Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Oktober, 2011

Menjadi seorang pedagang, pada jaman saya kecil yang saya tahu adalah suatu profesi karena pilihan terakhir, bukan pilihan profesi favorit.Menurut pengamatan saya yang sempit ini, sepertinya kalau ada orang yang buka usaha, seperti warung, bengkel, toko kelontong, itu adalah pekerjaan terakhir karena orang tersebut tidak bisa bekerja di kantoran, sebagai pegawai negeri, atau pegawai swasta.

Suatu kebanggan bagi orang tua,apabila anak-anaknya ada yang menjadi pegawai negeri,menjadi dokter, insinyur asal bukan pedagang atau tukang jualan. Dengan segala daya upaya bagi orang tua agar bisa menyekolahkan anak-anaknya untuk bisa menjadi salah satu profesi favorit tersebut, menjadi suatu prestasi dalam keluarga besar apabila salah satu anggota keluarga ada yang menjadi Dokter, Insinyur atau PNS. Apabila ditanya tetangga, teman atau keluarga jauh, ” ooh anak saya kerja di pemerintahan,.. oh anak saya dokter dan lain-lain, sedangkan kalau untuk anaknya menjadi tukang bengkel, atau punya warung…ada suatu rasa malu atau seperti sungkan untuk diberitahukan ke orang lain.

Masyarakat kita memang dari dulu, terutama orang tua kita yang saya tahu, akan kaget atau kecewa apabila tahu anaknya berjualan di sekolah, pernah ada cerita, ada guru yang memarahi muridnya karena berjualan di sekolah, si orang tua akan berkata, ” memangnya uang jajan yang dari ibu, kurang ya, sampai kamu harus berjualan begitu?”, contoh lain, orang tua akan berkata,” sudah.. kamu  belajar saja yang rajin, ga usah pakai acara jualan-jualan segala, tugas kamu itu, ya, belajar”, atau ” kamu jangan seperti ibu atau bapak yang harus berdagang dari pagi sampai malam, karena ga sekolah, sekarang kamu harus jadi ” orang” , jangan sampai memalukan orang tua”.

Doktrin-doktrin kalau berdagang itu kurang populer, menjadi bumerang buat para anak-anak muda  yang memang mempunyai jiwa enterpreneur, jiwa berdagang, syukur alhamdulilah, sekarang ini justru semakin gencar dimana-mana untuk menyebarluaskan virus enterpreneur kepada anak-anak muda, baik itu di SMA atau di Universitas. Sudah banyak kurikulum bisnis yang dipelajari dan sekaligus juga praktek lapangan bagi murid-murid. Ada lagi malah untuk TK Khalifah kepunyaan Ippho Santosa, sudah diajarkan apa itu berdagang, tentang uang dan mencari uang dengan halal.

Seingat sayapun, orang tua saya khususnya Ibu saya juga seorang pedagang, pernah beliau berjualan rokok,minuman, dll di pinggir jalan, pernah buka warung makan, pernah juga menjadi agen minyak tanah di rumah, banyak tukang minyak tanah gerobak keliling yang mengambil/membeli dari ibu saya. Saya ingat saya pernah ikut membantu mengecek isi dari mobil tangki minyak yang akan diisi ke drum-drum punya ibu saya, saya naik ke atas drum tersebut, untuk melihat apa betul isinya penuh atau kurang. Apapun diusahakan oleh ibu saya, untuk membantu keuangan keluarga, dengan empat orang anak yang butuh biaya sekolah, makan, ke dokter apabila sakit, dan lain-lain tetek bengeknya, maka karena tidak mungkin ibu saya menjadi karyawan di sebuah perusahaan, maka pilihan yang paling tepat adalah berjualan.

Pada umumnya, bakat atau kebiasaan itu sering diturunkan ke anak-anaknya, dan salah satunya adalah saya, sebagai anak tertua, walaupun sekarang masih status menjadi pegawai, tetapi saya sering sekali berjualan, apa saja saya jual, pernah jualan selimut, jualan kosmetik oriflame, jualan makanan, jualan baju muslim, macam-macam deh, yang penting intinya ada untung untuk menambah pemasukan selain dari gaji dan dari suami. Dan adik saya yang bontot, Imam, dia juga buka kios air isi ulang dan voucher isi ulang HP di depan rumah orang tua saya, di Pondok Bambu, sekarang dia sudah punya rumah di Bekasi Utara, istrinya juga buka warung kelontong dan voucher isi ulang HP di teras rumahnya, karena rumahnya terletak di dekat jalan utama perumahan, maka lokasinya bagus untuk berjualan. Satu lagi, adik saya yang kedua, Iyus, diapun sering berjualan di acara bazar di sekolah tempat dia mengajar, di TK Al Azhar Rawamangun.

Menjelang hari raya haji, sudah banyak orang-orang yang berjualan kambing atau sapi untuk kurban, dan adik ipar saya, Taufik, sudah lebih dari 5 tahun belakangan ini, ikutan berbisnis menjual hewan kurban dan  kulit kambing atau kulit sapi, dia mengumpulkan kulit-kulit tersebut dari tempat-tempat pemotongan hewan kurban, lalu dibeli oleh dia, dan kemudian dia jual lagi di tempat yang menjual hasil kulit sapi, biasanya untuk diolah menjadi krupuk rambat atau bedug mesjid. Hasilnya lumayan, dalam sehari dia bisa meraup untung lebih dari satu juta kalau dapat banyak kulitnya, dengan rajin dia mencari ke pelosok -pelosok mesjid/mushola/sekolah di daerah Jakarta Timur.

Sekarang, sudah ga jamannya lagi, malu untuk berjualan, karena justru dengan berjualan, punya karyawan, dan alhamdulilah kalau bisa punya cabang banyak, malah bisa membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain, menjadi ‘JURAGAN’ istilahnya, bukan selalu menjadi Karyawan dengan penghasilan pas-pasan. Masa’ kalah dengan cerita Mbok Minah, yang punya cita-cita setelah bekerja sebagai pembantu selama setahun, uang gajinya Rp.500 rb perbulan, disisihkan Rp.300 rb/bulan, dia simpan, dan hasil dari simpanannya itu, menjadi Rp.3,600,000,- , dikirim ke kampungnya untuk dibelikan bibit bebek, diternakkan dan dia bisa menjual telur bebek dan juga daging bebeknya, uang hasil penjualan telur dan bebek, dikumpulkan lagi,untuk dibelikan bibit bebek lagi, begitu seterusnya sampai dia bisa membeli lahan lagi untuk menampung bebek-bebeknya.

Dalam bekerjapun, ini hanya sementara, untuk menabung, menambah modal untuk membuka usaha yang Insya Allah bisa berkembang dan menjadi warisan keluarga. Sambil mengasah kemampuan berbisnis, ga ada salahnya, saya juga masih sering berjualan apa saja, seperti makanan, kosmetik dan juga ikutan menjadi marketing usaha bersama Wiwin, jasa jahit seragam, dengan nama : N4F COLLECTION yang sudah berjalan lebih dari tiga tahun, dan alhamdulilah, sudah beberapa klien kita dapatkan dari internet.

Sepertinya jiwa enterpreneurship kami, didapat dari ibu saya yang memang hampir sepanjang hidupnya berumah tangga, tidak jauh-jauh dari berdagang, sebagai orang muslim juga kita ingat Nabi kita, Muhamad SAW, adalah seorang pedagang yang sangat brilian, beliau pintar berjualan dan sangat dipercaya, beliau berjualan dengan jujur dan amanah, karena apa yang kita dapat, adalah amanah dan dipakai makan untuk kita dan anak-anak kita,jangan sampai apa yang kita berikan kepada keluarga kita, adalah hasil dari yang tidak halal. Alangkah baiknya kita apabila ingin berdagang, kita meniru junjungan kita nabi besar Muhamad SAW.

 

 

 

 

Read Full Post »

IBUKU YANG “SEMPURNA”

 ”Seperti udara, kasih yang engkau berikan, tak mampu ku membalas,…… IBU… Ingin ku dekap dan menangis di pangkuanmu, sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu, lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku, dengan apa membalas,…. IBU”

itu adalah sepenggal lagu berjudul Ibu dari Iwan Fals yang saya sangat suka liriknya. Seperti ”udara”, siapapun bebas menghirupnya, kapan saja, di mana saja, tanpa harus membayar, dan udara tidak pernah pamrih sedikitpun,tidak pernah berfikir tentang balasan, tentang bayaran, begitu juga dengan Ibu kita semua termasuk Ibuku.

Pengalaman adalah guru yang terbaik, dan sepertinya belum ada sekolah untuk menjadi orang tua, walaupun sekarang ini kita bisa belajar banyak dari buku, atau kisah orang tua lain, dan yang lebih sering terjadi adalah kita belajar dari pengalaman kita dan orang tua kita dalam membesarkan anak-anaknya.

Pada setiap keluarga, Ibu adalah seorang ”Ratu” yang harus pintar dalam segala hal, dari seorang manager keuangan, seorang pendongeng, seorang koki hebat atau seorang pencari nafkah.

Ibuku, kesan yang pernah ada dalam benakku waktu kecil, adalah sebagai seorang diktator, orang paling galak juga paling bawel sedunia, itu kesan yang pernah ada dalam pikiranku, terutama apabila aku ingin sesuatu tetapi tidak diijinkan oleh beliau. Aku pernah menyangka kalau aku itu adalah anak pungut atau anak asuh, dan aku ingin sekali rasanya kabur dari rumah, pernah suatu waktu, ibuku marah tak terhingga sampai hampir menangis, menahan marah karena kesal terhadapku.

Ceritanya, waktu awal aku dan keluargaku pindah rumah ke Pondok Bambu, aku tidak punya teman bergaul di lingkungan rumah baruku , karena temanku hampir semua ada di daerah Kemang, tempat aku tinggal sebelumnya dari aku lahir sampai SMA. Waktu aku pulang dari tempat les, aku bertemu dengan seorang laki-laki pas di depan lampu merah dekat Pondok Bambu, pada saat aku ingin menyeberang, lalu dia menyapa dari dalam mobilnya, aku yang tidak punya pikiran apa-apa, membalas sapaan laki-laki itu, sampai akhirnya laki-laki tersebut ikut mampir ke rumahku.

Beberapa kali, laki-laki tersebut mampir ke rumah, dan suatu hari, dia datang bersama teman-temannya laki-laki berempat orang, dan bermaksud ingin mengajak aku jalan-jalan di sekitar Pondok Bambu, alasannya untuk lebih tahu daerah itu, dan tanpa pikir panjang, aku langsung meng-iyakan ajakan mereka, pada saat itu, tidak ada satu pikiran jahat yang mampir dipikiranku, tujuan aku hanya satu, ingin punya teman dan lebih tahu daerah rumah baruku itu.

Begitu aku minta ijin untuk keluar dengan teman baru tersebut, ibuku tidak membolehkan, dan dengan agak memaksa, aku awalnya marah dan kesal, kok ibuku tidak pernah mau mengerti diriku, anak muda yang ingin lebih bergaul dan punya banyak teman. Aku hampir tetap ikut pergi ke mobil temanku itu, tetapi tak disangka ibuku langsung menarik tanganku, hampir menyeret, masuk kembali ke dalam rumah, dan dengan hampir menangis menahan kesal, ibuku berkata” Ya Allah.. Nak.. kamu itu anak perempuan, kamu harus jaga diri kamu baik-baik, tidak semua orang itu seperti yang kamu sangka, apalagi mereka berempat, dan kamu sendirian, nak”… sambil sesunggukan, ibuku menahanku, untuk pergi.

Karena malas ribut-ribut dan tidak tega juga membuat ibuku sampai menangis, maka aku bicara ke teman baruku itu, kalau aku tidak jadi ikutan, lalu mereka pergi. Setelah kejadian tersebut, aku sempat hampir memusuhi ibuku, kesal dengan tindakannya, kesal dengan kediktatoranya, kebawelannya dan segalanya tentang beliau.Waktu berlalu, banyak kejadian yang kami lalui, dan ibu tetaplah ibu  yang lebih  sering mengambil keputusan –keputusan penting dibanding Ayahku yang menyangkut urusan anak-anaknya.

Setelah menjadi ibu dari dua anak balita , semakin timbul rasa sayang  terhadap ibu. Sesuatu yang dulunya membuat aku kesal, sekarang aku berterima kasih yang tak terhingga, coba saja kalau dulu ibu membolehkan aku ikut pergi dengan teman laki-lakiku yang baru itu, entah aku masih selamat atau tidak,mungkin aku tidak bisa menikah dan punya anak seperti sekarang, banyak kejadian buruk yang terjadi di sekitar kita karena kurang waspada dan terlalu menganggap sepele keadaan.

Aku anak tertua dari empat bersaudara, tiga perempuan dan satu laki-laki yang paling bontot, tapi untuk urusan jodoh, adikku yang nomor 3 yang  duluan menikah, lalu naik tangga, menyusul adikku yang nomor 2, dan naik tangga lagi, menyusul, aku menikah tahun 2005, aku sempat berpikir, kalau saja si adik bontot  menikah duluan juga…kelewatan deh,.. masa’sih aku harus dilangkahi terus?hehe.. tapi Alhamdulilah, semuanya terjadi atas kehendakNYA, dan Insya Allah semuanya yang terbaik buat aku.

Masih terngiang dalam ingatanku, bagaimana Ibuku paling sensitif kalau ditanya oleh tetangga, kerabat dan handai tolan tentang anak-anaknya yang belum menikah, ibuku sempat mencurahkan kegundahan hatinya, “Padahal anak-anak saya ga jelek-jelek amat, dan ga bodoh-bodoh amat, tapi kenapa ya kok anak-anak saya sampai sekarang belum juga ada yang ketemu jodohnya,”sambil menahan tetes air mata yang ingin segera tumpah, dan beliau juga pernah berpikir, jangan-jangan ada yang ga suka atau ada yang mengguna-gunai keluarga kami karena aku pernah menolak cinta seseorang, hmm.. ada-ada aja.

Aku semakin sadar, setelah berumah tangga lalu punya anak, bagaimana ibu merawat kita, menyusui anak-anaknya selama dua tahun, malahan untuk adikku yang bontot, hampir 4 tahun baru bisa benar-benar disapih, dan waktu kita masih balita, yang pasti sering bolak balik pilek, demam, apalagi dengan empat orang anak yang butuh perhatian, ibuku masih sempat berdagang di pinggir jalan, berjualan rokok, minuman,kue-kue dan lain-lain demi membantu Ayah yang gajinya sangat pas-pasan untuk membiayai keempat anak-anaknya bersekolah, tetapi kita masih suka tidak berterima kasih dan kadang suka menyakiti beliau, dengan tidak menjawab panggilannya, menolak perintahnya atau menunda-nunda pekerjaan rumah, main ke rumah teman tidak bilang-bilang, bagaimana khawatirnya seorang ibu, aku baru merasakannya sekarang ini.

Akupun yakin, aku bisa seperti ini karena doa ibu, dalam setiap hembusan nafas dan sujud beliau tanpa sepengetahuan kami anak-anaknya. Sebagai perantau yang jauh-jauh datang dari Bengkulu, ke kota Jakarta untuk mengubah nasib, apapun yang dirasakan dan dialami  ibu, akan selalu dijalani tanpa mengeluh, hanya satu tujuan, ”Perubahan” dengan kesabaran dan doa dalam menjalani hidup di negeri rantau, jauh dari orang tua dan keluarga dekat.

Seorang sahabat Rasul bertanya, “Ya Rasulullah, siapa yang paling berhak memperoleh pelayanan dan persahabatanku?” Nabi Saw menjawab, “ibumu…ibumu…ibumu, kemudian ayahmu dan kemudian yang lebih dekat kepadamu dan yang lebih dekat kepadamu.” (Mutafaq’alaih).

Mumpung masih diberikan kesempatan untuk berbakti kepada orang tua, aku berharap sekali apabila punya rejeki bisa menghajikan orang tuaku, cukup sekali saja dalam hidup mereka, semoga saja, Amiin..

Sepenggal doa untuk ibuku, Suaiyati….yang terkasih…

“Ibu, doakan anakmu ini, selalu dalam denyut nadimu, ridhoilah jalan ku, ……..Ya Allah , ampunilah dosa-dosa ibuku, yang telah melahirkanku, aku berjanji aku akan membahagiakannya , ya Allah….. berilah kesempatanku untuk membalas kebaikan-kebaikan ibuku, semoga beliau selalu diberikan kesehatan,kesabaran, ketakwaan dan tawakal, bahagia selalu dunia akherat, dan rukun selalu dengan Ayahku, Amin ya Rabal Alamiin”

Dengan segala kekurangan beliau sebagai manusia, aku akan selalu mengingat kebaikan dan kelebihan beliau, sampai kapanpun kita sebagai anak tidak akan bisa benar-benar membalas kebaikan dan jasa ibu kita selama ini.

Begitulah sedikit cerita tentang Ibuku dimataku, Ibu Tercinta.. Ibuku adalah bukan ibu yang sempurna, tetapi dengan ketidak sempurnaannya tersebut justru menjadi Ibu yang ”Sempurna” dimata kami, anak-anaknya.

Read Full Post »

Setiap Anak Bisa Sukses

SUKSES ??? Siapa sih yang tidak kepingin anak-anaknya bisa sukses dan menjadi kebanggaan orang tuanya?

Membaca artikel dibawah, ( sambil mengangguk-anggukan kepala) karena pengalaman  pribadi, kalau saya tidak suka dengan gurunya, otomatis saya juga jadi tidak suka dengan pelajarannya, dan hasil nilai sekolah akan kurang memuaskan. Saya ingat waktu SMP, saya mendapatkan nilai bahasa Inggris merah lho, angka 5 ada dirapor saya dalam pelajaran Bahasa Inggris, untungnya sih saya tipe orang yang ga mau kalah hanya karena gurunya ga enak/ga jelas cara beliau menjelaskan, lalu saya cari guru les private, dan tanya-tanya ke teman-teman dan kakak kelas, saya diberitahukan, ada seorang mantan guru SMA 6 di Jakarta, namanya Tante Imam ,( Imam adalah nama suami beliau), beliau buka les bahasa Inggris di rumahnya.

Sangat suka dengan cara dia menerangkan dan memberikan patokan-patokan grammar yang digunakan, dan beliau juga pintar memotivasi muridnya, serta suasana belajar yang menyenangkan, alhamdulilah saya bisa mengejar ketinggalan nilah merah saya, menjadi nilai 8 selalu dirapor untuk pelajaran bahasa Inggris, sampai SMA lho, yang tadinya tidak suka, menjadi sangat suka, serunya lagi, ada tetangga saya  yang mengetahui saya lumayanlah dalam pelajaran bahasa Inggris, saya direkomen untuk mengajar privat salah seorang karyawan ( dulu, saya masih SMA), untuk belajar bahasa Inggris ke saya. Awalnya sih sempat ragu-ragu, apakah saya bisa, tetapi si karyawan tersebut bilang, kalau dia tidak bisa sama sekali, tidak mengerti sama sekali,pikir-pikir, ok deh, sekalian mengasah dan mengulang apa yang sudah saya pelajari diawal-awal dan bahan yang saya ajarkan ke dia adalah hasil catatan dan latihan saya selama saya les dengan Tante Imam. Senangnya bisa dapat uang dari hasil keringat sendiri, apalagi masih status pelajar… bangga dong pastinya?

GURU =  digugu dan ditiru,Gugu artinya patut dipercayai dan diakui, sedangkan tiru artinya perlu dicontoh, diikuti dan diteladani, dari jaman sekolah sering kita mendengar peribahasa tersebut, tetapi di jaman sekarang, masih banyak guru yang berjibaku memenuhi kebutuhan ekonomi, karena secara penghasilan yang kurang, dan memang gaji guru tidak termasuk prioritas oleh negara kita tercinta, maka bisa dimaklumkan kalau para guru, menyambi mencari tambahan penghasilan di luar jam mengajar formalnya. Saya pernah naik bajaj malam-malam, dan saya tidak begitu memperhatikan wajah si pak supir bajaj tersebut, dan waktu saya turun lalu bayar ongkosnya, saya baru saja tahu kalau supir bajaj tersebut adalah pak Mahfud, guru saya di SMP, bagaimana para guru bisa mengoptimalkan program atau cara mengajar mereka, kalau malam-malam saja, mereka masih harus mencari sesuap nasi, mengeukur jalanan mencari penumpang, dan pulang sudah lelah, lalu pagi hari sudah harus kembali berangkat mengajar murid-muridnya, pasti yang terjadi adalah, pak guru biasanya hanya memberikan tugas, atau biasanya begini; ” Silahkan buka halaman 21, dan kerjakan lalu dikumpulkan…” gimana, sounds familiar bukan?

Pasti ada guru favorit kan? nah, masih ingat tidak, siapa guru favorit kita dulu?, dan bagaimana kabar mereka sekarang? sebagai mantan muridnya, marilah kita doakan jasa-jasa para guru kita ( favorit atau tidak favorit sama saja) yang telah bersusah payah, berlelah batin dan fisik untuk mengajari kita ilmu ( diluar problematika pribadi mereka masing-masing), tetaplah kita harus menghargai jasa mereka.

Berharap semakin banyak guru-guru yang menyenangkan dan bisa membuat anak muridnya belajar lebih giat, bukan karena takut tetapi lebih kepada motivasi agar  bisa sukses di masa depan.

 

 

 

 

 

Ingin anak Anda sukses? Perhatikan, siapa gurunya!

 Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Sebuah riset yang dilakukan oleh S. Paul Wright, Sandra Horn, dan William Sanders (1997) terhadap 60 ribu siswa memberi pelajaran berharga kepada kita betapa pentingnya memperhatikan siapa yang menjadi guru bagi anak-anak kita. Hasil riset yang mereka lakukan menunjukkan bahwa faktor paling penting yang berpengaruh secara langsung terhadap belajar murid adalah guru. Maka, jika anak- anak yang kurang bergairah saat belajar, pertanyaan pertama yang harus dijawab secara tuntas sebelum memanggil orangtua adalah bagaimana guru mengelola kelas dan menjalin hubungan dengan murid-muridnya. Di luar itu, ada pertanyaan lain yang harus dijawab, apakah guru memiliki integritas pribadi atau tidak. Ini berarti, kompetensi saja tak cukup.

Kembali pada riset yang kita perbincangkan di awal tulisan ini. Wright dan kawan-kawan mencatat bahwa, guru-guru yang efektif mampu menjadikan para muridnya berkembang secara efektif. Ini berlaku untuk semua siswa dengan berbagai jenjang prestasi, tidak peduli seberapa majemuk ragam anak-anak di kelas. Jika di kelas banyak anak yang gagal mengembangkan kemampuannya secara efektif, berarti guru tidak mampu mengelola kelas. Bahkan bisa lebih dari itu, yakni tidak mengenali para muridnya dengan baik.

Catatan ini menunjukkan bahwa, kegiatan belajar-mengajar yang efektif sangat sulit terjadi apabila guru tidak mampu mengelola kelas dengan baik. Jika murid banyak yang menunjukkan perilaku menyimpang atau antar murid tidak ada rasa saling hormat, tak ada aturan dan prosedur yang dihormati sebagai panduan perilaku, dan rasa persahabatan antar siswa sangat rendah, maka kekacauan di kelas akan menjadi hal yang wajar. Dalam situasi seperti ini, kata Marzano dalam bukunya yang bertajuk Classroom Management That Works (2003), baik guru maupun murid sama-sama menderita. Guru harus berjuang mati-matian untuk mengajar, dan murid hampir pasti belajar jauh lebih sedikit daripada yang seharusnya mereka lakukan.

Berbagai riset menunjukkan bahwa anak-anak yang kemampuan matematikanya rendah dengan skor 50% ke bawah, meningkat pesat kemampuannya setelah 2 tahun jika ia belajar di sekolah yang efektif dan guru yang juga efektif. Sedangkan anak-anak yang belajar di sekolah rata-rata dengan kemampuan guru mengelola kelas yang juga rata-rata, tidak mengalami perubahan apa pun setelah dua tahun. Tetap saja kemampuannya tidak berkembang dengan baik. Sementara anak-anak yang belajar di sekolah yang tidak efektif dan –celakanya—memperoleh guru yang juga tidak efektif, justru makin lama makin bodoh. Semakin lama ia bersekolah semakin terpuruk prestasinya, semakin tidak mampu ia mengembangkan potensinya.

Pelajaran apa yang bisa kita petik? Setiap anak bisa mengembangkan kemampuannya. Mereka bisa meraih sukses jika memperoleh bimbingan dari guru yang baik; guru yang mampu menjalin hubungan akrab dengan muridnya secara bermartabat, bisa membangkitkan tanggung jawab murid bagi kelangsungan pembelajaran yang penuh semangat, tegas dalam menegakkan disiplin sekaligus dapat melakukan intervensi disiplin secara ketat di kelas, mampu membuat aturan dan prosedur kelas yang menjadi panduan bagi siswa dalam berperilaku, serta memiliki kecakapan membangun sikap mental yang tepat bagi muridnya maupun dirinya sendiri.

 Saya perlu menggarisbawahi masalah kemampuan menjalin hubungan akrab secara bermartabat. Apa yang perlu kita perhatikan di sini? Selain terampil menjalin keakraban dengan siswa, yang tidak boleh ditawar-tawar adalah keharusan menjaga batas antara murid dan guru. Akrab dan bersahabat (friendly) memang harus, tetapi harus diingat bahwa guru adalah seorang pendidik dan pembimbing yang bertugas memberi arahan. Ada garis tegas yang perlu diperhatikan agar murid tetap memiliki tata-krama yang baik. Harry K. Wong & Rosemary T. Wong bahkan mengingatkan dalam bukunya yang berjudul How to Be an Effective Teacher: The First Days of School. Buku yang berisi panduan tentang apa yang harus dilakukan oleh guru pada bulan-bulan pertama di sekolah ini menegaskan bahwa setiap guru harus akrab, peduli, penuh cinta, dan sekaligus peka terhadap murid. Tetapi mereka bukanlah teman. Guru harus mampu menjalin hubungan yang bersahabat, tetapi tetap bukan teman yang membuat murid kehilangan tata-krama.

Apa artinya? Menjadi guru efektif yang membuat setiap murid mampu meraih sukses, bukan hanya soal kompetensi. Guru memang harus menguasai bidang studi yang diajarkan. Bukan hanya menang semalam, yakni sekadar belajar lebih awal daripada muridnya. Guru juga harus terampil mengajar. Sangat mumpuni dalam bidang yang diajarkan tetapi tidak mampu menyampaikan dengan baik dan kurang mampu menerangkan secara komunikatif, juga akan berakibat murid mengalami kesulitan belajar. Mereka menjadi bodoh bukan karena tidak memiliki potensi untuk menguasai pelajaran dengan baik, tetapi karena guru gagal dalam memahamkan murid.

 Itu sebabnya, kriteria ketuntasan minimal (KKM) dapat dipandang dari dua arah. Pertama, KKM adalah standar minimal yang harus dicapai oleh murid. Jika ada yang tidak mampu mencapai KKM, maka kesalahan sepenuhnya dapat ditimpakan kepada murid dan orangtua. Cara pandang inilah yang banyak dianut sekolah-sekolah kita di negeri ini. Kedua, KKM merupakan target kemampuan murid yang harus dibangun oleh guru. Jika ada murid yang gagal memenuhi KKM, maka guru melakukan evaluasi caranya mengajar dan menangani murid. Cara pandang inilah yang diterapkan di sekolah-sekolah efektif, sehingga guru terbiasa melakukan penilaian, evaluasi, dan meneliti tindakannya di kelas. Ia berusaha menemukan sebab setiap masalah. Apalagi jika jumlah murid yang bermasalah, misalnya gagal memenuhi KKM, merupakan mayoritas.

 Tetapi, sekali lagi, penguasaan materi yang baik serta keterampilan mengajar bukan aspek utama yang menjadikan seseorang sebagai guru efektif. Ada aspek lain yang lebih mendasar, yakni motivasi, integritas, dan komitmen. Yang disiplinnya rendah misalnya, meskipun mampu mengajar secara menarik, tetapi mereka tidak patut menjadi guru olah raga. Apalagi guru motivasi. Yang integritasnya rendah, jangan pernah mengambil u pelajaran akidah-akhlak karena keduanya –akidah maupun akhlak—bukan urusan kognitif semata. Ia adalah bagian dari sikap hidup yang harus menyatu dalam setiap helaan nafas kita.

 Alhasil, ada yang perlu kita perhatikan. Setiap sekolah perlu memberi perhatian serius untuk meningkatkan kemampuan guru dalam mengajar. Tetapi ini tidak cukup. Pada saat yang sama, harus ada usaha serius untuk meningkatkan secara terus-menerus kualitas pribadi setiap guru, baik yang berkaitan dengan motivasi, iman, akhlak, komitmennya terhadap agama maupun pendidikan, serta integritas pribadi. Ini semua sangat penting untuk memastikan agar setiap murid mampu meraih sukses. Lebih-lebih untuk sekolah Islam yang telah menyatakan sikap bahwa agama ini yang menjadi ruh dari seluruh kegiatan yang ada di sekolah, peningkatan kualitas pribadi setiap guru tak dapat ditawar-tawar lagi.

 Setiap wali murid juga perlu memperhatikan ini sebab di tangan para guru itulah kita serahkan masa depan anak-anak kita!

Box (inspiring word): Harus ada usaha serius untuk meningkatkan secara terus-menerus kualitas pribadi setiap guru, baik yang berkaitan dengan motivasi, iman, akhlak, komitmennya terhadap agama maupun pendidikan, serta integritas pribadi. Ini semua sangat penting untuk memastikan agar setiap murid mampu meraih sukses. Lebih-lebih untuk sekolah Islam yang telah menyatakan sikap bahwa agama ini yang menjadi ruh dari seluruh kegiatan yang ada di sekolah, peningkatan kualitas pribadi setiap guru tak dapat ditawar-tawar lagi. 

SUARA HIDAYATULLAH, MARET 2011

Read Full Post »

Seperti orang dewasa, anak balita pun sudah memiliki banyak harapan dan keinginan. Bila harapan ini tak tercapai, seperti orang dewasa pula, anak-anak akan menampakkan sebuah bentuk rasa kecewa. Namun, wujud dari rasa kecewanya itu tentu saja berbeda dengan yang dilakukan oleh orang dewasa. Balita akan cenderung menampakkan rasa kecewanya dengan tangisan dan rengekan.

Coba Anda ingat-ingat, pasti suatu saat anak Anda pernah melakukan tangisan dan rengekan yang seakan-akan terlalu berlebihan bagi Anda. Saat di pertokoan Anda tak mengabulkan permintaannya untuk memiliki sebuah mainan misalnya, mungkin anak akan merajuk, merengek, lantas menangis sekeras-kerasnya sambil bergulingan di lantai. Tangisan dan rengekan ini tak juga kunjung berhenti, meski Anda sudah membujuknya begitu rupa.

Apa yang tengah terjadi sebenarnya? Inilah yang disebut temper tantrum! Yaitu sebuah usaha anak mengeluarkan amarah yang hebat untuk mencapai maksudnya. Sebuah ledakan amarah anak akibat rasa kecewa yang dipendamnya begitu rupa.

Perilaku ini seringkali disertai dengan tingkah yang akan membuat Anda semakin jengkel dan tak berdaya, seperti meraung dengan keras, menjerit, melempar barang-barang, memukul-mukul, menyepak-nyepak, bergulingan di lantai dan tak mau bangun, dan sebagainya. Bahkan, pada anak yang lebih kecil, terkadang diiringi pula dengan muntah atau kencing di celana.

Apa sebenarnya temper tantrum itu, seperti apa penyebabnya, dan bagaimana cara mengatasinya, Dra. Hastaning Sakti, Psi. M.Kes memberikan penjelasannya.

“Bahwa temper tantrum ini adalah sebuah fase yang memang selalu ada pada anak-anak, umumnya pada usia 3 sampai 4 tahun, di mana anak tengah ingin menunjukkan egonya. Terkadang, temper tantrum terjadi pula pada umur 9 hingga 10 tahun, di mana pada usia itu anak tengah ingin mencari jati diri, diakui di tengah-tengah lingkungannya,” begitu ungkap psikolog yang berdomisili di Semarang ini.

Frekuensi terjadinya temper tantrum pada masing-masing anak sangatlah berbeda-beda. Ada yang mengalaminya hanya satu atau dua kali saja, namun ada pula yang selalu menjadi tantrum bila satu saja keinginannya tak terkabul. Semua ini sangat bergantung pada lingkungan tempat si anak hidup.

Banyak Penyebab

Lantas, apa sebenarnya penyebab yang bisa mendorong anak menjadi temper tantrum? Menurut Hastaning Sakti, temper tantrum bisa terjadi karena si anak menyimpan berbagai rasa kecewa yang menumpuk lama, hanya terpendam dalam hati karena si anak tak kuasa dan tak tahu cara mengungkapkannya. Timbunan emosi negatif ini yang berpotensi memunculkan perilaku mengganggu tersebut.

“Bila si anak sering dan hampir setiap hari mengalami temper tantrum, maka bisa jadi ada yang salah dengan lingkungan sekitarnya yang selalu membuatnya kecewa dan marah,” begitu ungkap Hastaning Sakti.

Orang tua haruslah waspada menghadapi anak yang selalu mengalami temper tantrum . Karena bisa jadi, pola asuh atau kondisi lingkungan di sekitar si anak lah yang menjadi pemicunya.

“Pola asuh orang tua memang bisa menjadi salah satu penyebabnya. Misalnya, kedua orang tua sibuk bekerja dan tak memiliki waktu luang untuk menemani anak. Hal ini tentu saja akan membuat anak senantiasa kecewa dan membuat si anak hari ke hari merajuk hanya untuk minta diperhatikan.”

Pola asuh yang salah bisa pula terjadi saat Anda selalu menolak serta memarahi setiap kali anak memiliki keinginan dan ide. Mungkin Anda tidak mengira bahwa hal ini akan menjadi masalah bagi si anak di kemudian hari. Namun, percaya atau tidak, lama-kelamaan hal ini akan menjadi konflik berkepanjangan yang merusak emosi anak. Anak akan merasa tak mampu dan tidak berani melawan kehendak orang tuanya, sementara dia sendiri harus selalu menuruti perintah orang tuanya.
Pada suatu waktu, emosi yang dipendam ini akan meledak hebat.

“Yang juga sering terjadi, temper tantrum terjadi karena si anak mencontoh tindakan penyaluran amarah yang dilakukan oleh kedua orang tuanya,” tambahnya. Nah, bila terjadinya temper tantrum pada anak tak terlalu sering, mungkin penyebabnya bisa dipicu oleh hal-hal yang lebih sepele, seperti misalnya anak terlalu lelah sehingga mudah kesal dan tidak bisa mengendalikan emosinya.

Ajari Menyalurkan Emosi

Kalau begitu apa yang seharusnya dilakukan oleh orang tua ketika anak mengalami temper tantrum ini? Yang terutama, tentu saja orang tua harus mengajak anak berbicara dari hati ke hati, menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, dan kekecewaan atas apa yang selama ini tengah dipendam oleh anak. Lakukan langkah tersebut saat anak telah mereda emosinya di tempat dan waktu yang tepat. Sangat tepat saat anak tengah dalam kondisi emosi yang stabil dan kondisi mood yang baik.

Bila Anda merasa bahwa pola asuh yang Anda terapkan selama ini kurang berpengaruh positif pada anak, maka lakukanlah introspeksi diri. Berusahalah untuk selalu menjadi contoh yang baik bagi anak. Ketika Anda marah, salurkanlah secara tepat. Anda harus senantiasa ingat, bahwa anak merekam setiap kejadian yang positif maupun negatif yang terjadi di sekitarnya. Jika tanpa Anda sadari anak Anda sudah merekam sifat-sifat Anda yang buruk, seperti dia melihat ayahnya memukul ibunya, bisa dipastikan peristiwa itu akan membawa pengaruh buruk dalam hidupnya kelak.

Saat anak ingin bermain dan tidak ingin diganggu, terkadang ada baiknya bila Anda bersikap bijaksana dengan memberinya kesempatan bermain sendiri. Jangan terlalu mengekang! Satu lagi, jika suatu kali Anda terpaksa harus berseberangan pendapat dengan si anak, maka kemukakan pendapat Anda secara tegas tetapi dengan lembut. Jangan membentaknya, apalagi sampai mengucapkan kata-kata yang kasar dan tidak pantas.

“Atur emosi Anda, karena dia tidak sedang bermusuhan dengan Anda, dan dia bukan musuh Anda pula. Abaikan saja tangis dan raungannya dan ajaklah dia berbicara dengan lembut. Jelaskan kepadanya mengapa Anda tidak memberinya mainan yang dia ingini dengan alasan yang tepat.”

Mengatur emosi adalah hal yang harus Anda lakukan. Abaikan pula rasa malu, misalnya karena dilihat banyak orang di tempat umum seperti di pertokoan atau di sekolah. Ingatlah bahwa ini adalah tahap penting dalam perkembangan emosi anak.

Menjelaskan alasan mengapa Anda melarang dan menahan keinginan anak adalah hal yang harus Anda lakukan. Jangan pernah lemah, seperti langsung luluh hati dan mengabulkan permintaan anak hanya karena tak sanggup menghadapi temper tantrum anak.

“Karena suatu saat, anak pun harus disikapi dengan tegas. Ada kalanya sebuah permintaan memang tak bisa dikabulkan. Ini untuk mengajari anak menghadapi hidup nantinya agar ia tak manja dan menjadi mandiri,” begitu ungkap Hastaning Sakti.

Yang harus Anda lakukan selanjutnya adalah mengajari anak untuk berlatih menguasai dan mengendalikan emosinya. Anda bisa mengajak anak menyalurkan emosi dengan bermain musik, melukis, bermain bola, atau permainan-permainan lainnya. Lewat permainan-permainan tersebut anak belajar untuk menerima kekalahan, belajar untuk tidak sombong jika menang, bersikap sportif, dan belajar bersaing secara sehat.

http://gaia-magazine.com/menyiasati-anak-hobi-ngambek.html

http://wonderful-family.web.id/?p=593#more-593

Read Full Post »

Invisible hand? sepertinya kedengaran menyeramkan ga sih? tapi yang saya maksud disini adalah campur tangan Tuhan terhadap apa yang kita niatkan dan itu buat kebaikan, Insya Allah akan ada jalan yang mempertemukan ke arah tujuan kita tersebut dengan bantuan Tuhan tanpa kita sadari atau seringnya terlambat kita sadari.

Berawal dari keinginan saya untuk belajar menulis, menggali ilmu untuk bisa menulis secara baik, dan saya berkesempatan mendapatkan buku secara gratis dari panita workshop, buku yang diterbitkan dari Indie publishing, saya yakin panitia hanya berusaha memperkenalkan cara menerbitkan buku sendiri apabila kita sudah punya naskah dan akan diterbitkan, kita bisa mengikuti langkah ibu Aridha Prassetya, penulis buku :” Being a natural mother”, contoh buku yang diberikan kepada kami.

Minggu lalu baru saya bisa berkesempatan untuk membaca isi buku tersebut, dan sepertinya Allah memberikan jawaban dari kegundahan/kegelisahan saya atas apa yang saya rasakan tentang sulitnya menjadi ibu yang baik buat anak-anak saya, sulitnya menahan kesabaran apabila anak-anak mulai rewel, sulitnya bertindak sebagai pelayan untuk kenyamanan anak-anak,juga sulitnya berusaha menerima bahwa saya adalah seorang ibu yang harus bekerja dan menghabiskan waktu di kantor, padahal di sisi lain, ingin sekali lebih banyak waktu bersama anak-anak dan suami.

Terharu membaca cerita dari kisah nyata ibu Aridha, tak tertahankan saya brebes mili, waktu membaca di omprengan sepanjang jalan saya pulang ke rumah, sempat termenung beberapa detik, apabila saya menemukan paragraph dan sesuai dengan apa yang saya rasakan dan pikirkan.

Menurut ibu Aridha, Ada 8 karakter yang diperlukan untuk menjadi Natural Mother, yaitu:

1. Kooperatif,  bekerja sama dengan anak lebih baik dan akan membahagiakan dari pada kita memaksakan kehendak.

2.Kuat, mengapa harus kuat? belajar kuat adalah berlatih mengalah, dan ada beberapa kisah ibu-ibu yang bersedia mengalah dan berhasil menciptakan kebahagiaan, walaupun berat yang harus dijalani.

3.Inspirasional, sebagai ibu, kita harus menjadi inspirasi buat anak-anak kita, kita berharap agar anak-anak menjadi anak yang kreatif, maka sebagai ibu, sebaiknya kita juga harus pintar memilih inspirasi bagi diri kita sendiri terlebih dahulu.

4. Negative Thinking, banyak anak-anak dan remaja yang kurang baik pergaulannya, dan sebagai ibu, kita harus mempunyai negative thinking terhadap anak-anak, zaman sekarang, banyak anak-anak yang lebih suka terbuka pada orang lain, dari pada guru atau orang tuanya, disini pentingnya negative thinking bagi para ibu.

5.Motivator, Bagaimana memotivasi anak-anak melalui pemuasan kebutuhan-kebutuhan naluriahnya.

6.Sabar, banyak hal-hal yang dialami oleh ibu yang harus dipelajari, dibaca dan diselesaikan, layaknya sebuah buku, hidup adalah pembelajaran tanpa henti.

7.Pemaaf,  salah adalah manusiawi dan “maaf” adalah sifat ilahiah, mampukah kita bergerak menuju sifat yang pemaaf agar anak-anak menjadi lebih nyaman bersama kita?

8.Natural, ibu natural adalah ibu yang menjaga keadaan psikisnya secara wajar,tanpa kekerasan, dan tidak meledak-ledak.

Seorang ibu natural adalah seorang ibu pendoa, bukan hanya menjaga harmoni kesehatan fisik, kata dan emosinya, tetap juga gemar berdoa.

Itulah sedikit ringkasan yang saya ambil dari buku ” Being a natural mother” by Aridha Prassetya, karena saya sangat terkesan dengan buku ibu Ida, saya sempat kirim email untuk mengucapkan terima kasih atas sharingnya dalam buku tersebut dan bisa membuka mata, wawasan serta ilmu agar bisa menjadi ibu yang baik, dan dibanggakan oleh anak-anak kita kelak.

Saya copy paste isi email dari ibu Aridha, yang membuat saya terharu:

Dear Anita Yuniar,
Saya sungguh bersyukur, jika buku2 saya dapat membantu para sahabat utamanya perempuan dan terima kasih atas cerita yang membahagiakan saya pagi ini.
Mbak Anita,
Bahagia pula dapat mengenal anda.
Satu hal yang saya ingin share pada mbak adalah mbak harus berusaha MERUBAH CARA PANDANG.
Gantilah pertanyaan “Tuhan mengapa saya kok begini kok begitu…???”
menjadi
“Tuhan, terima kasih Engkau telah mempercayai aku untuk mengerjakan hal-hal yang luar biasa ini, menjadi ibu bagi anak-anakku, menjadi istri bagi suamiku, menjadi perempuan yang sehat lagi kuat,…aku tahu Engkau kenapa Engkau mempercayaiku dan bukan yang lain, karena Engkau tahu aku layak dipercaya olehMu. Maka ijinkan aku sedikit memiliki sifat-sifatmu yang AGung, agar aku dapat menyelesaikan semua tugas-tugasku dengan baik sesuai kehendakMu, Amin…” (Usahakan menyebut semuanya kebaikan-kebaikan Tuhan dan kepercayaanNya, mbak akan merasakan bahwa mbak adalah perempuan yang sungguh kuat dan oleh karenaNya mendapat kepercayaan dariNya untuk amanah-amanah penting itu…)
Setelah itu, lentur saja menjalani apapun…dan BERANI. Harus berani mengambil keputusan-keputusan penting.
Buku Being a Natural Mother bisa diperoleh di sini : http://www.pro.indie-publishing.com/archives/286 
Oh ya, banyak hal yang kerap menggelisahkan perempuan banyak saya tulis di sini,jika ada waktu silahkan berkunjung saja mbak Anita.Salam bahagia buat mbak sekeluarga,
Hangatkan anak-anak dengan cahaya kecantikan mbak yang mulai mbak rintis dari hari ini,
Jadilah ibu yang “cantik”. Yang Cantik di MataNya.
 
Alhamdulilah, atas berkahMu hari ini ya Allah….semoga saya bisa mulai menjadi ibu yang “cantik”, dan Cantik dimataNya..Aammiin..
 

Read Full Post »

Mengapa Penting? sebegitu pentingnyakah?

Di zaman online sekarang ini, social network sangat menunjang suatu kegiatan yang dilakukan dan sebaiknyalah kita manfaatkan untuk kebaikan, saya mencoba merangkum sedikit uraian yang diberikan oleh ibu Vera Makki (www.veramakki.com) sebagai pembicara dalam training internal yang diadakan oleh kantor JICA. Dengan judul: “Utilizing Employees Social Network for Good Corporate Image”

Ada beberapa objective yang dicoba rangkum oleh ibu Vera Makki, diantaranya:

1. To Create unified feelings the importance of good corporate image at JICA and explain how the employee could contribute to establish the image through their daily task, using their social network.

2. To develop technical handling for the employee in maintaining relationship and engaging with the public and journalist.

3. To share the sense of PR Crisis to the employee and set the rule of thumbs in anticipating the situation.

4.To create understanding on the unleashing power of word of mouth in social network

5.To create employee understanding that all employees including program officers, receptionist and secretaries also have PR responsibility in JICA

Sebagai karyawan JICA,perusahaan yang bergerak dalam bidang bantuan terhadap negara-negara berkembang, kita harus mengerti struktur organisasi internal JICA, seperti; total karyawan, struktur organisasi, distribusi karyawan, range usia, karakter serta nilai dan budaya dalam perusahaan JICA.

Dan kita juga harus paham apa saja interest dan issue pihak luar terhadap JICA, seperti: background info, situasi saat ini, masyarakat, issu yang beredar, misi, visi dan nilai juga kegiatan-kegiatan mereka.

Apa saja kontribusi karyawan yang diharapkan:

1. Living the values, hidup dengan nilai yang ada di JICA

2.Ethics: Honest, integrity, trustworthy, responsible , di perusahaan manapun, sangat penting etika seperti kejujuran, bisa dipercaya, bisa dipertanggungjawabkan.

3.Discipline: punctuality, submission, deliverable, apabila seorang karyawan kurang disiplin dan tidak mematuhi aturan, biasanya penilaian kepada dirinya akan berkurang.

4.Positive Energy and Attitude : ini menurut saya yang paling penting dalam menjalin hubungan antara teman sekantor, walaupun si karyawan tersebut sangat pintar, cantik/tampan tetapi apabila mempunyai sikap yang sangat arogan, tidak mau bekerja sama, maka akan sulit bagi dirinya untuk bersosialisasi.

5.Performance: this is the last but not least….Prestasi apa yang sudah diberikan untuk perusahaan.

WOM (Word Of Mouth)

Why WOM is important? there are common mistakes:

1. If I know it, then everyone must know it, tidak semua orang tahu apa itu JICA, ngapain aja sih JICA, sudah berapa lama sih di Indonesia, dll.

2.Data vs.information

3.If I need your opinion, I’ll tell it to you, bukan nunggu ditanya dulu baru menjawab, tetapi usahakan untuk berbagi minimal satu kalimat tentang kebaikan JICA.

4.No time to listen to each other

5.Confront the brutal facts

6.Communication is not my job

7.Coaching skill

*Traditional Communication Tool

Apa saja yang bisa digunakan untuk menyebarkan informasi di dalam suatu perusahaan, diantaranya: Newsletter, portal,floor tv, web conferences, chat with chairman, floor lunch with chairman, town hall, internal activation ( thematic), sharing of joy, paste board, neon box, pc teaser, toilet blast, email blast and sms blast.

*Comunication Tool:

BB Group, Facebook Group, Mailing list, Fanpage, pilihan untuk online dan untuk offline, bisa diadakan seperti volunteer program, ikatan alumni pemuda jepang, akademi berbagi, dll.

The Fastest Growing Channel: Social Media, diantaranya: Facebook, twitter, blog ( wordpress atau blogspot), linked in dan yang umum adalah google.

Disarankan mulai hari ini, kita sebagai karyawan JICA, coba deh, yang punya account twitter untuk mengupdate status karyawan kita sebagai karyawan JICA, di FB dan apabila punya blog, tulislah pekerjaan sehari-hari yang bisa dishare untuk orang lain dan bermanfaat agar orang lain bisa mengetahui lebih jauh tentang JICA.

Satu hal yang perlu diperhatikan, jangan sampai hal-hal yang tidak seharusnya sampai keluar publik, misalnya curhat tentang teman, curhat tentang atasan ataupun masalah-masalah kegiatan JICA, ditulis secara gamblang dalam sebuah blog ataupun social network lainnya.

Read Full Post »

” Apa kabar bokap loe, Gret? tanya saya waktu ketemu teman SMP, dan dijawab, ” iya, nih, bokap baru saja kena stroke, setengah badannya lumpuh, dan baru semalam pulang dari RS”, jawab teman saya itu. Dalam beberapa waktu belakangan ini, sepertinya makin banyak orang yang terkena stroke, tak pandang bulu, apakah dia tua, setengah tua, malah ada juga yang masih usia 30-an, seperti suami teman SMA saya, waktu dia pulang dari acara pernikahan, tiba-tiba saja, suaminya lemas dan seperti orang pingsan, lalu dibawa ke rumah sakit, dan separuh badannya sudah tidak berfungsi normal, sampai sekarang masih berobat jalan, menurut teman saya, sudah ada perubahan lebih baik, bicaranya sudah mulai bisa dimengerti dan sudah bisa berjalan dengan pelan-pelan.

Sabtu lalu, saya dan suami beserta teman-temannya pergi ke Bogor, Ciomas untuk menjenguk salah seorang teman kuliah suami yang juga terserang stroke, di usianya, 51 tahun sebaya dengan suami saya, dia sudah terbaring tidak sadarkan diri, badannya yang dulu tegap, rambut tebal dan kulit putih, sekarang sangat berbeda, dimana badannya kurus, rambut rontok dan kulit coklat keriput, saya ikut prihatin melihat kondisi teman suami saya yang bernama Uud tersebut. Kami bertemu dengan istri dan anaknya yang masih bujang, anak pertamanya baru saja menikah Agustus lalu.

Sebagai istri, yang ingin punya suami sehat, dan dapat menemani membesarkan anak-anak kami, saya sangat berharap tidak terjadi hal seperti yang dialami oleh temannya itu, berawal dari pola makan sehari-hari, saya usahakan tidak bersantan, dan mengurangi konsumsi daging, karena disamping harganya mahal, hehehe.. maklum ibu rumah tangga yang musti mikir pengeluaran belanja, juga tidak baik bagi kesehatan, apalagi suami punya riwayat tekanan darah tinggi dan pernah mengalami vertigo beberapa bulan lalu.

Niat untuk sepedaan, sudah ada dari dulu, kami punya sepeda 3 buah, tetapi kurang maksimal dimanfaatkan, mudah-mudahan next time bisa lebih diberdayakan si sepeda, kasian cuma mejeng aja di kamar. Jalan pagi, sempat kami lakukan berdua pada hari Sabtu atau Minggu, tetapi satu bulan belakangan ini, sudah tidak pernah lagi, hangat-hangat tai ayam, kalau orang bilang ya? Ayoo.. sambil menyemangati diri sendiri buat melakukan olah raga agar badan sehat, bugar, dan fit, apalagi punya anak balita yang sedang aktif-aktifnya, masa’ orang tuanya harus uzur sebelum waktunya? hehe….

Read Full Post »

Older Posts »

Vanya2V

Mom of Rhapsody

cerita si nina

here and now, i only have words to tell you!

backpackology.me

An Indonesian travelling family, been to 25+ countries as a family. Author of several travel guide books and travelogue. Write travel articles for media. Strongly support family travelling | travelling with baby/kids. .

phdmamaindonesia

stories of womanhood and ideas for Indonesia

pacarkecilku

"Jika kau punya cerita, bagilah dengan kata-kata. Jika kau punya kerinduan, kenanglah dengan pertemuan"

Macangadungan

Sketchbook , Dreams, Beer, and all other stuffs.

BBC | Blog Belalang Cerewet

semua dicatat agar awet

falafu.wordpress.com/

Tuhan tidak pernah bimbang, selalu seimbang..

Wiwin Hendriani

Berbagi Karya, Berbagi Cerita

YSalma

Jejak Mata dan Pikiran

Fitri Ariyanti's Blog

Mengolah Rasa, Menebar Makna

Oerleebook's Situs

Kumpulan data-data artikel menarik, inovatip, mendidik. dari berbagai sumber

Nata Riawan | Bali Animator Illustrator Graphic Designer

Desain Grafis bukan sekedar Print Art Paper

tarjiem

Jasa Penerjemah Inggris Indonesia

My Idea My Imagination

About me, about my inspiration, about my imagination