak yang ingin mencari tempat makan namun hanya memiliki sedikit uang. Karena itulah warung tersebut dirintis agar mereka bisa makan dengan menu yang harganya murah.

Lama kelamaan teernyata warung tersebut akhirnya bisa menghasilkan jutaan rupiah per harinya.

Dari cerita di atas, jika dibanding dengan niat yang tidak jelas seperti “mendapat banyak uang” atau “mencari sesuap nasi”, maka niat spesifik dan ikhlas seperti yang ada dalam cerita tersebut akan bisa menjadi sumber motivasi jangka panjang dalam setiap tindakan karena sasaran kita sudah jelas, tidak hanya asal-asalan bekerja.

Lagi pula seperti halnya Hukum Daya Tarik atau Law of Attraction, bila niat hanyalah untuk “mencari sesuap nasi”, maka jangan salahkan Tuhan jika Anda hanya mendapat sesuap nasi.

Berkali-kali Anda mendengar kata-kata bijak yang berbunyi..

“Do what you love and the money will follow.”

Dalam filosofi tersebut, apa yang perlu kita fokuskan adalah “love” atau cinta akan apa yang kita lakukan, bukan “money” atau uang. Kalau kita sudah jatuh cinta pada apa yang kita kerjakan, maka otomatis uang akan datang (meski demikian, tentu ini tergantung pada apa yang kita kerjakan tersebut).

Selain berlaku untuk berapa banyak uang yang akan kita dapat, filosofi tersebut juga bisa diterapkan untuk seberapa efektifkah usaha kita dalam melakukan sesuatu.

OK, saya akan menunjukkan salah satu hasil penelitian oleh Dan Ariely dari Duke University dan James Heyman dari University of St. Thomas, seperti yang ditulis oleh Peter Bregman di Harvard Business Review.

Dalam penelitian tersebut, ada beberapa orang yang diminta untuk menghadap suatu layar komputer. Dalam layar tersebut, ada gambar kotak di sebelah kanan, dan gambar lingkaran di sebelah kiri. Kedua orang tersebut diminta untuk melakukan hal yang sama, yaitu memasukkan gambar lingkaran ke kotak di sebelah kanan sebanyak mungkin dengan mouse sebanyak mungkin selama lima menit.

Bedanya, beberapa orang akan mendapat 5 dolar (sekitar Rp 50.000), dan yang lain ada yang mendapat 50 sen (sekitar Rp 5000) untuk melakukan itu. Sementara, beberapa lagi hanya dimintai tolong, dan tidak akan mendapatkan apa-apa sebagai imbalan.

Coba tebak hasilnya. Rata-rata orang yang dibayar 5 dolar menarik 159 lingkaran, orang yang mendapat 50 sen menarik 101 lingkaran, dan orang yang hanya dimintai tolong ternyata bisa menarik 168 lingkaran.

Orang-orang sukses telah membuktikan bahwa mencintai pekerjaan, bukan mencintai uang, adalah apa yang membuat mereka berhasil.

Memang kita butuh uang, tapi jangan sampai uang justru membatasi apa yang seharusnya bisa kita lakukan.

Seharusnya orang yang dibayar tadi bisa memasukkan lebih banyak lingkaran, tapi karena imbalan sudah ada di pikirannya, usahanya menjadi kurang.

Bahkan, dalam urusan ibadah pun juga sama. Dalam buku, terdapat sebuah kutipan bagus dari Imam Ali bin Abi Thalib yang berbunyi:

“Sekelompok orang menyembah Allah karena menginginkan ganjaran. Inilah ibadah pedagang. Yang lain menyembah Allah karena takut. Inilah ibadah seorang budak. Kelompok lain menyembah Allah karena rasa syukur. Inilah ibadah orang yang merdeka.”

Artinya, orang yang merdeka beribadah bukan semata karena menginginkan imbalan atau karena rasa takut. Tapi menginginkan imbalan itu tak masalah. Sebab, Tuhan toh juga menghadiahkan surga bagi hamba-Nya yang berbuat baik.

Namun kita perlu menjadi pribadi yang merdeka, yang tak terbatasi oleh seberapa besar imbalan yang akan kita dapat.

Ketika kita akan pergi ke suatu tempat, entah dengan mobil, sepeda motor, atau kendaraan apapun, apakah kita menunggu sampai semua lampu hijau disepanjang  jalur yang akan dilalui? Tentu tidak.

Apakah kita juga menunggu sampai semua jalanan sepi? Tentu tidak.

Kita tentu akan terus melaju, berhenti ketika ada lampu merah, dan berjalan lagi ketika lampu hijau. Jika ada kendaraan yang menghalangi jalan, tentu kita akan mencari jalan untuk bisa melaluinya.

Ini sama seperti halnya jika ingin mencapai tujuan dalam hidup. Tidak perlu menunggu sampai semuanya sempurna,karena ksempurnaan terjadi dalam proses bukan hasil.

dikutip dari blog institut kemandirian

Read Full Post »

Waktu usia saya masih dibawah 30 tahun, saya sudah beberapa kali pindah pekerjaan, dari awal dulu sebagai receptionist, pernah juga jadi SPG di supermarket, pernah jadi operator telpon, dan pernah juga jadi bagian administrasi di lembaga bimbingan belajar.

Saya pernah memutuskan untuk menjadi penggangguran, karena saya belum dapat pekerjaan lain, tetapi karena saya sudah sering ijin untuk interview, maka saya ditegur oleh bos saya, dan dalam hati saya.. ” siapa juga yang mau kerja di kantor ini seumur hidup?, di percetakan kecil, teman yang lain, semuanya emak-emak, saya ngga punya teman seumuran, sesama single dan sepermainan, jadi rasanya seperti terkungkung di dalam tempurung. Setelah menganggur, malah tidak ada panggilan kerja, ada kira-kira tiga bulan, saya mengganggur, sangat membosankan, dan apalagi tidak pegang uang.. rasanya kok seperti jadi benalu di rumah ibu saya. Lalu saya dapat panggilan kerja, untuk menggantikan karyawan yang akan cuti melahirkan, saya oke-in saja, toh dari pada saya mengganggur,cuma kontrak 3 bulan, juga ngga papa deh, pikir saya saat itu.Toh, akhirnya malah keterusan sampai sekarang, sudah 12 tahun saya bekerja di perusahaan ini, apalagi sekarang usia sudah menjelang 40 tahun, punya dua anak, dan rasanya agak susah bersaing kalau mau pindah kerja lagi.

Memang, lebih punya bargaining power, kalau kita masih status karyawan dan ingin pindah kerja, dibanding kalau kita menganggur, perusahaan akan pikir, kita akan sangat membutuhkan pekerjaan, jadi tidak ada daya tawar menawar lagi.

Ada beberapa tips yang saya copy paste dari ibu Lies, di milis profec, tentang menghadapi keluhan susahnya mencari pekerjaan ideal:

  1. Santai saja – jangan panik saat menganggur dan sedang berusaha kesana kemari melamar pekerjaan, karena rasa panik yang kita rasakan akan membuat diri kita nampak gelisah dan tidak percaya diri dalam kehidupan kita sehari hari. Tanpa sadar dengan  kita membiarkan perasaan  kurang nyaman akibat tidak memiliki pekerjaan maka ini akan  menumbuhkan  rasa rendah diri yang akan tampak saat kita menjalani wawancara. 
  2. Lakukan seleksi dalam memilih pekerjaan. Fokus pada kualitas pekerjaan yang kita inginkan  dan kredibilitas perusahaan yang kita lamar, ketimbang memikirkan besarnya gaji yang ditawarkan. Jangan sekali kali mengatakan bahwa anda siap ditempatkan dimana saja karena cara ini menunjukkan kalau anda tidak tahu apa apa tentang pekerjaan yang anda lamar.  Pertimbangkan kelangsungan hidup peru sahaan serta kemungkinan jenjang karir jangka panjang.  Selalu memilih perusahaan dan pekerjaan yang mengedepankan etika.
  3. Lakukan  cara yang berbeda dalam mencari pekerjaan jangan main tembak langsung. Lakukan inventarisasi  ketrampilan yang kita miliki, dan selalu mengasahnya agar selalu uptodate, coba pertimbangkan untuk mencari jenis pekerjaan yang berbeda ketimbang pekerjaan lama dengan demikian wawasan kita akan semakin luas. Jangan malu untuk meminta ide dan pertolongan dari  SETIAP teman dan relasi siapa tahu di kantor mereka ada lowongan yang sesuai. 
  4. Jika anda tidak betah di perusahaan tempat anda bekerja saat ini sebaiknya anda mulai melakukan hunting pekerjaan baru sebelum ada yang mencium gelagat anda mau berhenti. Jika kita masih bekerja nilai jual kita masih tinggi karena status kita bukan pengangguran, sebaliknya kalau sudah tidak bekerja baru melamar maka pihak perusahaan merasa di posisi yang lebih kuat karena tahu kalau kita sedang butuh pekerjaan.
  5. Saat dalam proses mencari pekerjaan lakukan pekerjaan paruh waktu atau pekerjaan sosial siapa tahu itu bisa membawa kita ke pekerjaan yang kita inginkan.
  6. Pertimbangkan pula untuk menjadi self employed (usaha sendiri namun melibatkan kita didalamnya secara langsung), ikut bisnis MLM, free lance atau mediator bisnis jual beli mobil atau rumah atau memulai merintis bisnis anda sendiri. 

Percayalah tidak ada yang susah di dalam hidup ini, hanya pola pikir kita yang sering menghalangi kita untuk mencoba melakukan sesuatu karena referensi buruk yang terlanjur kita jejalkan ke otak kita bertahun tahun sebelumnya.

Read Full Post »

Sebagai waralaba yang cukup besar, Sevel sekarang ini amat digandrungi sebagai tempat nongkrong yang murah meriah, kenapa dibilang begitu, karena dengan hanya beli makanan ringan seharga kurang dari 10 ribu rupiah, kita bisa nongkrong berjam-jam bersama teman-teman kita. Tempat yang menjamur dan ngehits di kalangan anak muda, memang akan cepat menjadi trend, dan sekarang kalau kita lewat di jalan raya, pasti sering ketemu ada Seven Eleven yang baru di buka, di dekat rumah ibu saya saja di Pondok Bambu, ada dua tempat, di Pondok Bambu dan di Jatiwaringin.

Konsep yang dibangun memang membuat nyaman anak-anak muda untuk nongkrong, kesamaan jenjang sosial, dari yang pakai motor atau mobil mewah bisa bersanding tanpa jarak.Makanan cepat sajinya yang lumayan enak, minuman slurpee yang disukai banyak orang, dan parkir gratis. Tetapi sayangnya, kesadaran masyarakat kita untuk menjaga kebersihan, dan membayarkan apa yang dimakan,masih amat-amat jauh dari yang diharapkan.Makanan cepat saji seperti hotdog, sandwich, lasagna dan lain-lain, amat rentan menjadi sasaran para pengunjung untuk bisa langsung dimakan tanpa membayar, belum lagi makanan-makanan kecil lainnya yang bisa masuk langsung ke dalam tas pengunjung.

Walaupun ada cctv di dalam dan security pada malam hari, tetapi belum cukup untuk mengurangi pencurian seperti ini. Karyawan yang bekerja selain sebagai penjaga toko, juga dimultifungsikan menjadi security alias pengawas pengunjung, juga membersihkan lingkungan, beberes stok barang, dll. Apalagi dalam jam-jam ramai, jam pulang sekolah, biasanya karyawan yang bekerja paling banyak 4 orang, sedangkan melayani pengunjung sekaligus memantau barang, sekaligus bersih-bersih, sepertinya tidak bisa maksimal.

Entah kesalahan dari pihak management yang kurang memotivasi karyawan untuk saling menjaga barang dagangan, atau karena kurangnya karyawan yang bertugas, atau memang kurangnya kesadaran dari pihak pengunjung kita yang dengan iseng tangannya mengambil barang yang belum dibayarkan ( sepertinya semuanya ya?)

Hal semacam ini, menyebabkan kerugian di pihak Sevel, karena setiap kepala toko membuat laporan, selalu ada barang yang hilang, dan bahkan sampai puluhan juta dalam sebulan. Solusi yang diambil sekarang ini setahu saya, perusahaan memotong gaji karyawan untuk kehilangan barang di outlet tempat si karyawan bekerja.Adik sepupu saya yang bekerja di Sevel, bulan lalu mendapat potongan sebesar Rp.600 ribu dari gajinya untuk pemotongan barang hilang. Kalau seperti ini, siapa yang dirugikan?pastinya selain perusahaan juga karyawan. Sudah capek-capek kerja, jadwal dalam 3 shift, karena 24 jam, tapi dipotong gaji karena ada kehilangan barang yang bukan kesalahan si karyawan 100%. Mungkin yang bisa dilakukan dari pihak Sevel, adalah menempatkan karyawan pada masing-masing bagian, untuk makanan cepat saji ada khusus karyawan yang menangani, atau dikunci, atau ada kasir khusus untuk makanan cepat saji tersebut, lalu dipanaskan, dan dibayar di kasir, lalu diujung meja lain, makanan diberikan kepada pembeli. Untuk CCTV, harus ada orang yang standby memantau di layar, dan begitu ada yang ketahuan tertangkap basah, langsung paging pakai HT atau alat komunikasi internal.

Memang sih, kalau di Luar Negeri, toko swalayan,atau convinience store macam Circle K, 7 11, dll, tidak terlihat banyak karyawan yang menjaga, itu karena kesadaran mereka untuk membayar apa yang mereka ambil dan hukuman bagi yang ketahuan mencuri, ada efek jeranya. Ini hanya sekedar opini dari saya yang sangat terbatas, semoga ke depannya masyarakat kita bisa lebih menghargai terhadap diri sendiri bahwa memakan barang yang bukan haknya adalah tidak benar.

Memang, diakui untuk melakukan bisnis, selain berjualan barang, urusan karyawan amat menguras pikiran dan uang, tetapi kalau tidak ada karyawan, bisnis juga akan tersendat.

Note: Photo diambil dari Merdeka.com

Read Full Post »

Vanya2V

Mom of Rhapsody

cerita si nina

here and now, i only have words to tell you!

backpackology.me

An Indonesian travelling family, been to 25+ countries as a family. Author of several travel guide books and travelogue. Write travel articles for media. Strongly support family travelling | travelling with baby/kids. .

phdmamaindonesia

stories of womanhood and ideas for Indonesia

pacarkecilku

"Jika kau punya cerita, bagilah dengan kata-kata. Jika kau punya kerinduan, kenanglah dengan pertemuan"

Macangadungan

Sketchbook , Dreams, Beer, and all other stuffs.

BBC | Blog Belalang Cerewet

semua dicatat agar awet

falafu.wordpress.com/

Tuhan tidak pernah bimbang, selalu seimbang..

Wiwin Hendriani

Berbagi Karya, Berbagi Cerita

YSalma

Jejak Mata dan Pikiran

Fitri Ariyanti's Blog

Mengolah Rasa, Menebar Makna

Oerleebook's Situs

Kumpulan data-data artikel menarik, inovatip, mendidik. dari berbagai sumber

Nata Riawan | Bali Animator Illustrator Graphic Designer

Desain Grafis bukan sekedar Print Art Paper

tarjiem

Jasa Penerjemah Inggris Indonesia

My Idea My Imagination

About me, about my inspiration, about my imagination