Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Maret, 2011

Ayahku, seorang asli keturunan Sumatera, lebih tepatnya lahir di Kota Lais, Bengkulu Utara, kota kecil di pinggir pantai, dan masyarakatnya berbahasa Rejang. Ayahku seorang yang pendiam, tidak terlalu banyak bicara juga terhadap anak-anaknya ataupun istrinya, beliau adalah seorang bapak yang berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya dengan bekerja sebaik mungkin.

Datuk, begitu sekarang beliau dipanggil oleh cucu-cucunya termasuk oleh anak-anakku,beliau lahir tepat pada tahun 1945, pada jaman kemerdekaan, tetapi beliau hanya paham tahun 1945 saja, jadi waktu beliau bikin KTP di Jakarta, tanggal lahirpun beliau karang sendiri, dan kami terbiasa dengan tidak merayakan hari jadi kami sekeluarga, tidak pernah ada perayaan ulang tahun,ataupun ulang tahun perkawinan dengan mengundang teman-teman atau tetangga, tidak pernah…aku tidak tahu juga kapan tepatnya tanggal lahir ibuku, yang aku tahu hanya tahun 1951, bulan Desember, karena pada jaman dulu, nenekku hanya mencatat di dinding rumah, hanya tertulis bulan dan tahun lahir saja.

Ayahku, bernama M.Atik Husein, dan sebagai orang Sumatera yang punya darah keras, beliau amat sangat melindungi anak-anak perempuannya, kami berempat bersaudara, tiga orang perempuan dan satu adik kami, laki-laki sebagi penutup.Aku ingat waktu aku usia SD, dulu kami tinggal di Jl.Bangka,Jakarta Selatan dan tanahnya sangat luas, kira-kira 6,000 meter, disana, Ayahku membangun rumah diatas tanah miliknya bos Ayah aku, dan kami empat bersaudara lahir dan besar di rumah itu. Orang tua kami berjualan minyak tanah, menjadi agen dan tukang minyak keliling mengambil minyak tanah dari tempat Ayahku, Ayahku juga membangun rumah petak-petak kecil untuk mereka yang tinggal disana sebagai penjual minyak keliling.
Pada suatu waktu, aku bermain di sekitar rumah petak itu, dan ada seorang laki-laki kira-kira berumur 20an atau 30an, dia menunjukan celana dalamnya ke aku, dan aku pada saat itu sangat amat ketakutan, lalu aku panggil Ayahku dan menceritakan hal tersebut, lalu tanpa ba bi bu lagi, Ayahku datangi orang itu, dan marah-marah lalu mengusir dia agar tidak tinggal lagi di rumah petak itu, dan aku ingat sekali laki-laki itu membantah hal-hal yang aku ceritakan kepada Ayahku, dia bilang, aku berbohong, dan Ayahku tentu saja lebih percaya anaknya dari pada orang itu.

Selain itu, Ayahku juga sering mengantar aku pergi ke Sekolah aku di SDN Pelamampang 08 pagi, dekat Pondok Jaya, yang lokasinya lumayan jauh kalau ditempuh berjalan kaki, kira-kira hampir satu jam dari rumahku. Ayahku dulu bekerja sebagai karyawan di rumah bosnya yaitu pak Yusuf ( yang punya tanah di Jl.Bangka) dan sempat pula ikut memutar film di bioskop, jaman dulu belum ada tuh yang namanya VCD atau DVD, jadi hiburannya adalah layar tancap yang bisa ditonton banyak orang di lapangan, biasanya orang-orang yang mengadakan hajatan, mereka suka hiburan layar tancap pada malam harinya, dan akupun pernah ikutan menonton bareng teman-teman dekat rumahku, yang sebetulnya aku juga tidak paham apa dialog dalam film itu, karena suaranya yang menggema dan banyaknya orang yang menonton, dan berjualan jadi hanya hiburan melihat gambar yang besar dan senang karena bisa keluar bermain dengan teman sebayaku.

Awal bertemu dengan ibuku,menurut cerita ibuku sebetulnya mereka sudah kenal dengan ayahku tetapi hanya sepintas saja, biasanya pada waktu lebaran, Ayahku datang bersilaturahmi di rumah Nenek Jelambar, kami menyebutnya demikian karena rumahnya di Jelambar atau nenek gendut, karena memang tubuhnya sangat gendut, beratnya melebihi 100 kg.Dulu, ibuku tinggal bersama nenek gendut, sekolah sampai SMP di Jakarta dibiayai oleh nenek gendut ( nama asli: Nurtaibah Nasution). Tidak ada istilah pacaran dalam kamus Ayah dan Ibuku, Tahun 1972, Ayahku datang ke kampung ( mereka berdua berasal dari kampung yang sama), dan menemui Datukku Alm. ( Ayah dari Ibuku), lalu melamar anak gadisnya yang bernama Suaiyati, dan tanpa penolakan sedikitpun, Datuk langsung menerima lamaran tersebut, tak lama setelah itu, mereka menikah dengan acara sederhana dihadiri saudara dan handai tolan.

Setahun setelah menikah, lahirlah anak pertama ayahku, yaitu aku pada tahun 1973, dan ibuku pernah bilang, ayah sangat sayang dan senang sekali menimang aku dan mengajak aku keliling-keliling dekat rumah. Melihat photo Ayahku waktu masih muda, beliau cukup ganteng, walaupun hidungnya kurang mancung..hehe.., tapi kulitnya putih, tubuhnya ideal, tidak kurus dan tidak gemuk,dan berkumis, jelas saja ibuku tidak menolak lamaran Ayahku, karena kan Ayahku juga ga jelek, lumayanlah buat digandeng, dan saat itu juga, Ayahku sudah punya pekerjaan tetap walaupun dengan gaji kecil.

Setelah mereka menikah, hanya kurang dari seminggu, mereka kembali ke Jakarta, Ayahku sudah menyiapkan tempat yang hanya terdiri dari satu ruangan kecil, tapi Ayahku sudah membeli kasur dan kompor serta peralatan dapur untuk memasak.Rumah tersebut lama kelamaan berkembang menjadi rumah tumbuh, dari yang hanya satu petak, melebar ke samping dan ke belakang untuk kamar, ruang menonton TV, ruang dapur, akhirnya rumah itu menjadi cukup luas untuk ukuran kami sekeluarga. Begitu anak-anak sudah agak besar, kami punya kamar terpisah ( Aku tidur sendiri) sedangkan adikku perempuan dua orang, mereka satu kamar memakai tempat tidur bertingkat ( tempat tidur yang terbuat dari besi tersebut masih ada di kamar ibuku sekarang), adikku yang paling kecil, laki-laki masih tidur bersama orang tuaku.

Kenangan yang paling banyak aku ingat waktu di rumah itu, adalah rumah kami sering dijadikan tempat menonton TV beramai-ramai dengan tetangga dekat, TV kami pada waktu itu masih TV hitam putih yang seperti lemari ada kakinya dan pintunya bisa digeser.
Pada waktu itu, belum banyak yang mempunyai TV di rumahnya, jadilah rumahku,ramai setiap habis magrib sampai jam 10 malam, baru pada bubar ke rumah masing-masing. Aku dan adik-adikku yang seharusnya belajar malah ikutan nonton TV dan sering tertidur, lalu tugas Ayahku lah yang menggendong kami ke tempat tidur kami masing-masing.

Hubungan aku dengan Ayahku cukup dekat, mungkin karena aku anak perempuan pertamanya, aku ingat pada waktu aku masih di SD, aku sering minta dikelonin oleh Ayahku,sebelum aku tidur, ( sepertinya kebiasaan ini menurun ke anakku, Alifa ), dan apabila aku sudah tertidur, barulah Ayahku pindah ke kamar sebelah untuk tidur bersama Ibuku.Setelah aku masuk SMP, sepertinya aku sudah benar-benar total tidak pernah lagi minta ayahku untuk tidur denganku, mungkin sudah ada rasa malu dan sudah mulai beranjak ABG.

Satu hal yang paling aku banggakan dari ayahku, beliau tidak pernah sekalipun memukul kami anak-anaknya, semarah-marahnya beliau, hanya raut wajahnya saja yang menunjukan kemarahan, mungkin beliau percaya suatu mitos yang katanya apabila Ayah memukul anak perempuannya maka anak perempuannya tersebut juga akan dipukul oleh suaminya kelak. Ga tau, mitos itu benar atau tidak, tapi ya sepertinya,untuk mendidik anak itu memang bukan dengan memukul ya, dan apalagi seorang Ayah yang kalau sudah emosi apabila memukul kepada anaknya yang jauh lebih lemah dari dia, pasti akibatnya bisa fatal.

Selain tidak pernah atau jarang marah kepada anak-anaknya, Ayahku juga jarang sekali marah terhadap ibuku, walaupun Ayahku orang yang pendiam dan kadang-kadang ibuku bilang, ” kenapa ya, Ayah kamu itu, ga pernah mau cerita-cerita sama saya istrinya, tidak seperti suami orang lain”. Tetapi ya namanya juga sudah watak, susah lah untuk dirubah, kita harus menerima segala kelebihan dan kekurangan dari pasangan kita, toh kita sendiri juga bukan orang yang sempurna kan?

Bila sore hari dan Ayahku sedang tidak dinas malam, aku dan adikku Iyus, sering sekali diajak jalan-jalan untuk melihat air mancur di Blok M, kami main di taman, ada patung dinosaurus yang bisa kami panjat untuk seluncuran, bahagia sekali rasanya saat itu, kadang-kadang kami juga pergi ke Hoya ( sekarang sudah tidak ada lagi), naik kuda-kudaan lalu pergi makan bakso di dekat pasar Blok A.Tapi begitu lahir adikku Imam, kami sudah tidak bisa pergi naik motor bersama-sama karena sudah tidak muat lagi, dan kami juga sudah besar, sudah punya teman dan kegiatan sendiri bersama dengan teman-teman/tetangga.

Salah satu keluarga yang terbilang cukup dekat dengan keluargaku yaitu keluarga Mak Dang, biasa kami panggil beliau, istri dari Pak Dang Alan, dulu waktu aku masih bayi, aku dirawat oleh Mak Dang, keluarga mereka sempat pernah tinggal di rumahku, di Jl.Bangka, tidak lama setelah aku lahir, karena rumah mereka di pinggir lintasan kereta terkena gusur, dan katanya juga namaku yang memberikan adalah Mak Dang juga, Anita, karena wanita dan Yuniar, karena lahir di bulan Juni. Ayahku waktu sebelum menikah pernah tinggal bersama keluarga mak Dang dan pak Dang Alm., menurut cerita mak Dang, banyak perempuan yang naksir ayahku, ada yang datang bawa makanan, atau hanya sekedar titip salam, lalu Ayahku karena tidak suka, beliau bersembunyi di kamar apabila perempuan itu datang ke rumah mak Dang.

Selain postur tubuh yang cukup tinggi dan tegap, juga kumisan, Ayahku sering dikira seorang ABRI, jadi tidak ada yang berani macam-macam dengan beliau, teman-teman SD yang pernah bertemu dengan Ayahku, mereka memanggil Ayahku dengan panggilan Om Kumis..hehe..karena kumisnya cukup lebat tapi tidak selebat pak Raden dalam serial TV si Unyil lho…

Aku orangnya suka humor dan termasuk yang senang bercanda, dan sepertinya ini adalah keturunan dari Ayahku, walaupun beliau orang yang pendiam di keluarga, tetapi terhadap orang lain, beliau suka humor, dan malah suka garing, alias lucu yang dibuat-buat, dan ini yang bikin ibuku suka kesal.

Ayahku selalu ada buat aku dan adik-adikku, itu yang aku rasakan, khususnya pada saat pengambilan raport, ditengah-tengah kesibukan beliau atau dalam kondisi lelah, beliau pasti akan menyempatkan waktunya datang ke sekolah kami untuk mengambil raport, dan karena aku juga tidak pernah tinggal kelas,dan pernah juga mendapatkan ranking 5 besar di sekolah, maka tidak pernah sekalipun aku dimarahi karena raportku yang jelek, dan juga ucapan selamatpun tidak aku dengar dari Ayahku atau ibuku, tetapi aku yakin disudut hati mereka, mereka bangga dan bahagia bisa menyekolahkan anak mereka dengan kucuran keringat mereka, dengan doa mereka,dengan cara yang halal.

” Dis, tolong injakin badan Ayah ya..” dan saat itu merupakan moment yang aku tunggu-tunggu, karena sambil aku menginjak-injak badan ayahku yang tidur tengkurap, aku bercerita banyak hal, dari masalah pelajaran, tentang teman-teman dan tentang keinginanku/cita-citaku yang banyak tapi tidak bisa terwujud karena kondisi keuangan keluarga. Dulu, aku ingat, aku ingin sekali ikut menjadi penari latarnya Guruh Sukarno Putra ( GSP) yang cukup terkenal dan sering masuk TV, ada teman SMA yang dulu juga sebagai penari dan sepertinya kegiatan tersebut sangat menyenangkan, sambil kita bisa dapat uang saku, bisa masuk TV dan kalau ada kesempatan, kita bisa keliling dunia dalam rangka promosi wisata Indonesia. Tapi untuk ikut sanggar GSP tersebut biayanya cukup mahal dan sebagai anak tertua, adik-adikku masih butuh biaya sekolah semua dan keiinginanku itu bukan prioritas.

Waktu ibuku melahirkan anak ketiga, yaitu Yulianingsih, aku menunggu Ayahku kembali ke rumah, dan malam-malam beliau pulang dengan membawa bungkusan berwarna putih dan dalamnya berwarna merah, karena saat itu dan kebiasaan Ayahku yang sering membawa oleh-oleh makanan kalau pulang ke rumah, aku pikir saat itu, Ayahku membawakan aku buah jambu air yang ranum, dan siap dimakan, ternyata oh ternyata… itu adalah ari-ari adikku yang dibawa dari rumah sakit dan akan ditanam oleh ayahku disamping rumah.

Masih teringat harum mie goreng dan bihun gorengnya restoran 99 Jl.Tendean, Jaksel, dan menurut aku, saat itu, mie goreng adalah makanan terlezat yang pernah aku makan, walaupun kami sudah tertidur, pasti ayah dan ibuku akan membangunkan kami untuk bersama menyantap mie goreng atau bihun goreng yang dibawa Ayahku setelah pulang bekerja. Bau acarnya, wangi saus tomatnya yang berbeda, ayam, ati ampela dan telur yang banyak dalam campuran mie tersebut tak terlupakan dan rasa kebersamaan kami yang terus terpatri dalam benak kami.

Semenjak aku lahir dan sampai ayahku pensiun, kendaraan yang beliau pakai adalah motor, dari merk Kawasaki, Honda dan terakhir Yamaha bebek, ayahku belum bisa membeli mobil untuk keluarga kami, kami selalu naik taksi apabila pergi bersilaturahmi pada waktu Lebaran. Pernah suatu hari ketika ayahku mengendarai motor, beliau tertabrak oleh mobil dan mobil itu kabur, ayahku terluka di bagian muka dan tangannya, ayahku mengirim ke surat pembaca di koran mengenai tabrak lari yang beliau alami tetapi tidak ada yang mengaku, biarlah Allah yang membalas perbuatan orang itu.

Dibalik ketegarannya sebagai seorang Ayah, aku melihat air mata ayahku menetes pada saat adikku Yuli menikah, Yuli adalah anak ayah yang pertama kali menikah dalam keluargaku, dan acara resepsi diadakan di rumah, Ayah begitu bangganya bisa menikahkan anak perempuannya untuk pertama kali, dan undangan yang disebar cukup banyak,makanan yang disediakan juga beragam, keluarga dari kampung ayah ibuku pun datang ke Jakarta untuk ikut menyaksikan dan membantu proses acara pernikahan adikku, Yulianingsih. Pernikahan kedua yaitu Iyus, dan ketiga pada tahun 2005,giliran aku yang menikah, walaupun aku anak perempuan tertua, tetapi untuk urusan jodoh termasuk yang agak telat dibanding dengan adik perempuanku dan terakhir adik laki-lakiku, Imam menikah pada tahun 2008.

Ayahku pernah mencalonkan diri sebagai DPD di daerah kelahirannya di Bengkulu, dari partai PPP dan beliau harus menerima kekalahan, lima tahun berikutnya, beliau mencoba kembali mencalonkan diri dari partai lain, dan kembali lagi gagal mendapatkan kursi di DPD.Alhamdulilah memang sudah jalannya dari Allah, bahwa ayahku harus menghabiskan waktu bersama istri dan anak-anak serta cucu-cucunya di Jakarta, dan sesuatu yang kita pikir baik, belum tentu baik menurut Allah, karena siapa tau kalau ayahku terpilih, malah banyak keburukan yang terjadi.

Mengisi masa-masa pensiunnya, setiap pagi setelah subuh, beliau lari pagi dekat rumah di Pondok Bambu, dan setelah itu kadang-kadang ke pasar, membantu menjaga counter pulsa dan air isi ulang, siangnya kadang suka menjemput cucunya dari sekolah. Hampir setiap minggu kami berkumpul di rumah Pondok Bambu, total jumlah cucu ayahku adalah 7 dan akan menjadi 9 dalam tahun ini, karena Iyus dan Yuli yang sedang hamil anak ketiga mereka, makin ramailah suasana rumah orang tuaku apabila semua berkumpul.

Ayah masih suka pulang ke desanya, untuk melihat hasil kebun kopinya yang dia bisa jual apabila panen, Alhamdulilah masih ada kegiatan dan uang yang bisa dihasilkan.

Doaku selalu buat ayah agar sehat, tolong kurangi merokok dan ngopinya ya, Yah? semoga selalu dalam LindunganNYA,diberikan rahmatNYA, rejeki yang berkah, semoga bisa menunaikan ibadah haji bersama ibuku,sayangilah beliau sebagaimana beliau menyayangiku sejak kecil, ampuni dosa-dosanya,berilah umur yang panjang, umur yang Engkau ridhoi,dan apabila Engkau panggil, panggilah dengan Chusnul Qotimah, dan dipelihara oleh orang-orang yang baik, Amin…

Read Full Post »

Upah harian tukang

Untuk teman-teman yang ingin mencoba menghitung biaya kerja (upah) pekerja bangunan, kami mencoba membuat daftar nya. Semoga bermanfaat

Mandor Rp. 75.000,-/orang/hari (7jam)

Kepala Tukang Gali Rp. 50.000/orang/hari (7jam)

Tukang Gali Tanah Rp. 40.000/orang/hari (7jam)

Kepala Tukang Batu Rp. 55.000/orang/hari (7jam)

Tukang Batu Rp. 45.000/orang/hari (7jam)

Tukang Batu setengah terampil Rp. 35.000/orang/hari (7jam)

Kepala Tukang Kayu Rp. 55.000 /orang/hari (7jam)

Tukang Kayu Rp. 50.000/orang/hari (7jam)

Tukang Kayu setengah terampil Rp. 40.000/orang/hari (7jam)

Kepala Tukang Besi Rp. 55.000/orang/hari (7jam)

Tukang besi terampil Rp. 50.000/orang/hari (7jam)

Tukang besi setengah terampil Rp. 40.000/orang/hari (7jam)

Kepala tukang cat Rp. 55.ooo/orang/hari (7jam)

Tukang cat terampil Rp. 45.000/orang/hari (7jam)

Tukang cat setengah terampil Rp. 40.000/orang/hari (7jam)

Pembantu tukang/kenek Rp. 35.000/orang/hari (7jam)

Informasi lengkapnya ada di http://benerinrumah.wordpress.com/upah-tukang-bangunan/

Salam,

Tim Benerin Rumah

Read Full Post »

Credit ke Bank

Hari ini dapat telephone dari bank OCBC NISP, dari rekomendnya mas Oka, semoga aja semuanya bisa lancar dan dapat dana pinjaman yang bisa buat bangun kontrakan di Sumber Artha.
Lumayan kan bisa pakai uang bank untuk bangun kontrakan tanpa harus pakai uang sendiri, semoga semuanya berkah dan bisa menambah penghasilan keluarga.
Selain itu mau nyoba juga ke bank Niaga, hari ini mau nyoba telpon istrinya Mas Didin tda bekasi,krn dia kerja di CIMB Niaga tuh, kita lihat aja nanti yang memberikan dananya lebih banyak dan prosedur pinjaman serta bunganya yg rendah, bisa kita pilih yang bank mana nantinya.

Sekarang ini masih dalam proses pemilihan tukang yang akan membangunnya, sementara sih kita mau pakai pak Kusrini, rekomend dari teman SMA saya, dan sementara ini saya baru pakai dia untuk perbaikan rumah kecil-kecilan saja,seperti pembetulan eternit, mengecat kamar, dan juga perbaikan yang bocor-bocor di kontrakan, dan Alhamdulilah cukup puas dengan kerjanya.
Tapi sekarang ini sedang bantu bikin tembok pagar untuk rumahnya iyus yang baru dibeli di bina lindung, Jatiwaringin, syukur deh tuh adikku yang satu itu, kalau dihitung sudah punya empat rumah, yang satunya rumah susun ( di Bekasi Utara, di Cibarusah, di Jt.waringin dan di Casablanca Residence),.. koleksi kali dia ya? hehe..ya moga2 aja si Iyus dan Malik juga puas dengan pekerjaanya pak Kusrini ini, jadi kan bisa dipake-pake lagi kalau ada keperluan.

Ga terasa lho, bulan Maret udah mau abis dan bentar lagi April.. jadi harus dikebut nih untuk pinjamannya, masa’ rencana dari tahun lalu dan belum terealisasi juga, moga-moga aja bisa tahun ini terlaksana, Amiin.. ya Rabb.
Ada tips nih yang saya browsing dari internet, buat tambahan masukan kita kalau kita mau mengajukan credit ke Bank.

*Persiapan Mengajukan Pinjaman Kredit di Bank
Tips dan trik ini dimaksudkan bukan untuk mengakali perbankan (saya yakin mereka memiliki staf yang jeli untuk urusan pemberian Kredit), tapi untuk memperlancar persiapan pengajuan rekan pembaca dalam mengajukan Kredit apakah itu Kredit Tanpa Agunan atau Pinjaman Kredit lainnya.

1. Tentukan dulu kebutuhan anda. Kebutuhan apa yang anda inginkan untuk dibiayai bank. Untuk karyawan biasanya lebih simple, beli rumah, beli kendaraan, dst. Sementara untuk professional dan pengusaha lebih kompleks. Apabila yang anda perlukan adalah suntikan untuk perputaran modal, misalnya untuk mengurangi hutang dagang sehingga harga yang didapat lebih murah, atau untuk memperbanyak inventori/persediaan barang, maka yang diajukan adalah kredit modal (Kredit Bank Tanpa Agunan) dan kredit investasi.

2. Estimasikan kemampuan pembayaran dari Pinjaman Bank (payback ability) anda.

3. Periksa pemenuhan syarat administrasi Kredit Tanpa Agunan anda.

4. Perhatikan data dan fisik jaminan anda. Untuk dokumen pastikan sertifikat yang absah dan berlaku. Untuk SHGB, pastikan jangka waktu berlakunya masih lama minimal tidak lebih dari jangka waktu kredit yang akan diajukan (Kredit Pinjaman).

5. Pastikan anda tidak memiliki catatan cacat perbankan pada tahun berjalan (saat anda mengajukan Pinjaman Kredit tersebut)

6. Siapkan rekening tabungan atau giro yang mencerminkan pendapatan anda. INI PENTING. Terutama sekali untuk first impression bagi pihak bank. Saat ini bank akan lebih melihat data rekening anda dibanding data laporan keuangan atau gaji yang umumnya dapat dibuat buat (Pinjaman Tanpa Agunan).

7. Pilih bank dengan total servis terbaik: tingkat suku bunga yang tidak mahal (dalam satu periode, masing masing bank memiliki tingkat suku bunga kredit sendiri), bunga efektif, jenis kredit yang ditawarkan lengkap (ada bank yang hanya melayani KPR, dll) sehingga anda bisa mendapatkan kredit yang sesuai dengan kebutuhan (Pinjaman Tanpa Agunan).

8. Ada baiknya anda mencari rekomendasi dari debitur yang telah lebih lama berhubungan baik dengan bank tersebut.

9. Gunakan fasilitas Kredit sesuai dengan tujuan awal. Seringkali terjadi kemacetan kredit akibat terjadinya kesalahan pemakaian.

10. Terlepas dari semua itu, perhitungkan baik baik oleh anda bahwa dengan pemberian Kredit ini akan membantu anda, bukannya justru menyulitkan anda di kemudian hari

Demikian beberapa tips dari saya, mudah mudahan bermanfaat bagi yang membutuhkan Kredit Bank.

cozyann1974.wordpress.com

Read Full Post »

Melalui milis Profec yang saya ikuti, walaupun pasif, saya masih sering membaca email-email yang bermutu guna pengembangan diri pribadi, khususnya sebagai karyawan, banyak artikel-artikel membangun untuk karyawan agar bisa lebih baik dan juga apabila pengusaha, banyak pula artikel yang bisa dijadikan acuan atau panduan untuk berkembang.

Ini saya sadur tulisan yang menurut saya juga bagus, dan saya simpan di blog pribadi saya,judulnya: WIRAUSAHA; Bertahan Hidup dan Bertumbuh

WIRAUSAHA: BERTAHAN HIDUP DAN BERTUMBUH
Kamis, 10 Maret 2011

Di balik
hingar-bingarnya demam bisnis dan kewirausahaan yang menyeruak akhir-akhir ini,
saya merasakan bahwa ada kecenderungan dari para pembicara dan penulis buku
yang mengkampanyekan seakan-akan kewirausahaan itu merupakan jalan pintas
menuju kekayaan materi.

Tak sedikit yang
menebar mimpi bahwa dengan berwirausaha, setiap orang akan menjadi kaya-raya,
pensiun muda dengan bergelimang harta, bangun siang sambil bermalas-malas di
rumah mewah, pesiar keliling dunia dengan kapal pribadi, bahkan… tidak perlu
kerja! Karena ada uang yang bekerja untuk mereka!

Terlepas dari
benar-tidaknya mimpi-mimpi itu, saya melihat bahwa telah terjadi “generasi yang
hilang” dalam pengertian soal kewirausahaan. Sejak awal dekade 1990-an, arus
kepulangan anak-anak Indonesia yang belajar di luar negeri – khususnya Amerika –
begitu deras. Mereka inilah yang kemudian mengadopsi ilmu pengetahuan, gaya
hidup serta budaya dari negeri Paman Sam secara apa adanya, tanpa melihat lagi
bagaimana sebenarnya latar belakang ekonomi dan budaya di tanah air.

Mereka menganjurkan dan
mengajarkan agar generasi muda kalangan menengah segera terjun berbisnis, yang
mereka istilahkan dengan “berwirausaha”. Hanya dengan berwirausahalah, Anda
kelak bisa menjadi orang kaya yang hidup mewah sambil berleha-leha. Demikian
inti dari himbauan para motivator bisnis melalui seminar dan buku-buku.

Padahal, arti kata “wirausaha”
tidaklah sama dan sebangun dengan kata “bisnis”. Wirausaha merupakan metamorfosa
dari kata “wiraswasta” yang dimunculkan pertama kali pada dekade 1970-an, jauh
sebelum para “baby boomers” Indonesia
menjadi dewasa dan pergi belajar ke Amerika.

Intinya, hanya ada 2
patah kata yang mewakili arti teknis dari kata “wirausaha”, yaitu “bertahan
hidup” (survive), dan “bertumbuh” (grow). Tidak ada makna dari kata-kata tersebut yang
menunjukkan bahwa wirausaha adalah jalan pintas menuju kekayaan yang hedonis.

Misi utama dari seorang
wirausahawan adalah “bagaimana bertahan hidup” dengan mengandalkan keuletan sikap
mental, sedangkan misi lanjutannya adalah “bagaimana menumbuh-kembangkan usaha”
dengan cara-cara yang luhur dan terpuji.

Seorang teman yang
muslim, mengatakan pada saya bahwa “Survive”
adalah hal yang “wajib” hukumnya, sedangkan
“Grow” merupakan hal yang “sunnah”
(jika dilakukan mendapat manfaat, tidak dilakukan juga tidak masalah). Artinya,
bagi wirausahawan yang telah berhasil survive,
dapat saja meningkatkan usahanya sampai menjadi kaya dan sejahtera. Namun
bagi yang tidak ingin kaya (ternyata banyak juga orang yang tidak berambisi
menjadi kaya raya karena alasan-alasan spiritual dan semacamnya), juga tidak apa-apa
jika membatasi diri di suatu tingkatan tertentu.

Analogi lainnya adalah,
berwirausaha itu bagaikan mengendarai mobil. Yang penting, mobilnya harus bisa
berjalan dan bermanuver lebih dahulu. Tentang kecepatan, mau ngebut atau tidak
terserah masing-masing, karena persoalannya tinggal seberapa dalam kita menginjak
pedal gas.***

Rusman Hakim

Profec’s
Entrepreneurial Leadership Center

Read Full Post »

Vanya2V

Mom of Rhapsody

cerita si nina

here and now, i only have words to tell you!

backpackology.me

An Indonesian travelling family, been to 25+ countries as a family. Author of several travel guide books and travelogue. Write travel articles for media. Strongly support family travelling | travelling with baby/kids. .

phdmamaindonesia

stories of womanhood and ideas for Indonesia

pacarkecilku

"Jika kau punya cerita, bagilah dengan kata-kata. Jika kau punya kerinduan, kenanglah dengan pertemuan"

Macangadungan

Sketchbook , Dreams, Beer, and all other stuffs.

BBC | Blog Belalang Cerewet

semua dicatat agar awet

falafu.wordpress.com/

Tuhan tidak pernah bimbang, selalu seimbang..

Wiwin Hendriani

Berbagi Karya, Berbagi Cerita

YSalma

Jejak Mata dan Pikiran

Fitri Ariyanti's Blog

Mengolah Rasa, Menebar Makna

Oerleebook's Situs

Kumpulan data-data artikel menarik, inovatip, mendidik. dari berbagai sumber

Nata Riawan | Bali Animator Illustrator Graphic Designer

Desain Grafis bukan sekedar Print Art Paper

tarjiem

Jasa Penerjemah Inggris Indonesia

My Idea My Imagination

About me, about my inspiration, about my imagination